MARHABAN
BISH SHOLIHIINA
Setelah usai tugas
belajarku selama 6 tahun di KMA, aku mendapatkan tempat mengabdi di Bekasi
bersama dua orang rekanku se almamater. Awalnya orangtua ku setuju aku mengabdi di
Bekasi, namun setelah libur ramadhan orangtua dan beberapa keluargaku keberatan
dengan tempat tugasku karena jauh dan
menyarankan agar pindah dari tempat tersebut.
Setelah mendapat
izin dan rekomendasi dari ma’had, aku pun berangkat ke tempat pengabdianku yang
baru, tepatnya di kota Klaten. Dan kebetulan tempat tersebut tak jauh dari
rumah. Akupun berusaha adaptasi dengan lingkungan yang baru dan teman-teman
yang baru pula. Di putri kami berdua dengan seorang temanku asli pribumi sana,
yang rumahnya tak jauh dari ma’had.
Aku jalani
hari-hariku dengan baik. Ku selesaikan semua tugas-tugasku dengan klimaks pula.
setelah lima bulan berjalan, dan bertepatan pada tanggal 22 Desember 2011, seorang
teman yang mengasuh di putra mulai mengenalku dan mengutarakan niatnya untuk mengkhithbahku
lewat pimpinan ma’had.
Setelah mendapat
restu dari pimpinan ma’had dan mendapat izin dari orangtuanya, dia datang ke
rumahku untuk menemui orangtuaku. Pada saat itu ia datang seorang diri tanpa di
temani siapapun. Karena jarak rumah yang jauh, orang tuanya hanya bisa memberi
restu. Ia berasal dari Tuban sedangkan aku tinggal di Solo.
Setelah orang tuaku
mengizinkan, ia mulai merencanakan tempat tinggal, dan lain sebagainya.
Saat terbentuk kesepakatan, kami memutuskan untuk
melanjutkan perjalanan kami untuk menuntut ilmu di dunia masing-masing. Ia
melanjutkan belajar di Malang dan aku masuk ke
Ma’had Tahfiz di Wonogiri.
Kami pun membuka lembaran
baru di tempat belajar masing-masing. Namun belum genap 2 bulan pejalanan kami,
ada sebuah kabar yang mengguncang hatiku. Tepat pada tanggal 1 Agustus 2012 sepupuku
mengabarkan bahwa teman yang mengkhithbahku dulu telah meninggal dunia. Dia tertabrak
truk besar ketika ia keluar bersama seorang temannya sore itu. Padahal,
beberapa saat sebelumnya ia sempat berkelakar bersama teman-temannya. Ia
terlempar dari motor dan dan pecah kepalanya. Namun, teman yang ada di
belakangnya berhasil tertolong dan diselamatkan sempat mendengar ucapan takbir
sewaktu ia terpental jatuh.
Ketika aku mendengar
kabar tersebut, aku seakan tak percaya bahwa hal itu telah terjadi. Akupun
memastikan dan mecari kebenaran berita tersebut kebeberapa sumber. Setelah
mendapatkan kepastian akan hal tersebut akupun semakin panik dan tak terasa air
mataku mengalir tanpa bisa ku cegah lagi. Akhirnya aku minta izin kepengasuh
ma’had untuk menenangkan diri beberapa hari dulu di rumah. Alhmadulillah dengan
lapang hati beliau mengizinkanku untuk pulang.
Sesampainya di rumah,
tak selang lama kemudian, keluarga dari Tuban datang kerumah untuk memberi
kabar tersebut sekaligus menghibur hatiku. Mereka juga menyerahkan HP dan
beberapa barang lain milik temanku untuk diberikan kepadaku. Mereka berharap
agar kami tetap menjaga hubungan walaupun ia sudah tiada. Tak jarang kakaknya
menyambung kekerabatan denganku dan menanyakan keadaanku.
Akupun memberi kabar
kepada sahabatku bahwa aku pulang dan menceritakan kejadian tersebut. Mereka
berusaha menghiburku dan menguatkan hatiku. Mereka juga berpesan agar mengganti
tangisanku dengan lantunan do’a. Mereka mengingatkanku agar tidak meratapi
kepergiannya. Karena ratapan bisa menambah beban mayat itu sendiri. Semoga
Allah melapangkan kuburnya, menerima amal shalihnya dan mengampuni
dosa-dosanya.
Setelah aku mulai
tenang dan menerima segalanya dengan lapang dada, aku mulai berangkat ke ma’had
untuk melanjutkan perjuanganku. Namun ku hanya bertahan beberapa bulan saja.
Aku pulang ke rumah dan mengajar di sebuah lembaga pendidikan di Surakarta
sampai akhir tahun ajaran.
Ditengah-tengah
kesibukanku mengajar, salah satu teman kakakku mencari istri. Setelah
menyebutkan beberapa kriteria, tiba-tiba aku bersedia dengan tawaran kakakku. Tak lama kemudian, aku menjalani khitbah yang
kedua kalinya dan berlanjut hingga ke akad pernikahan. Alhamdulillah, semua
berjalan lancar tanpa hambatan.
Kini aku sudah
mendapat pengganti dari Allah atas musibah yang menimpaku dimasa lalu. Allah
telah mengirimkan orang shalih dalam hidupku untuk membimbingku dan memimpinku.
Selamat datang wahai orang-orang shalih. Dari pernikahan ini kami dikaruniai
oleh Allah seorang putri yang kami beri nama Najwa Khoiro Al-Wilda. Semoga ia
menjadi penyejuk mata bagi kami dan menjadi generasi penerus yang melanjutkan
estafet da’wah serta menjadi batu bata yang kuat dalam bangunan Islam yang
besar ini. Rabbana hablanaa min azwajina wa dzurriiyatina qurrota a’yun,
waj’alna lil muttaqiina imama...
_Qatrun Nada_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar