Jumat, 19 September 2014

MARHABAN BISH SHOLIHIINA



MARHABAN BISH SHOLIHIINA
Setelah usai tugas belajarku selama 6 tahun di KMA, aku mendapatkan tempat mengabdi di Bekasi bersama dua orang rekanku se almamater.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Awalnya orangtua ku setuju aku mengabdi di Bekasi, namun setelah libur ramadhan orangtua dan beberapa keluargaku keberatan  dengan tempat tugasku karena jauh dan menyarankan agar pindah dari tempat tersebut.
Setelah mendapat izin dan rekomendasi dari ma’had, aku pun berangkat ke tempat pengabdianku yang baru, tepatnya di kota Klaten. Dan kebetulan tempat tersebut tak jauh dari rumah. Akupun berusaha adaptasi dengan lingkungan yang baru dan teman-teman yang baru pula. Di putri kami berdua dengan seorang temanku asli pribumi sana, yang rumahnya tak jauh dari ma’had.
Aku jalani hari-hariku dengan baik. Ku selesaikan semua tugas-tugasku dengan klimaks pula. setelah lima bulan berjalan, dan bertepatan pada tanggal 22 Desember 2011, seorang teman yang mengasuh di putra mulai mengenalku dan mengutarakan niatnya untuk mengkhithbahku lewat pimpinan ma’had.
Setelah mendapat restu dari pimpinan ma’had dan mendapat izin dari orangtuanya, dia datang ke rumahku untuk menemui orangtuaku. Pada saat itu ia datang seorang diri tanpa di temani siapapun. Karena jarak rumah yang jauh, orang tuanya hanya bisa memberi restu. Ia berasal dari Tuban sedangkan aku tinggal di Solo.
Setelah orang tuaku mengizinkan, ia mulai merencanakan tempat tinggal, dan lain sebagainya. Saat   terbentuk kesepakatan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami untuk menuntut ilmu di dunia masing-masing. Ia melanjutkan belajar di Malang dan aku masuk ke  Ma’had Tahfiz di Wonogiri.
Kami pun membuka lembaran baru di tempat belajar masing-masing. Namun belum genap 2 bulan pejalanan kami, ada sebuah kabar yang mengguncang hatiku. Tepat pada tanggal 1 Agustus 2012 sepupuku mengabarkan bahwa teman yang mengkhithbahku dulu telah meninggal dunia. Dia tertabrak truk besar ketika ia keluar bersama seorang temannya sore itu. Padahal, beberapa saat sebelumnya ia sempat berkelakar bersama teman-temannya. Ia terlempar dari motor dan dan pecah kepalanya. Namun, teman yang ada di belakangnya berhasil tertolong dan diselamatkan sempat mendengar ucapan takbir sewaktu ia terpental jatuh.
Ketika aku mendengar kabar tersebut, aku seakan tak percaya bahwa hal itu telah terjadi. Akupun memastikan dan mecari kebenaran berita tersebut kebeberapa sumber. Setelah mendapatkan kepastian akan hal tersebut akupun semakin panik dan tak terasa air mataku mengalir tanpa bisa ku cegah lagi. Akhirnya aku minta izin kepengasuh ma’had untuk menenangkan diri beberapa hari dulu di rumah. Alhmadulillah dengan lapang hati beliau mengizinkanku untuk pulang.
Sesampainya di rumah, tak selang lama kemudian, keluarga dari Tuban datang kerumah untuk memberi kabar tersebut sekaligus menghibur hatiku. Mereka juga menyerahkan HP dan beberapa barang lain milik temanku untuk diberikan kepadaku. Mereka berharap agar kami tetap menjaga hubungan walaupun ia sudah tiada. Tak jarang kakaknya menyambung kekerabatan denganku dan menanyakan keadaanku.
Akupun memberi kabar kepada sahabatku bahwa aku pulang dan menceritakan kejadian tersebut. Mereka berusaha menghiburku dan menguatkan hatiku. Mereka juga berpesan agar mengganti tangisanku dengan lantunan do’a. Mereka mengingatkanku agar tidak meratapi kepergiannya. Karena ratapan bisa menambah beban mayat itu sendiri. Semoga Allah melapangkan kuburnya, menerima amal shalihnya dan mengampuni dosa-dosanya.
Setelah aku mulai tenang dan menerima segalanya dengan lapang dada, aku mulai berangkat ke ma’had untuk melanjutkan perjuanganku. Namun ku hanya bertahan beberapa bulan saja. Aku pulang ke rumah dan mengajar di sebuah lembaga pendidikan di Surakarta sampai akhir tahun ajaran.
Ditengah-tengah kesibukanku mengajar, salah satu teman kakakku mencari istri. Setelah menyebutkan beberapa kriteria, tiba-tiba aku bersedia dengan tawaran kakakku.  Tak lama kemudian, aku menjalani khitbah yang kedua kalinya dan berlanjut hingga ke akad pernikahan. Alhamdulillah, semua berjalan lancar tanpa hambatan.
Kini aku sudah mendapat pengganti dari Allah atas musibah yang menimpaku dimasa lalu. Allah telah mengirimkan orang shalih dalam hidupku untuk membimbingku dan memimpinku. Selamat datang wahai orang-orang shalih. Dari pernikahan ini kami dikaruniai oleh Allah seorang putri yang kami beri nama Najwa Khoiro Al-Wilda. Semoga ia menjadi penyejuk mata bagi kami dan menjadi generasi penerus yang melanjutkan estafet da’wah serta menjadi batu bata yang kuat dalam bangunan Islam yang besar ini. Rabbana hablanaa min azwajina wa dzurriiyatina qurrota a’yun, waj’alna lil muttaqiina imama...

_Qatrun Nada_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar