Sabtu, 30 November 2013

Cara Belajar yang Tepat


Rahasia para bintang yg penting yakni  ‘MURDER STUDY’  yg bermanfaat mengembangkan  system belajar yg efektif & efisien. Sistem belajar ini dikenal dg MURDER, yg terdiri dari :
                   
  Mood * Understand * Recall * Digest * Expand * Review
Perincian system belajar MURDER ini, yg di adaptasi dr buku  The Complete Problem Solver, oleh Bob Nelson adalah sebagai berikut :
1.Mood ( Suasana Hati )
 
          Ciptakan selalu mood yg positif untuk belajar. Ini bisa dilakukan dg menentukan waktu, lingkungan & sikap belajar yg sesuai dg pribadi mu.
2.Understand ( Pemahaman )
             Tandai informasi bahan belajar yg tidak kamu mengerti dlm satu unit. Fokuskan pd unit tersebut atau melakukan beberapa kelompok latihan untuk unit itu.
3.Recall ( Ulang )
 
             Setelah belajar satu unit, berhentilah & ulang bahan dr unit tersebut dg kata2 yg kamu buat.
4.Digest ( Telaah )
 
              Kembalilah pd unit yg tidak kamu mengerti & pelajari kembali keterangan yg ada. Lihatlah informasi yg terkait pd artikel, buku teks atau sumber lainnya, atau diskusikan dg teman atau guru.
5.Expand ( Kembangkan )
 
               Pada langkah ini, tanyakan 3 persoalan berikut terhadap materi yg telah kamu pelajari :
- Andaikan saya bertemu dg penulis materi tersebut, pertanyaan atau kritik apa yg hendak saya ajukan ?
- Bagaimana saya bisa mengaplikasikan materi tersebut ke dalam hal yg saya sukai ?
- Bagaimana saya bisa membuat informasi ini menjadi menarik & mudah dipahami ?
6.Review ( Pelajari Kembali )
                
Pelajari kembali materi pelajaran yg sudah dipelajari. Ingatlah strategi yg telah membantu kamu mengerti atau mengingat informasi. Jadi, terapkan strategi tersebut untuk cara belajar mu berikutnya.

                                  
 SELAMAT MENCOBA, SUCCES FOR YOU ALL….

                                                                                                                        By :
                                                                                                                      
 Ustadzah Muslimah

Jumat, 29 November 2013

Ilaa Ukhtinaa Al-Habibah



Ingin kami ucapkan beberapa kalimat ini kepadamu, di bawah desingan peluru-peluru musuh, dan gelegar ledakan roket yang telah menjadi hiburan kami. Surat ini juga dari kami yang kini terpaksa meringkuk di balik jeruji besi hanya karena kami menyatakan bahwa "Tuhan Kami Adalah Allah". Surat ini kami tujukan kepadamu Ukhti Muslimah...karena kau adalah permata, kau juga perhiasan mulia yang melengkapi keindahan ajaran Nabi saw. Beberapa kalimat yang tulus keluar dari lubuk hati kami sebagai saudara yang melaju bersama ke arah yang satu. Demi menyelamatkanmu dari cakaran manusia serigala bermuka domba.

Ukhti Muslimah....!!! Kami tidak akan membawa sesuatu yang baru, semoga kau tidak bosan mendengarnya....walau rasanya sudah berkali-kali kami ingatkan bahwa tiada agama manapun yang lebih memuliakan wanita sebagaimana Islam. Jika kau masih tidak percaya, lihatlah pada sejarah .. apa yang dilakukan oleh penghuni zaman jahiliyah terhadap kaummu, bukankah mereka menguburkanmu hidup-hidup hanya karena takut jatuh miskin atau durhaka?

Bukankah engkau adalah yang paling banyak diperjual belikan bagai barang rongsokan sebagai hamba sahaya di zaman kerajaan Romawi ? Bahkan hingga kini..... di suatu zaman yang mereka juluki zaman kebebasan dan kemerdekaan, mereka teruskan tradisi itu, hanya saja,... kini mereka bungkus dengan kata kontes ratu cantik, yang berisi memperlombakan ukuran tubuh terbaik bagi para lelaki hidung belang. Entah apa yang mereka cari, betapa jauh mereka menghinakanmu, betapa buruknya gambaranmu di mata mereka, bagi mereka kau tidak lebih dari sekerat tebu gula segar, yang setelah manis sepah dibuang.... Kemudian belum puas dengan itu mereka masih melolong bahwa Islam menzalimi hak-hak wanita...sungguh sebuah penyesatan dan pendustaan yang nyata.

Ukhti Muslimah....!!! Usaha perbaikan dirimu adalah sebuah cita-cita abadi, dan tujuan yang mulia, serta harapan seluruh arsitek bagi proyek perbaikan umat. Karena mereka tahu, kunci perbaikan umat ini ada pada dirimu, jika dirimu baik...maka baiklah seluruh umat ini. Demi Allah..!!! berpeganglah dengan tali ajaran agama ini, dan laksanakanlah segala perintahnya, Jangan sekali kali kau langgar larangannya, apalagi mempersempit hukum hukumnya, karena semua itu hanya akan lebih mengekang kehidupanmu sendiri, karena tiada keadilan yang lebih luas dari keadilan Islam terhadapmu dan kaummu, jika kau lari dari keadilan Islam, kau hanya akan menemui kezaliman dunia kufur terhadap hak-hak kehidupanmu. Berpeganglah sepertimana Umahatul Mukminin mencontohkannya dalam kehidupan sehari hari mereka, contohilah juga isteri-isteri para sahabat dan kaum muslimin yang telah membuktikan nilai keindahan permatamu.

Ukhti Muslimah...!!! Ketahuilah agama ini bukan hanya di mulut, tetapi ia menuntut adanya amal nyata, laksanakanlah perintah-perintahnya dan jauhilah larangan-larangannya walaupun tanpa kalimat "jangan". Sesungguhnya kamu tidak perlu pengakuan timur dan barat karena kemuliaanmu dan harga dirimu telah ada sejak kau dilahirkan, dan bagi kami wahai ukhti muslimah,.. kau lebih mulia dari sekadar makhluk yang tergoda gemerlapnya dunia dan jeritan pekikan mungkar yang di sifatkan dengan "suara keledai" (Qs. Luqman 19) oleh Sang Maha Pencipta, kami tak rela melihatmu tenggelam dalam tipuan mereka yang selalu ingin menghinakanmu dengan berpura pura memujimu tetapi melucuti pakaian dan menelanjangimu di depan mata jutaan bahkan milyaran manusia di dunia, mereka hanya menginginkan kehormatanmu sama dengan binatang yang sememangya tidak pernah berpakaian, mereka hanya menginginkanmu mencoreng-coreng mukamu dengan polesan-polesan yang merusak wajah alamimu yang indah hasil ciptaan yang Maha Indah, mereka hanya ingin menjadikanmu pemuas nafsu setan-setan jantan berhidung belang. Mereka hanya ingin menjadikanmu bagaikan tong sampah yang hanya diisi dengan benih-benih buruk dan tercela.

Demi Allah kami tidak rela! Karena bagi kami kau sangat berharga, bagi kami kau adalah pelengkap kehidupan duniawi dan ukhrawi, maka besar jualah harapan kami padamu...

Ukhti Muslimah....!!! Seorang muslimah tidak pantas untuk menjadi keranjang sampah yang menampung berbagai budaya hidup dan akhlak yang buruk, apalagi budaya barat dengan berbagai kebiasaannya yang terlihat kotor dan menjijikkan itu. Seorang muslimah harus mandiri dalam memilih cara hidupnya sendiri, tentu semuanya berangkat dari acuan "firman Allah" dan "sabda NabiNya saw" . Seorang Muslimah selalu ingat bahwa dahulu pada suatu hari Rasulullah saw pernah bersabda: "Barangsiapa yang meniru (kebisaaan) suatu kaum, maka ia (termasuk) golongan mereka". Maka ia sangat berhati hati dan kritis dalam menentukan tatacara hidup, berpakaian, dan bermu'amalah.

Ukhti Muslimah....!!! Engkau adalah puncak, kau juga kebanggaan dan kau juga lambang kesucian. Kau menjadi puncak dengan al-qur'an dan kebanggan dengan iman serta lambang kesucian dengan hijabmu dan berpegang pada ajaran agama ini. Lalu mengapa ada lambang kesucian yang malah meniru cara hidup yang najis

Bagi umat ini, ibu adalah madrasah terbaik jika ia benar-benar sudi mempersiapkan dan mengajari serta mendidik generasinya. Kiprah seorang ibu dalam membentuk generasi umat terbaik dan mujahid penyelamat serta pengawal hukum hukum Allah adalah sangat penting. Lihatlah para pahlawan kita, mereka yang telah membuktikan dengan nyata keberanian dan keikhlasan mereka dalam memperjuangkan tegaknya kalimatullah...mereka semua tidak lepas dari sentuhan lembut para ibu yang dengan sabar dan tanpa bosan terus mendidik mereka untuk menjadi mahkota bagi agama ini. Sadarilah...

Kewajiban seorang ibu bukan hanya memilihkan pakaian yang sesuai bagi anaknya, atau memberikan makanan yang terbaik baginya, sungguh tanggung jawab ibu jauh lebih besar dari sekadar itu semua, karena itulah kami sangat memerlukan seorang isteri atau ibu yang bisa mendidik anaknya dengan dien Allah dan sunnah NabiNya saw.

Kami memerlukan wanita yang bisa mengajari anak perempuannya untuk menutup auratnya dan berhijab dengan baik, serta mendidiknya untuk mempunyai sikap malu dan berakhlak mulia. Kami tidak sedikit pun perlu kepada wanita yang hanya bisa mendidik anaknya untuk bertabarruj dan bernyanyi serta menghabiskan waktunya bersama televisi dan film-film yang berisi "binatang-binatang" yang dipuja.

Kami juga tidak perlu kepada wanita yang hanya bisa membiasakan anak perempuannya berpakaian mini sejak kecil, di mata kami wanita seperti itu bukanlah seorang ibu, tetapi ia lebih tepat untuk disebut sebagai racun bagi kehidupan anaknya sendiri, ibu yang seperti itu tidak bertanggung jawab dan ia juga pengkhianat umat dan agama ini serta menz
halimi anaknya sendiri.

Kami memerlukan wanita suci yang bisa mengajari anak-anaknya taat kepada Rabbnya karena melihat ibunya selalu ruku' dan sujud. Kami memerlukan seorang ibu yang bisa memenuhi rumahnya dengan alunan suara al-qur'an bukan alunan suara-suara setan atau namimah serta ghibah yang sangat dibenci oleh Allah dan RasulNya, supaya rumahnya menjadi rumah yang sejuk dan tenang serta bersih dari unsur-unsur najis nyata atau maknawi.

Kami memerlukan wanita yang dapat mengajari anak-anaknya untuk selalu bertekad mencari surga Allah, bukan hanya mengejar kenikmatan harta dunia, kami memerlukan wanita yang bisa mengajari anaknya untuk siap melaksanakan Jihad fi Sabilillah serta menyatakan permusuhannya kepada musuh musuh Allah, dan kami memerlukan wanita yang bisa mengajari anaknya untuk mendapatkan kehidupan abadi di sisi Rabbnya sebagai syahid dalam perjuangan membela firman Allah dan sabda Nabi saw.

Ukhti Muslimah....!!! Kami memerlukan wanita yang selalu mengharap pahala dalam melayani suami, hingga ia selalu taat dan menghiburnya serta tidak pernah sedikit pun ingin melihat wajah murung sedih sang suami. Kami memerlukan wanita yang selalu menjaga dien anak-anaknya sebagaimana ia selalu menjaga kesehatan mereka. Salam hormat dari kami....

Salam hormat dari kami Kepada wanita yang sukses menjaga hubungannya dengan Rabbnya, dan dapat beristiqomah pada diennya, dan mempertahankan hijabnya di tengah badai cercaan lisan mereka yang jahil.

Salam hormat dari kami.....

Kepada wanita yang selalu tegas menjaga dirinya dari berikhtilat dengan lawan jenisnya yang bukan mahrom, dan menjaga dirinya dari pandangan lelaki yang di hatinya masih ada penyakit dan lemah. Salam hormat kepada wanita yang selalu menjaga agar dirinya tidak menjadi pintu masuk bagi dosa dosa dari berbagai jenis perzinaan.

Salam hormat dari kami..... Kepada wanita yang selalu sigap menutupi keindahan tubuh dan wajahnya dengan hijab tetapi selalu memperindah diri di hadapan sang suami tercinta. Ia tahu bagaimana menjaga dirinya dengan tidak bepergian sendiri agar tetap terlihat mulia bahwa ia adalah wanita yang terjaga.


Demi Allah Ukhti ....

Wanita-wanita yang seperti itulah kebanggan umat ini, mereka juga perhiasan masyarakat Islami, karena siapa lagi yang akan menjadi kebanggan itu kalau bukan mereka?

Apakah wanita yang selalu mengumbar aurat lengkap dengan berbagai polesan Tabarruj dan potongan potongan pakaian yang menjijikkan ditambah lagi cara berjalan yang meliuk-liuk bagaikan unta betina itu? Ataukah wanita yang lisannya selalu dibasahi dengan umpatan dan ghibah serta namimah yang keji?

Ataukah wanita yang waktunya habis di pasar-pasar malam dan supermarket atau mal? Kehidupannya hanya untuk melihat harga ini dan harga itu, toh semuanya juga tidak terbeli....bagi kami mereka adalah perusak kesucian Islam, mereka tidak pantas menyandang nama mulia sebagai "muslimah" karena mereka justeru melakukan pembusukan dari dalam.

Ukhti Muslimah...!!! Ingatlah bahwa kehidupan dunia ini hanya sebuah persinggahan, bersiaplah untuk meneruskan perjalanan ke negeri abadi, jangan sampai engkau lena...

Persiapkanlah bekalmu dengan memperbanyak amal sholeh, sebagaimana kau persiapkan dirimu dengan baik jika kau akan berangkat menghadiri pesta penikahan atau bepergian ke tempat teman atau saudaramu, kini kau pasti akan melakukan suatu perjalanan yang tidak dapat kau elakkan lagi, hari dan waktunya pasti datang...lalu apakah engkau telah siap..???? Kau akan melakukan suatu perjalanan yang membawamu hilang dari ingatan seluruh manusia, baik saudara atau sahabat, tetapi sebenarnya kau masih bisa mengabadikan namamu jika kau ingin melakukannya, tirulah apa yang dilakukan oleh Masyitah, atau Asiah (isteri Fir'aun), atau Maryam binti Imran ibu nabi Isa yang mulia, atau A'isyah binti Abu Bakar ra. Yang telah membuktikan kepada dunia akan harga diri seorang wanita serta kejeniusannya.

Lihatlah betapa nama mereka harum dan kekal, namanya pasti kan sampai ke telinga orang terakhir yang terlahir di bumi ini nanti. Sebagai bukti bahwa sang pemilik nama juga sedang hidup kekal bahagia di Jannati Rabbil Alamin.

Tetapi coba bandingkan dengan mereka yang tertipu dengan gemerlap dunia, apalagi ia menjadi terkenal hanya karena ia terlalu berani mengumbar auratnya, atau ia berani memasang tarif yang tinggi untuk harga dirinya, apakah semua itu memberinya manfaat setelah mulutnya dipenuhi dengan tanah di liang kubur? Berhati-hatilah..jangan sampai kau terjerumus pada jurang yang sama, hingga kau akan menyesal di hari yang sudah tiada berguna lagi arti sebuah penyesalan.



( “ Ikhwaanukunna Fillah, Mujahid Fi Sabilillah “ )

“ Kepadamu teman , agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu “
                            




Sabtu, 23 November 2013

Berpikir lalu Bersyukur



- عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ:قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرْ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ.
           Dirwayatkan dari Nu’man bin basyir, beliau berkata: Rasulullah saw bersabda:”Barang  siapa yang belum bersyukur dengan hal yang sedikit, maka ia belum bersyukur terhadap hal yang lebih banyak, dan barang siapa yang belum berterimakasih terhadap sesamanya, maka ia belum bersyukur atas ni’mat Allah, meninggalkan syukur itu kufur, berjama’ah merupakan kasih sayang, berpecah belah merupakan musibah.”

 Banyak dijumpai kata-kata syukur. Namun, sudahkah kita bisa bersyukur disetiap waktu dan keadaan dalam kesehaarian kita? Memang hal tersebut sangat mudah diucapkan oleh mulut. Tapi  terkadang menbutuhkan proses dan perjuangan yang besar untuk meralisasikan dalam kehidupan kita.
Syukur adalah Memuji Sang Pemberi Ni’mat atas kebaikan yang telah dikaruniakan kepada kita. Atinya ingatlah ni’mat yang Allah anugerahkan kepada kita lalu syukuri. Karena Allah telah menyempurnakan ni’matnya kepada kita. Baik secara zhahir maupun bathin. Berawal dari ni’mat hidayah terjadilah ni’mat keamanan, ketenangan, lenyapnya semua kesulitan, ampunan, rahmat, berkah, kemudahan, dan rizki yang luas.
Akhwat mu’minat ….
Apakah Anda mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang sepele, sedang kaki terkadang menjadi bengkak bila digunakan jalan terus menerus tiada henti? Apakah Anda mengira bahwa berdiri tegak di atas kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedang keduanya bisa saja tidak kuat dan suatu ketika patah? Namun, begitulah manusia. Terkadang masih merasa suntuk walaupun masih mempunyai tubuh yang sehat, masih mempunyai setguk air untuk diminum, masih bisa bernafas dengan bebas, dan yang paling penting yaitu masih dianugrahi ni’mat terbesar yaitu Islam dan Iman.
 وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً -٢٠-
dan Menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. (QS. Luqman: 20)   
  Coba pikirkan Setiap ni’mat yang anda terima dari-Nya lalu syukurilah. Anda terkadang memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga Andapun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa Anda mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya Anda masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagian, karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan kemudian syukurilah!

Senin, 18 November 2013

METODE PENAFSIRAN



Oleh: Ibnatu Muslim El_Ula
       I.            PENDAHULUAN

Sudah 14 abad silam Allah mewahyukan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW sebagai pegangan hidup manusia di sepanjang masa. Dan  Rasulullah pun membacakan dan menjelaskan tafsirnya kepada para shahabat.
Al-Qur’an pun diturunkan secara berangsur-angsur sehingga para shahabat sangat memahami ma’na serta kandungan isi Al-Qur’an. Karena, jika diantara para shahabat ada yang tidak memahami, mereka langsung menanyakan kepada Rasulullah.        
Sehingga tidaklah mustahil jika para shahabat adalah orang-orang yang sangat memahami seluk beluk Al-Qur’an. Karena mereka menyaksikan proses turunnya Al-Qur’an, ditengah-tengah mereka, dan Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka yaitu bahasa Arab. Sehingga mereka sangat faham tentang uslub-uslub, asbabun nuzul, ayat-ayat yang nasikh dan mansukh, ayat yang bersifat umum dan khusus, juga tentang istinbath hukum dan sebagainya dengan pemahaman yang mendalam.[1]
Namun, seiring berjalnnya waktu, dan menyebarnya Islam ke berbagai belahan bumi, maka banyak terjadi banyak perbedaan dalam cara memahami Al-Qur’an. Dari sinilah awal mula terjadinya berbagai metode penafsiran. Sebenarnya didalam berbagai bentuk penafsiran yang ditempuh oleh para ulama’ mufassiriin, tidak lepas dari dua jenis ini yaitu:
1.      Tafsir bil-ma’tsur
2.      Tafsir bir-ra’yi[2]
Dari dua jenis tafsir tersebut perlu kita ketahui perbedaan diantara keduanya serta bagaimana sikap kita yang benar terhadap kedua bentuk tafsir ini. Karena dari dua bentuk tafsir ada yang mahmud dan ada juga yang madzmum. Untuk mengetahui hal tersebut, perlu kita pelajari lebih lanjut agar jelas bagi kita langkah-langkah yang ditempuh para mufassiriin tersebut.     




    II.            LANDASAN TEORI

Allah telah menurunkan Al-Qur’an dengan tujuan agar manusia berfikir dan merenungi isi pesan-pesan yang terkandung didalam Al-Qur’an tersebut. Allah telah berfiman dalam Al-Qur’an:
 كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
“Kitab (al-Quran) yang Kami Turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”[3]
Hal tersebut dikuatkan oleh firman Allah yang lain:
بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“(mereka Kami Utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami Turunkan adz-dzikr (al-Quran) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.”[4]
Telah menjadi sunnatullah bahwa Ia mengutus setiap rasul dengan bahasa kaumnya. Yang demikian itu agar komunikasi diantara mereka berjalan dengan sempurna. Kitab yang diturunkan kepada Rasulullah juga dengan bahasa kaumnya. Maka Al-Qur’an juga diturunkan dengan bahasa Arab.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَي ضِلُّ اللّهُ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. Maka Allah Menyesatkan siapa yang Dia Kehendaki, dan Memberi petunjuk kepada siapa yang Dia Kehendaki. Dia Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”[5]
Hal ini dikuatkan dengan fiman Allah yang lain:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ-
“Sesungguhnya Kami Menurunkannya berupa Quran berbahasa Arab, agar kamu mengerti.”[6]

Dan dalam menerangkan Al-Qur’an ini haruslah hati-hati, tidak boleh hanya rasionya sendiri tanpa ada dasar yang shahih. Sebagaimana sabda Rasulullah:
من قال في القرءان برأيه –أو بما لا يعلم- فاليتبوأ مقعده من النار
Barangsiapa berkata tentang Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, atau menurut apa yang tidak diketahuinya, hendaknya ia menempati tempat duduknya di neraka.”[7]

  PEMBAHASAN
Dari zaman sampai sekarang terjadi banyak perbedaan dalam menafsirkan Al-Qur’an. Karena mereka beraneka ragam dalam memahami Al-Qur’an.[8]Dalam menafsirkan Al-Qur’an diantara para ulama’ ada dua langkah yang ditempuh, yaitu tafsir bil-ma’tsur dan tafsir bir-ra’yi. Masing-masing mempunyai kelebihan dan keunggulan. berikut:
1.      Tafsir bil-ma’tsur
Metode penafsiaran ini berdasrkan pada Al-Qur’an atau riwayat yang shahih.Yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, atau dengan AS-Sunnah, atau dengan perkataan para shahabat, karena tidak ada yang lebih faham tentang Al-Qur’an selain para shahabat, atau dari pendapat tokoh-tokoh besar tabi’in. Tafsir ini disebut juga dengan “Tafsir bir-riwayah”.[9]
Definisi Tafsir bil-Ma’tsur
Dengan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa tafsir bil-ma’tsur adalah, tafsir yang bersandar pada hadits-hadits shahih dan atsar-atsar yang tercantum dalam Al-Qur’an yang menyebutnya. Dan tidak boleh berijtihad dalam menjelaskan ma’na-ma’nanya tanpa ada dasar, dan meninggalkan hal-hal yang tidak berguna untuk diketahui selama tidak ada dari riwayat shahih yang mengenainya.[10]
Para shahabat dahulu, mereka mempelajari  Al-Qur’an sekaligus ilmu dan pengamalannya. Sehingga Ibnu Umar memerlukan waktu delapan tahun untuk menghafal surat Al-Baqarah.  Anas berkta tentang hal ini,” jika seseorang telah membaca Al-Baqarah dan Ali Imran, maka telah mulia dalam pandangan kami.”[11]
Asal Rujukan (Mashadir) tafsir bil-ma’tsur
Asal rujukan dalam tafsir ini disebut juga dengan thuruqut tafsir (metode penafsiran). Yaitu sumber yang dijadikan sandaran dalam tafsir bil-ma’tsur. Diantara hal-hal yang dijadikan rujukan atau sandaran adalah sebagai berikut:
1.      Al-Qur’an.
Yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan melihat ayat lain dalam Al-Qur’an pada tema yang sama. Hal ini sangat baik, karena satu bab akan dijelaskan pada bab yang lain. Inilah yang diebut tafsir Qur’’an bil-Qur’an.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Metode penafsiran yang paling tepat adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Seuatu yang global telah ditafsirkan pada bab yang lain. Dan maudhu’ yang ringkas akan dirinci pada maudhu’ yang lain.” [12]
2.      As-Sunnah An-Nabawiyah
Para Ulama’ berikhtilaf dalam jumlah ayat dari Al-Qur’an yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW, tetapi seyogyanya perlu diketahui bahwa para perusak telah memalsukan hadits-hadits  Rasulullah SAW dan menyandarkan kepada beliau. Maka seharusnya setiap riwayat itu diteliti dan dipastikan terlebih dahulu tentang keshahihannya. Tetapi Allah telah menjaga Al-Qur’an melalui tangan para hamba-Nya dari golongan Ulama’. [13] sebagai realisasi dari firman Allah:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang Menurunkan al-Quran, dan pasti Kami (pula) yang Memeliharanya.”[14]
Imam Ahmad rahimahullahu Ta’ala berkata,”  As-Sunnah itu menafsirkan Al-Qur’an dan menjelaskannya.”
3.      Tafsir Ash-Shahabat
Tafsir Ash-Shahabiy yaitu tafsir berdasarkan riwayat yang shahih dari shahabat radhiyallahu ‘anhum.
Al-Hakim berkata, “ Sesungguhnya tafsir para shahabat ini adalah yang menyaksikan prooses turunnya wahyu dan hukum yang marfu’ diturunkan kepada mereka.”
Menurut pandangan Al-Hakim dan yang lain, sesungguhnya para shahabat ridhwanullahu ‘alaihim adalah menyaksikan proses turunnya wahyu, mengetahui asbabun nuzul, tidak ada yang menghalangi pemahaman mereka dari ma’na-ma’na yang terkandung dalam Al-Qur’an, mempunyai fithrah yang lurus, jiwa-jiwa yang suci, keluhuran yang tinggi dalam kefashihan dan penjelasan, bersandar pada pemahaman yang shahih terhadap Kitabullah, dan apa saja yang meyakinkan para shahabat dengan tujuan diturunkan Al-Qur’an dan petunjuk yang terkandung didalamnya.[15]  
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Terkadang jika tidak mendapati tafsir dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka meruju’ kepada perkataan para shahabat. Karena sesungguhnya mereka mengetahui hal itu, menyaksikan di zamannya serta keadaan yang dikhususkan kepada mereka, mereka memiliki pemahaman yang sempurna serta ilmu yang shahih. Terlebih para ulama’ dan pemuka-pemukanya.”[16]
4.      Tafsir Tabi’ien
Kalau dikalangan shahabat banyak yang dikenal pakar dalam bidang tafsir, maka para tabi’in yang menjadi murid mereka pun banyak pakar dibidang tafsir. Dalam menafsirkan para tabi’in berpegang teguh dan mengikuti jejak langkah pendahulunya disamping ijtihad dan dan pertimbangan nalar mereka sendiri.[17]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “ Jika tidak  mendapati penafsiran dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan para shahabatfs, maka kebanyakan ulama’ meruju’ kepada perkataan  tabi’in dan orang-orang yang mengikuti jejak langkahnya sepeninggal mereka.”[18]

Macam-macam Tafsir bil-Ma’tsur
1.      Tafsir yang berasal dari dalil-dalil shahih dan dapat diterima.[19]
2.      Tafsir yang berasal dari dali-dalil yang belum pasti keshahihannya dan belum tentu dapat diterima. Tafsir semacam ini tidak boleh diterima begitu saja, namun harus melalui proses penyaringan dan tabayyun dari kesesatan riwayat tersebut sampai faham semua periwayatan.
Kelebihan tafsir bil-ma’tsur
Tafsir ini memiliki kelebihan yang tidak dimiliki tafsir-tafsir lain, yaitu karena tafsir ini adalah penjelesan dari Allah, dan Allah lah yang lebih tahu tentang ma’na yang terkandung dalam Al-Qur’an. Dan terkadang ada pula penjelaasan dari Rasulullah, dan tidak ada penjelasan yang lebih baik selain beliau, karena Rasulullah memang diutus untuk menjelaskan Kalamullah.
Ada kalanya tafsir ini berasal dari perkataan para shahabat, karena merekalah yang menyaksikan proses turunnya wahyu secara langsung, paling faham bahasa Arab serta mengetahui kondisi dan keadaan saat turunnya wahyu. Tapi, perlu diketahui bahwa syarat dari tafsir ini adalah mengetahui shahihnya sanad tersebut dari Rasulullah.[20]
Hukum Tafsir bil-Ma’tsur
Hukum tafsir bil-Ma’tsur adalah wajib diikuti dan diambil sebagai pijakan berhukum pada Kitabulllah.
Kitab-kitab Tafsir bil-Ma’tsur
Ada beberapa kitab Tafsir bil-Ma’tsur yang sampai kepada kita di zaman sekarang. Diantara kitab-kitab tersebut adalah:
1.      Tafsir yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas
2.      Tafsir Ibnu Uyainah
3.      Tafsir Ibnu Abi hatim
4.      Tafsir Abu Asy-Syaikh bin Hibban
5.      Tafsir Ibnu Athiyah
6.      Tafsir Abu Al-Laitsi As-Samarqandi, Bahrul ‘Ulum
7.      Tafsir Abu Ishaq, Al-Kasyfu wal Bayan ‘an Tafsir Al-Qur’an
8.      Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabariy, Jami’ul Bayan fi Tafsir Al-Qur’an
9.      Tafsir Ibnu Abi Syaibah
10.  Tafsir Al-Baghowiy, Ma’allim At-Tanziil
11.  Tafsir Abil Fida’ Al-Hafizh Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim
12.  Tafsir Ats-Tsa’labiy, Al-Jawahir Al-Hisan fi Tafsir Al-Qur’an
13.  Tafsir Jalauddien As-Suyuthiy, Ad-Dur Al-Manshur fi At-Tafsir bi Al-Ma’tsur
14.  Tafsir Asy-Syaukaaniy, Fathul Qadir[21]

2.      Tafsir bir-Ra’yi
Yang dimaksud dengan ra’yi dalam metode penafsiran ini adalah ijtihad. Maka jika ijtihadnya muwaffiq, atau disandarkan kepada orang yang jadikan sandaran, serta jauh dari kebodahan dan kesesatan maka menafsirkan dengan cara seperti ini adalah Mahmud. Namun jika tidak menggunakan cara tersebut, maka tafsirnya madzmum. Tafsir ini disebut juga dengan “Tafsir bid-Dirayah”.[22]

Definisi Tafsir bir-Ra’yi
Dari pemaparan diatas, bias kita ketahui bahwa Tafsir bir-Ra’yi adalah tafsir yang menjelaskan ma’nanya atau maksudnya, mufassir hanya pemahamannya sendiri, pengambilan kesimpulan (istinbath) pun didasarkan pada logikanya.[23]

Para mufassir telah mengerahkan kemampuannya dan banyak syarat yang harus ditempuh para mufassir agar tafsirnya termasuk dalam criteria Mahmud. Sedangkan para shahibul hawa tidak memperhatikan syarat-syarat dalam menafsirkan Al-Qur’an sehingga tafsir yang dihasilkanpun tafsir yang madzmum.[24]

Macam-macam Tafsir bir-Ra’yi

Berdasarkan pembagiannya Tafsir bir-Ra’yi ini mempunyai dua macam:
1.      Tafsir bir-Ra’yi Mahmud
Tafsir bir-Ra’yi Mahmud ini adalah hasil jerih payah para ulama’ yang telah mengerahkan segala kesungguhan dan kemampuan dalam memahami nash-nash Al-Qur’an dan menyimpulkan ma’nanya secara bahasa, nash dan dalil-dalil syar’i.[25]

Tafsir ini bersandar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan penulis tafsir bir-Ra’yi ini sangat menguasai bahasa Arab beserta uslub-uslubnya, dan menguasai Qawa-id Asy-Syar’iyah beserta ushul-ushulnya.[26]

Hukum Tafsir bir-Ra’yi Mahmud ini adalah dibolehkan oleh para ulama’.
2.      Tafsir bir-Ra’yi Madzmum
Tafsir bir-Ra’yi yang madzmum adalah tafsir yang didalam menjelaskan ma’nanya hanya berpegang pada pemahamannya sendiri, pengambilan hukum( istinbath) pun didasarkan pada pemahamannya semata. Kategori pemahaman seperti ini tidak sesuai dengan ruh syari’at yang didasrkan pada nash-nashnya. Karena rasio semata yang tidak disertai bukti-bukti akan berakibat pada penyimpangan terhadap Kitabullah.[27]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,” Sesungguhnya tafsir seperti itu menyandarkan pada rasionya kemudian mengambil lafazh-lafazh Al-Qur’an untuk menguatkan pendapat mereka, mereka bukan dari kalangan salaf baik shahabat maupun tabi’ien yang baik, dan juga bukan dari kalangan a-immatil mufassirin yang bias diikuti pendapatnya maupun tafsirnya.”[28]

Hukum mengamalkan Tafsir bir-ra’yi madzmum semacam ini adalah haram dan tidak dibenarkan. Syaihul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,” Menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan rasionya semata adalah haram.”[29]

Asal Rujukan (Mashadir) dalam Tafsir bir-Ra’yi

Perlu kita ketahui bahwa para mufassir harus mengetahui banyak ilmu sehingga tafsir yang dihasilkan menjadi tafsir bir-ra’yi yang Mahmud.
           

Mashadir yang dijadikan sandaran diantaranya:
1.      Merujuk kepada al-Qur’an.
2.      Menukil dari hadits Rasulullah
3.      Mengambil dari perkataan shahabat
4.      Menafsirkan secara bahasa dengan mutlaq
5.      Menafsirkan dengan sesuai dengan ma’na kalam dan menunjukkan Qanun Syar’i.
Ilmu yang Diperlukan Oleh Mufassir[30]
Ulama’ memberikan syarat kepada para mufassir agar memilki berbagai ilmu terlabih dahulu sebelum menafsirkan Al-Qur’an. Ilmu-ilmu yang haarus dikuasai diantaranya adalah:
1.         Ilmu Bahasa
2.         Ilmu Nahwu
3.         Ilmu Sharaf
4.         Ilmu Isytiqaq
5.         Ilmu Balaghah Al-Ma’aniy
6.         Ilmu Balaghah Al-Bayan
7.         Ilmu Balaghah Al- Badi’
8.         Ilmu Al-Qira’at
9.         Ilmu Ushulud Dien
10.     Ilmu Asbabun Nuzul
11.     Ilmu Qashash
12.     Ilmu Nasikh wal Mansukh
13.     Kejadian-kejadian yang pasti seputar tafsir
14.     Ilmu Al-Mauhuubah

Contoh Kitab-kitab Tafsir bir-Ra’yi

Perpustakaan Islam banyak dipenuhi kitab-kitab tafsir. Dan kitab-kitab tafsir bir-Ra’yi yang ada diantaranya adalah:
1.             Tafsir Abdurrahman bin Kaisan Al-Asham
2.             Tafsir Abu Ali Al-Jubba’i
3.             Tafsir Abdul Jabbar
4.             Tafsir Az-Zamakhsyariy, Al-Kasysyaf ‘an Haqaiq Ghawamidh At-Tanziil wa ‘Uyun Al-Aqawil fi Wujuh At-Ta’wil
5.             Tafsir Fakhruddien Ar-Raziy, Mafatihul Ghoib
6.             Tafsir Ibnu Fauroq
7.             Tafsir An-Nasafiy, Madarik At-tanzil wa Haqaiq At-Ta’wil
8.             Tafsir Al-Khazin, Lubab At-Ta’wil fi Ma’ani At-Tanzil
9.             Tafsir Abu Hayyan, Al-BAhru Al-Muhith
10.          Tafsir Al-Baidhawi, Anwar At-Tanzil wa Asrar At-Ta’wil
11.          Tafsir Al-Jalalain, Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi
12.          Tafsir Al-Qurthubiy, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an
13.          Tafsir Abu As-Su’ud , Irsyad Al-‘Aqli As-Salim ilaa Mazaya Kitab Al-Karim
14.          Tafsir Al-Alusi, Ruh Al-Ma’aniy fi Tafsir Al-Qur’an Azhim wa Sab’il Matsani.[31]

  IV.            PENUTUP
Demikian yang telah kami paparkan, semoga dengan mengetahui perbedaan diantara kedua bentuk tafsir dengan harapan kita bisa membedakan antara kedua jenis tatacara paenafsiran Al-Qur’an tersebut bisa mengetahui tatacara penafsiran Al-Qur’an yang benar dan sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah. Wallahu a’lam bish-Showab….


REFERENSI:
1.      Al-Qur’an Al-Karim
2.      Muqaddimah Fie Ushulit Tafsir, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
3.      Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, Abdurrahman bin Qasim wa Ibnuhu
4.      Pengantar Studi Al-Qur’an, Syaikh Manna’ Al-Qaththan
5.      At-Tafsir wal Mufassiruun, DR. Muhammad Husain Adz-Dzahabiy
6.      Manahilul ‘irfan fi Ulumil Qur’an, Muhammad Abdul ‘Azhim Az-Zarqoniy
7.      Buhuts fie ushulTafsiir wa Manaahijuhu, DR. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman Ar-Ruumiy


[1] Buhuts fi Ushul Tafsir wa Manahijuhu, DR. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman Ar-Ruumiy hal.70
[2] Buhuts fi Ushul Tafsir wa Manahijuhu, DR. Fahd bin Abduurahman bin Sulaiman Ar-Ruumiy hal.71
[3] Shad: 29
[4] An-Nahl:44
[5] Ibrahim:4
[6] Yusuf: 2
[7] HR. At-Tirmidzi, dan Abu Dawud. Menurut At-Tirmidzi hadits ini hasan.
[8] Buhuts fie Ushul tafsir wa Manahijuhu DR. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman Ar-Ruumiy, hal.73
[9] Manahilul ‘irfan fi Ulumil Qur’an, Muhammad Abdul ‘Azhim Az-Zarqoniy, hal.270
[10] Mabahits fi Ulumil Qur’an, Syaikh Manna’ Al-Qaaththan hal.347
[11] HR. Ahmad dalam Musnadnya
[12]Buhuts fie Ushul Tafsir Manhijuhu, DR. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman Ar-Ruumiy hal.74
[13] Ibid hal.75-76
[15] Manahilul ‘Irfan fie Uluumil Qur’an Mumammad Abdul Azhim Az-Zarqooniy hal.272
[16] Buhuts fie Ushul tafsir wa Manahijuhu DR. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman Ar-Ruumiy, hal.77
[17] Pengantar Studi Al-Qur’an, Syaikh Manna’ul Qaththan hal. 425
[18] Muqaddimah fie Ushulut Tafsir Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah hal.103-104
[19] Buhuts fie Ushul tafsir wa Manahijuhu DR. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman Ar-Ruumiy, hal.72
[20]Buhuts fie ushulTafsiir wa Manaahijuhu, DR. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman Ar-Ruumiy hal.72
[21] Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an Syaikh Manna’ Al-Qaththan hal.449
[22] Manahilul ‘irfan fi Ulumil Qur’an, Muhammad Abdul ‘Azhim Az-Zarqoniy, hal.270
[23] Pengantar Studi Al-Qur’an, Syaikh Manna’ul Qaththan hal. 440
[24] Buhuts fie ushulTafsiir wa Manaahijuhu, DR. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman Ar-Ruumiy hal. 78
[25] Buhuts fie ushulTafsiir wa Manaahijuhu, DR. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman Ar-Ruumiy hal. 79
[26] Ibid, hal.79
[27] Pengantar Studi Al-Qur’an, Syaikh Manna’ Al-Qaththan hal. 440
[28] Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, Abdurrahman bin Qasim wa Ibnuhu jil.13 hal. 358
[29] Muqaddimah fie Ushul Tafsir, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 105
[30] At-Tafsir wal Mufassiruun, DR. Muhammad Husain Adz-Dzahabiy hal. 231
[31] Pengantar Studi Al-Qur’an Syaikh Manna’ Al-Qaththan hal. 57