Jumat, 28 Maret 2014

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy



Ibnu Hajar adalah sosok ulama yang luar biasa ketakwaan, keilmuan, kewaraan dan ketinggian budi pekertinya. Tidak menutup kemungkinan bagi seoarang anak yatim piatu seperti beliau mampu mengubah nasib dirinya dan mengangkat derajatnya dengan kemuliaan ilmu yang lurus dan akhlaq yang mulia. Dengan izin Allah, beliau mampu mengukir sejarah emas dalam hidupnya sehingga namanya masih hidup dan ilmunya masih bermanfaat hingga saat ini.
Nama beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Nama kunyahnya adalah Abu Al-Fadhl dan dijuluki dengan Syihabuddien, terkenal dengan sebutan Ibnu Hajar. Beliau adalah seorang hafizh, ketua qadhi, ahli hadits, sejarawan, dan termasuk salah satu fuqaha dari madzhab Asy-Syafii.
Beliau lahir pada tanggal 12 Syaban 773 H, bertepatan dengan 18 Februari 1372 M di Kairo Mesir. Ayahnya meninggal pada tahun 777 H saat Ibnu Hajar berusia 4 tahun. Ayahnya adalah seorang pengajar dan ahli fatwa. Dan ibunya meninggal sebelum ayahnya. Sebelum meninggal ayahnya berwasiat kepada anak tertuanya Abu Bakar Al-Kharubiy untuk membantu  dan menanggung adik-adiknya.
Beliau hidup dibawah asuhan  Zakiy Al-Kharubiy seorang saudagar kaya. Beliau menyertai AL-Kharubiy ketika ia pergi ke Makkah dan tinggal disana. Al-Karubiy memasukkan Ibnu Hajar ke Al-Maktab (sebuah sekolah untuk menghafal Al-Quran) ketika berusia 5 tahun.
Salah seorang gurunya ialah Syamsuddien bin Al-Alaf seorang gubernur Mesir pada masa itu dan Syamsuddien Al-Athrusiy. Namun, sayangnya Ibnu Hajar belum berhasil menghafalkan Al-Quran kepada mereka. Sampai  pada suatu hari ia di ajar oleh seorang pengajar sejatinya yaitu pensyarh kitab Al-Mukhtashar Attabriziy Shadruddien Muhammad bin Muhammad bin Abdur-Razaq As-Safthi Al-Muqri. Dengan gurunya ini ia mampu menghafal dengan sempurna pada usia 9 tahun.
Ketika Ibnu Hajar berusia 12 tahun, ditunjuk untuk menjadi Imam shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H. Pada tahun 786 Ibnu Hajar menyertai Al-Kharubiy pindah ke Mesir dan tinggal disana.
Ketika di Mesir, Ibnu Hajar benar-benar berusaha dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Beliau menghafalkan beberapa kitab ringkasan seperti Umdatul Ahkam, Al-Hariy Ash-Shaghir karya Al-Qazwainiy, Mukhtashar Ibnu Hajib fiel Ushul, Mulhah Al-Irab karya Al-Haririy, Minhajul Wushul karya Al-Baidhawi, Alfiyah Al-Hadits karya Al-Iraqiy, Alfiyah Ibnu Malik dalam ilmu Nahwu, dan At-Tanbih fi Furu Asy-Syafiiyah karya Asy-Syirazi dan yang lain.
Ketika Ibnu Hajar serius menulis dan mendengarkan hadits dengan seksama gurunya menasehati agar beliau belajar hadits juga belajar fiqh, karena orang-orang akan membutuhkan ilmu tersebut.
Beliau sangat rajin Tahajjud, sampai dalam kondisi perjalanan pun beliau tetap melakukan shalat tahajjud. Dan tidak pernah meninggalkan kecuali saat beliau tidak bisa melakukannya. Juga tidak pernah  absen dari shalat Jumat. Beliau sering berhaji sejak kecil ketika menyertai Al-Khurabiy, banyak berdzikir dan tasbih dan istighfar. Al-Quran sudah mendarah daging dalam kehidupannya, membacanya sampai keluar air matanya.
Ibnu Hajar sangat menjaga makanannya dari barang yangbelum jelas status halalnya, terlebih dari suatu yang haram. Ia selalu makan dengan hasil jerih payah sendiri dan tidak pernah memakan makanan yang dihadiahkan kepada keluarganya.
Guru-guru beliau diantaranya adalah Al-Bulqini, Ibnu Al-Mulqin, Al-Haitsami, Al-majd Asy-Syiraziy, Al-Ghimariy, Al-Izz bi Jamaah dan masih banyak yang lainnya.
Murid-murid beliau diantaranya adalah Al-Hafizh As-Sakhawi, Burhanuddin Al-BiqaI, Zakariya Al-Anshariy, Al-Kamal bin Al-Hammam, dan masih banyak lagi sekitar 500 orang.



 Diantara karya-karya beliau adalah Mukhtashar At-Tarhib wa At-Targhib, Lisanul Mizan, Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah, Bulughul Maram, Shahih Muslim bi Syarhi An-Nawawiy, Shifah Ash-Shafwah, dan masih banyak lagi hingga mencapai 57 kitab.
Demikiamlah sekilas sejarah kehidupan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaniy, semoga Allah merahmati beliau dan mengangkat derajat disis-Nya. Beliau telah kembali ke rafiqul ala pada akhir bulan Dzulhijjah tahun 852 H bertepatan dengan bulan Februari tahun 1449 M. Banyak kaum muslimin yang menshalatkan jenazahnya di Kairo, semoga Allah merahmatinya dan meridhai semua amalnya.
60 Biografi Ulama Salaf, Syaikh Ahmad Farid hal:835





Tidak ada komentar:

Posting Komentar