Selasa, 26 Agustus 2014

Semua Keputusan Allah itu Baik

Sejak pertama kali aku masuk ma'had setelah menyelesaikan masa pendidikan di SD (Sekolah Dasar), sudah ada saudara yang menemani. Jadi aku sedah tidak merasa asing lagi. Walaupun jarang bertemu, namun hal itu sudah cukup membuatku nyaman di ma'had. Tidak sendirian dinegri orang. Tanpa terasa hari-hari kulalui selama kurang lebih enam tahun.
Dan tiba saatnya aku harus berpisah dengan saudara-saudaraku, karena kami harus melanjutkan perjuangan ditempat yang baru dan berbeda antara yang satu dengan yang lain. Kami berjalan diatas garis taqdir yang Allah tentukan untuk masing-masing. Dan mulai menoreh catatan lembaran sejarah yang baru ditempat yang baru. Di dunia masing-masing. Mulai saat itu sangat terasa perbedaan suasana, kondisi hati, hingga berpengaruh ke berbagai sikapku.
Mungkin ini salah satu bentuk protes kecil yang tak disadari. Juga efek dari jauhnya saudara yang terbiasa dekat. Dari situ aku baru merasakan bahwa berada dinegri orang bisa terasa nyaman jika ada saudara yang menemani.
Hingga tiba saatnya saudaraku menyampaikan impiannya untuk berkelana. Sebenarnya sudah lama keinginannya untuk pergi berkelana. Itu impiannya sejak ia duduk dibangku Tsanawi. Sudah tercatat dibuku hariannya, bahwa ia berencana melanjutkan thalabul ilmi di negri sebrang, nun jauh disana.
 Negri yang hendak dituju inipun bukan  negri yang dekat. Namun, untuk menuju kesana harus menyeberangi lautan yang luas dan membutuhkan perjalanan yang cukup jauh. Sebuah negri yang terletak dibagian selatan Jazirah Arab. Tepatnya terletak disebuah kota yang sudah tidak asing terdengar ditelinga kita. Kota Shan'a namanya. Ya, sebuah kota yang namanya terabadikan dalam sebuah nasheed.  
Sejak mendengar impiannya yang satu ini, kami sangat mendukung kepergiannya. Karena memang sudah hal yang biasa baginya berpisah dari orang tua sejak dia kecil. Diapun mengutarakan niatnya ke beberapa pengajarnya, iapun mendapat respon baik dan ada yang sanggup untuk mengusahakannya.  
**Sudah terbayang dibenak kami, bahwa nanti akan lama berpisah dengannya dan kemungkinan untuk saling bertemu sangat jarang karena ruang tempat yang memisahkan mereka. Wajar, jika hal itu hal yang pertamakali terbayang dibenak kami. Karena yang selama ini kami alami, kami memang saling berpisah tetapi tidak sejauh itu dan kemungkinan bertemu walaupun sebulan sekali masih ada. Sedangkan posisi dia adalah anak lelaki satu-satunya. Selama inipun ia juga jarang berjumpa dengan kami.
 Sejak kecil ia sudah sekolah disebuah pesantren anak-anak. Disaat  kami mengenyam pendidikan sekolah dasar disamping dan dibawah asuhan orangtua. Dia sendiri yang pergi menyendiri di negri orang,dibawah asuhan orang. Namun, ternyata dia menikmati hari-harinya dipesantren dengan penuh sukacita, tak kenal rasa susah, sedih, ataupun risau karena jauh dari orangtua.
Meskipun ia jauh dari orangtua, namun komunikasi dengan kami bisa berjalan lancar. Bahkan dia termasuk anak yang paling dekat dan mendapatkan perlakuan istimewa dari  orangtua daripada kami. Namun, hal itu tidak sampai diluar batas wajar yang menyebabkan iri diantara kami. Karena walau bagaimanapun, orangtua kami tetap menjaga keadilan dalam memperlakukan kami sebagai putra-putrinya. Dan alhamdulillah hingga saat ini komunikasi diantara kami terjaga dengan baik dan tidak ada satu perselisihan apapun.
Padahal mungkin, jika dilihat sekilas kami sering bertengkar jika bertemu, sekan tak pernah berdamai. Ada saja yang membuat kami bertengkar. Namun, justru dari pertengkaran itu kami mengekspresikan kerinduan. Karena memang kami jarang bertemu, dan pernah dalam jangka waktu setahun dua kali berkumpul lengkap dirumah, maka saat itupula kesempatan bagi kami untuk melepas rindu. Namun tak ada satupun kata-kata manis maupun haru yang keluar, yang ada hanyalah canda tawa serta suara yang merubah suasana rumah yang awalnya sepi menjadi ramai. Namun, itulah yang membuat komunikasi diantara kami bisa hidup.

Di momen-momen seperti itulah aku tanpa sadar mendapat motivasi baru, yang menjadi charger untuk menjalani hidupku disini. Yang menguatkan langkahku disaat aku lemah. Seakan ada perjanjian untuk berjuang demi mendapatkan yang terbaik. Walaupun perjanjian itu tidak pernah terlafazh dengan jelas. Namun entah mengapa itulah yang tertanam kuat dalam benakku.**

Sampai pada saat dia duduk di kelas dua di ma’had dan menjalankan amanah sebagai mudabbir, dia masih menyimpan rapi cita-citanya dan mulai mempersiapkan diri untuk berangkat kesana. Dia mengutarakan niatnya secara terang-terangan kepada kami semua, juga ke teman-teman dia yang lain.

Setelah mendekati detik-detik menunggu wisudanya, dan tak lebih dari dua bulan lagi, Allah telah berkehendak untuk menetapkan taqdir yang berbeda dari yang ia rencanakan. Salah seorang dari asatidznya menyarankan agar ia melanjutkan thalabul ilminya di negri sendiri dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Dan menyarankan ke sebuah ma'had yang terletak tak jauh dari rumah kami. Karena bisa ditempuh dengan perjalanan kurang lebih 45 menit. Jauh lebih dekat, jika dibanding dengan ma'had dia saat ini.
Ternyata , Allah masih ingin menyatukan kami semua dinegri ini dan dikota ini. Semoga ini adalah jalan terbaik yang Allah tunjukkan dan putuskan untuk kami semua dan terutama untuk saudaraku. Rupanya Allah tahu bahwa untuk saat ini, belum waktu yang tepat baginya untuk pergi ke tempat yang asing baginya. Bahkan Allah mendekatkan kami dari tempat yang sebelumnya dan kembali menyatukan kami setelah tiga tahun terpisah.
Alhamdulillah, ia bisa menerima hal itu dengan baik tanpa ada rasa kecewa, sedih ataupun yang lain. Memang terkadang tak harus semua yang kita impikan berjalan sesuai dengan rencana. Tapi bukan berarti kita tak boleh berencana. Kita harus tetap merencanakan untuk masa depan kita dengan sebaik-baiknya.
Namun, disaat rencana kita tak sesuai dengan rencana Allah, rencana Allah yang lebih baik untuk kita dan sudah selayaknya kita terima dengan hati yang lapang. Karena hanya Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. 'Asaa an takrahuu syai-an wahuwa khairun lakum, wa 'asaa an tuhibbuu syai-an wahuwa syarrun lakum. Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamuun. Semoga Allah menuntun setiap langkah kita untuk menggapai ridha-Nya.

Dhami-al Ardhi Sahiiqa

Selasa, 19 Agustus 2014



AGAR ALLAH MENYAYANGIKU

Akhwaty.. Ingatkah bahwa wanita pada masa lalu adalah makhluk yang tidak dianggap keberadaannya?? Dan Allah telah mengangkat derajat kita sebagai wanita dengan setinggi-tingginya.  Bagaimana tidak?? Allah sendiri yang menyanjung dan menghormati wanita melalui kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya.
Allah mensyari’atkan hukum-hukum-Nya kepada wanita sebagai bukti penjagaan dan penghormatan tersendiri. Allah juga telah menjanjikan pahala yang sama dengan kaum lelaki. Dan Allah selamanya tak akan menyia-nyiakan pahala seorang wanita selama kita selalu berbuat kebajikan dan mengharap ridha-Nya. Tak selayaknya kita merasa sia-sia dengan apa yang kita usahakan.
Akhwaty.. Sebagai hamba Allah, tak mungkin kita berlepas diri dari berbagai macam kewajiban dan tuntutan. Karena dari sanalah kita menggapai keselamatan hidup dan kemuliaan. Di tangan kitalah Allah takdirkan masa depan ummat ini. Jika kita mau dan berusaha menapaki jalan kemuliaan dan pengorbanan, maka Allah akan menganugrahkan kebahagiaan dan kelapangan hidup.
Akhwaty fid dien.. Usirlah rasa lelah untuk mengabdi di jalan Allah dan menegakkan dien di muka bumi ini. Apapun peran dan kiprah kita. Hendaknya kita menjadi muslimah yang berfisik kuat, mulia akhlaknya, berwawasan luas, giat berusaha, selamat aqidahnya, benar ibadahnya. Juga muslimah yang memiliki mental pejuang sejati, menjaga waktunya, tertib urusannya, mampu membimbing keluarga untuk menghormati fikrahnya dan bermanfaat bagi orang lain.
Akhwaty.. Alangkah baiknya jika kita menjadi orang yang terampil dalam amal jama’i, terutama dimomen-momen keagamaan di lingkungan kita. Menjaga tata krama Islam dalam segenap kehidupan rumah tangga. Dan menjadi pendidik yang pandai mendidik anak-anak dan orang yang berada di bawah  naungan kita dengan ajaran Islam.
Akhwaty fil aqidah.. Sadarkah kita apa tujuan dari itu semua???? Semua karakter tersebut bertujuan untuk sebuah rencana besar dan target perjuangan kita.. yaitu, mengembalikan kemuliaan Islam dan membebaskan negri kaum muslimin dari gelapnya kehinaan dan kegelapan.  Membebaskan ummat dari berbagai kesulitan hidup, dari kekangan ekonomi, dan berjuang untuk memandu dunia dengan menyebarkan Islam ke seantero wilayahnya.
Akhwaty.. Kini saatnya kita membuka mata dan bangun dari tidur yang panjang. Telah habis masa istirahat dan bersantai-santai. Sudah berlalu masa untuk berpangku tangan. Sekaranglah, telah tiba masanya untuk mempersiapkan diri untuk menjadi batu bata yang kuat dalam bangunan Islam yang besar ini. Bagaimanapun caranya, dengan segala apresiasi yang bisa kita berikan untuk din ini, agar kasih sayang-Nya tak pernah redup untuk kita. Wallahu a’lam bish shawab....