Semua Keputusan
Allah itu Baik
Sejak pertama
kali aku masuk ma'had setelah menyelesaikan masa pendidikan di SD (Sekolah
Dasar), sudah ada saudara yang menemani. Jadi aku sedah tidak merasa asing
lagi. Walaupun jarang bertemu, namun hal itu sudah cukup membuatku nyaman di
ma'had. Tidak sendirian dinegri orang. Tanpa terasa hari-hari kulalui selama
kurang lebih enam tahun.
Dan tiba
saatnya aku harus berpisah dengan saudara-saudaraku, karena kami harus
melanjutkan perjuangan ditempat yang baru dan berbeda antara yang satu dengan
yang lain. Kami berjalan diatas garis taqdir yang Allah tentukan untuk
masing-masing. Dan mulai menoreh catatan lembaran sejarah yang baru ditempat
yang baru. Di dunia masing-masing. Mulai saat itu sangat terasa perbedaan
suasana, kondisi hati, hingga berpengaruh ke berbagai sikapku.
Mungkin ini
salah satu bentuk protes kecil yang tak disadari. Juga efek dari jauhnya
saudara yang terbiasa dekat. Dari situ aku baru merasakan bahwa berada dinegri
orang bisa terasa nyaman jika ada saudara yang menemani.
Hingga tiba
saatnya saudaraku menyampaikan impiannya untuk berkelana. Sebenarnya sudah lama
keinginannya untuk pergi berkelana. Itu impiannya sejak ia duduk dibangku Tsanawi.
Sudah tercatat dibuku hariannya, bahwa ia berencana melanjutkan thalabul ilmi
di negri sebrang, nun jauh disana.
Negri yang hendak dituju inipun bukan negri yang dekat. Namun, untuk menuju kesana
harus menyeberangi lautan yang luas dan membutuhkan perjalanan yang cukup jauh.
Sebuah negri yang terletak dibagian selatan Jazirah Arab. Tepatnya terletak
disebuah kota yang sudah tidak asing terdengar ditelinga kita. Kota Shan'a
namanya. Ya, sebuah kota yang namanya terabadikan dalam sebuah nasheed.
Sejak mendengar
impiannya yang satu ini, kami sangat mendukung kepergiannya. Karena memang
sudah hal yang biasa baginya berpisah dari orang tua sejak dia kecil. Diapun
mengutarakan niatnya ke beberapa pengajarnya, iapun mendapat respon baik dan
ada yang sanggup untuk mengusahakannya.
**Sudah
terbayang dibenak kami, bahwa nanti akan lama berpisah dengannya dan
kemungkinan untuk saling bertemu sangat jarang karena ruang tempat yang
memisahkan mereka. Wajar, jika hal itu hal yang pertamakali terbayang dibenak
kami. Karena yang selama ini kami alami, kami memang saling berpisah tetapi
tidak sejauh itu dan kemungkinan bertemu walaupun sebulan sekali masih ada.
Sedangkan posisi dia adalah anak lelaki satu-satunya. Selama inipun ia juga
jarang berjumpa dengan kami.
Sejak kecil ia sudah sekolah disebuah
pesantren anak-anak. Disaat kami
mengenyam pendidikan sekolah dasar disamping dan dibawah asuhan orangtua. Dia
sendiri yang pergi menyendiri di negri orang,dibawah asuhan orang. Namun,
ternyata dia menikmati hari-harinya dipesantren dengan penuh sukacita, tak
kenal rasa susah, sedih, ataupun risau karena jauh dari orangtua.
Meskipun ia
jauh dari orangtua, namun komunikasi dengan kami bisa berjalan lancar. Bahkan
dia termasuk anak yang paling dekat dan mendapatkan perlakuan istimewa
dari orangtua daripada kami. Namun, hal
itu tidak sampai diluar batas wajar yang menyebabkan iri diantara kami. Karena
walau bagaimanapun, orangtua kami tetap menjaga keadilan dalam memperlakukan kami
sebagai putra-putrinya. Dan alhamdulillah hingga saat ini komunikasi diantara
kami terjaga dengan baik dan tidak ada satu perselisihan apapun.
Padahal
mungkin, jika dilihat sekilas kami sering bertengkar jika bertemu, sekan tak
pernah berdamai. Ada saja yang membuat kami bertengkar. Namun, justru dari
pertengkaran itu kami mengekspresikan kerinduan. Karena memang kami jarang
bertemu, dan pernah dalam jangka waktu setahun dua kali berkumpul lengkap
dirumah, maka saat itupula kesempatan bagi kami untuk melepas rindu. Namun tak
ada satupun kata-kata manis maupun haru yang keluar, yang ada hanyalah canda
tawa serta suara yang merubah suasana rumah yang awalnya sepi menjadi ramai.
Namun, itulah yang membuat komunikasi diantara kami bisa hidup.
Di momen-momen
seperti itulah aku tanpa sadar mendapat motivasi baru, yang menjadi charger
untuk menjalani hidupku disini. Yang menguatkan langkahku disaat aku lemah.
Seakan ada perjanjian untuk berjuang demi mendapatkan yang terbaik. Walaupun
perjanjian itu tidak pernah terlafazh dengan jelas. Namun entah mengapa itulah
yang tertanam kuat dalam benakku.**
Sampai pada
saat dia duduk di kelas dua di ma’had dan menjalankan amanah sebagai mudabbir,
dia masih menyimpan rapi cita-citanya dan mulai mempersiapkan diri untuk
berangkat kesana. Dia mengutarakan niatnya secara terang-terangan kepada kami
semua, juga ke teman-teman dia yang lain.
Setelah
mendekati detik-detik menunggu wisudanya, dan tak lebih dari dua bulan lagi,
Allah telah berkehendak untuk menetapkan taqdir yang berbeda dari yang ia
rencanakan. Salah seorang dari asatidznya menyarankan agar ia melanjutkan
thalabul ilminya di negri sendiri dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Dan
menyarankan ke sebuah ma'had yang terletak tak jauh dari rumah kami. Karena
bisa ditempuh dengan perjalanan kurang lebih 45 menit. Jauh lebih dekat, jika
dibanding dengan ma'had dia saat ini.
Ternyata ,
Allah masih ingin menyatukan kami semua dinegri ini dan dikota ini. Semoga ini
adalah jalan terbaik yang Allah tunjukkan dan putuskan untuk kami semua dan
terutama untuk saudaraku. Rupanya Allah tahu bahwa untuk saat ini, belum waktu
yang tepat baginya untuk pergi ke tempat yang asing baginya. Bahkan Allah
mendekatkan kami dari tempat yang sebelumnya dan kembali menyatukan kami
setelah tiga tahun terpisah.
Alhamdulillah,
ia bisa menerima hal itu dengan baik tanpa ada rasa kecewa, sedih ataupun yang
lain. Memang terkadang tak harus semua yang kita impikan berjalan sesuai dengan
rencana. Tapi bukan berarti kita tak boleh berencana. Kita harus tetap
merencanakan untuk masa depan kita dengan sebaik-baiknya.
Namun, disaat
rencana kita tak sesuai dengan rencana Allah, rencana Allah yang lebih baik
untuk kita dan sudah selayaknya kita terima dengan hati yang lapang. Karena
hanya Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. 'Asaa an
takrahuu syai-an wahuwa khairun lakum, wa 'asaa an tuhibbuu syai-an wahuwa
syarrun lakum. Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamuun. Semoga Allah menuntun
setiap langkah kita untuk menggapai ridha-Nya.
Dhami-al Ardhi Sahiiqa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar