Oleh: Ibnatu
Muslim El_Ula
Pendahuluan
Kerusakan yang
terjadi pada masa sekarang ini disebabkan kosongnya jiwa-jiwa manusia dari ilmu
dien. Sedangkan ilmu itulah yang merupakan cahaya kehidupan bagi ummat manusia
untuk menggapai kehidupan yang Berjaya dan sukses baik di dunia dan akhirat.
Terlebih kaum remaja kita saat ini banyak terbius gemerlapnya dunia yang
memprihatinkan. Generasi muda kita saat
ini sedang kehilangan panutan utamanya.
Mereka tidak mengenal Rasulullah dan pendahulu ummat yang menorehkan sejarah
emas bagi ummat ini.
Top Band, game,
sudah menjadi kebiasaan yang kental dalam kehidupan sehari-harinya. Idola
mereka adalah para musici band, artis serta atlet sepak bola. Mereka
benar-benar terjauhkan dari cahaya keimanan. Generasi muda saat ini telah
menjadi korban penyesatan dan penghancuran moral oleh kaum kuffar.
Sedangkan
disisi lain, kondisi kaum muslimin banyak yang menjadi korban kezhaliman
penguasanya di negri sendiri. Banyak orang harus kehilangan tempat tinggalnya
karena penggusuran paksa. Kaum muslimin di Rohingya masih terus merasakan
pahitnya penyiksaan dari penguasa setempat demii mempertahankan tauhid yang
dibayar dengan darah dan nyawanya. Merekapun terasingkan di negri sendiri. Kaum
muslimin di Suriah tengah merasakan pahitnya hidup dibawah tekanan di negri
sendiri.
Ditengah
berbagai problema yang dialami oleh ummat ini, serta kekhawatiran akan
hilangnya ilmu seiring hilangnya para alim yang menagmalkan dan menyebarkan
ilmunya maka da’wah menjadi solusi pertama untuk mengentaskan ummat ini dari
keterpurukan menuju kejayaan. Juga untuk
menjaga agama Allah agar tetap tegak dimuka bumi.
Torehan sejarah
bangsa Indonesia sebagai bangsa muslim terbesar, da’wah menjadi penopang utama
dalam meraih kemerdekaannya. Sebagai buktinya adalah banyaknya pelopor
kemerdekaan yan ditokohi oleh sebagian besar ulama’ di zamannya. Dengan
kekuatan iman serta semangat yang tinggi mereka berhasil memukul mundur kaum
kuffar yang menjajah bangsa ini. Dan kekuatan tersebut sangat mustahil bisa
terwujud tanpa ada peran penting da’wah dalam perjalanannya. Inilah menjadi
tugas utama bagi setiap muslim dimanapun ia berada.
Landasan Teori
Ditengah berbagai macam derita yang melanda
ummat ini, Satu-satunya jalan untuk mengentaskan ummat dari keterpurukan, kezhaliman adalah dengan
mengajak dan menyeru untuk kemabali ke jalan Allah. Karena fungsi dan tujuan
da’wah adalah untuk mengajak manusia serta menunjukinya ke arah cahaya Ilahi dengan
cara yang baik. Sebagaimana firman Allah Subhana Wa Ta’ala:
ادْعُ
إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي
هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan
berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah
yang lebih Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih
Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” [1]
Oleh karena itu da’wah menempati tingkatan
wajib bagi setiap muslim untuk menjalankannya. Allah memerintahkan kepada kita
demi tegaknya kalimah Allah dan lenyapnya kekosongan jiwa-jiwa manusia dan
mengisinya dengan berbagai kebaikan dan keutamaan sehingga tidak ada lagi
kerusakan. Allah telah berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ
إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ
هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah
di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
(berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.Dan mereka itulah
orang-orang yang beruntung.”[2]
Selain itu
da’wah adalah kebutuhan primer bagi setiap individu secara social. Karena
manusia harus mengetahui pedoman hidupnya yang telah digariskan dan ditetapkan
oleh Rabb yang telah menciptakan mereka, sehingga bisa tegak hujjah Allah
kepada manusia. Karena tidak mungkain Allah menjatuhkan hukuman kepada manusia
kecuali setelah disampaikannya hujjah kepada mereka. Sebagaimana yang tercantum
dalam Kitabullah:
لِتُنذِرَ
قَوْماً مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ
agar engkau
memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi
peringatan, karena itu mereka lalai.[3]
da’wah
merupakan salah satu bentuk kepedulian kita terhadap ummat Islam, karena
dengan da’wah pesan-pesan Ilahiyah dapat tersampaikan dengan baik. Rasulullah telah bersabda:
Barangsiapa
yang tidak peduli dengan urusan ummat islam maka ia bukan termasuk golongannya.
Kehancuran masyarakat
adalah efek dari kema’shiatan, kekufuran dan hawa nafsu yang dijadikan tuhan
dengan menuruti segala keinginannya tanpa menimbang dan mengukur dengan
kebenaran yang datang dari Allah. Sehingga Allah menurunkan adzab yang dahsyat
kepada ummat manusia. Disini da’wah sangat dibutuhkan demi mencegah itu semua
dan menyelamatkan manusia dari adzab Allah. Rasulullah telah mengingatkan kita
dengan sabdanya:
كَلاَّ
وَاللهِ لَتَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ
Pembahasan
Definisi Da’wah
Da’wah berasal
dari kata kerja dalam bahasa Arab دعا يدعو دعوة و دعاء, yang memiliki beberapa arti, [4]di
antaranya:
a.
An-Nida’: memanggil, menyeru dan mengundang.
b.
Ad-Du’a’, Ad-Da’wah dan Ad-Da’iyah : mengajak dan menghasung orang
lain kepada suatu perkara. Baik menuju yang haq mqupun yang bathil.
c.
Suatu usaha berupa perkataan maupun perbuatan untuk menarik manusia
kepada aliran atau agama tertentu.
Dan sedangkan
menurut istilah syara’:
a.
Menyeru manusia kepada Allah.
Menyeru agar manusia kembali kepada agama Allah yaitu Islam yang
diturunkan Allah kepada Nabi-Nya Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.[5]
b.
Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata: “Da’wah adalah mengajak
seseorang agar beriman kepada Allah dan apa yang dibawa oleh para Rasul-Nya
dengan membenarkan apa yang mereka beritakan serta mentaati apa yang mereka
perintahkan.”[6]
c.
Syaikh Jum’ah Amin Abdul Aziz berkata: “Da’wah adalah manusia
melalui perkataan dan perbuatan para da’I kepada Islam, menerapkan manhajnya,
memeluk aqidahnya, dan melaksanakan syari’atnya.[7]
Asas-Asas
Da’wah
Dalam
penerapannya, da’wah ini pasti mempunyai asas-asas[8]
yang menopang berdirinya da’wah tersebut. Disini da’wah ini memeiliki empat
asas[9],
yaitu:
1.
Obyek da’wah (Islam)
Objek da’wah
yaitu Islam, agama yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya yang tercantum dalam
Al-Qur’an dan As-Sunnah.[10]
2.
Da’i
Da’i adalah
orang yang mengemban amanah da’wah untuk menyeru manusia kepada Allah. Seorang
da’I yang mengemban amanah ini membutuhkan persiapan yang dapat meringankan dan
memudahkan dalam pelaksanaan da’wah tersebut.[11]
3.
Mad’u
Semua orang
yang diseru dan diajak untuk masuk islam dan mejalankan syari’atnya disebut
dengan mad’u. dalam hal ini tidak ada batasan, karena Islam diturunkan untuk
diserukan kepada seluruh manusia.[12]
Oleh karena itu Islam berhak untuk diterima dan dianut oleh siapapun tanpa
memandang status, pangkat, suku, bangsa ataupun ras baik laki-laki maupun
perempuan.
4.
Wasilah
Tanpa keempat
hal diatas da’wah tidak akan bisa terlaksana dengan baik.
Kewajiban
Da’wah
Semua orang
yang telah menyatakan dirinya muslim maka ia terkena kewajiban da’wah.
Tujuan Da’wah
Tujuan
satu-satunya da’wah adalah agar manusia agar beribadah hanya kepada Allah
semata tanpa menyekutukannya dengan mengikuti teladan dari Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebagaimana dikisahkan Abu Sufyan kepada kaisar
Romawi: “Muhammad menyeru kami agara menyembah kepada Allah semata tanpa
menyukutukan-Nya, dan melarang kami untuk menyembah apa-apa yang disembah oleh
nenek moyang kami.”[13]
Juga
sebagaimana yang dikatakan oleh Rabi’ bin Amir kepada Rustum panglima Persi:
“Allah mengutus kami untuk mengeluarkan hamba-hamba yang dikehendaki-Nya dari
peribadatan sesame hamba menuju peribadatan kepada Allah semata. Dan
megeluarkan manusia dari kesempitan dunia menuju keadilan menuju kelapangan
dunia, dan mengeluarkan mereka dari kezhaliman berbagai agama menuju
keadilan islam.[14]
Dengan demikian
da’wah sebagai solusi dari kesempitan dunia menuju kelapangan, mengentaskan
manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid, mengisi kosongnya jiwa
dengan cahaya keimanan, ilmu, keadilan dan ketaatan[15]
yang akan menyelamatkan manusia dari kerusakan dan kebinasaan.
Karakter Da’wah
Ada karakter
da’wah yang membedakan dari propaganda, iklan, dan berbagai aliran politik,
kepercayaan, filsafat, serta agama yang lain. karakter da’wah ini haruslah
sesuai dengan manhaj Rabbaniyah, yang berasal dari wahyu Allah(Al-Qur’an) dan
As-Sunnah, Wasathiyah, (proposional), ijabiyah (menilai positif alam semesta),
waqi’iyah(realistis), akhlaqiyah(sarat dengan nilai kebenaran), syumuliyah(menyeluruh),
‘alamiyah(mendunia), jihadiyah(memerangi yang menghalangi da’wah), salafiyah(
menjaga orasinilitas aqidah), syuriyah(berprinsip musyawarah).[16]
Jika metode ini
ditempuh, maka da’wah akan berjalan dengan baik dan mewujudkan rahmatan lil
alamin. Semua manusia akan merasakan manisnya Islam dan tentram dibawah naungan
dad’wah Islam di seantero dunia. Karena tak ada yang lebih mulia di dunia ini
selain menegakkan syari’at Allah di muka bumi.
Peran Da’wah
dalam Menghidupkan Jiwa
Da’wah adalah
salah satu sarana untuk menghidupkan jiwa seseorang. Karena ia membawa
pesan-pesan Ilaiyah yang merupakan nutrisi bagi hati. Oleh karena itu Islam
yang dida’wahkan haruslah Islam yang kaffah, yaitu ajaran yang menyeluruh.
Mulai dari urusan dunia hingga urusan akhirat. Islam jalan hidup yang mengatur
mulai dari hal aqidah, ibadah sampai pada urusan Negara.
Islam adalah
agama universal yang mengatur seluruh aspek kehidupan seluruh ummat dan bangsa
sepanjang masa. Islam telah meletakkan kaidah-kaidah pokok dalam setiap
permasalahan dan membimbing manusia untuk melaksanakan dan berjalan diatas
petunjuknya.[17]
Penutup
Inilah
jalan hidup yang sesungguhnya. Siapa yang berpegang diatasnya dia tak akan
tersesat selamanya. Islam yang benar-benar dapat menghidupkan jiwa yang telah
lama gersang. Islam yang sesuai dengan pemahaman salafush shalih. Semoga kita
menjadi generasi penerus da’wah dan kembali menghidupkan jiwa kita dengannya.
Wallahu a’lam bish-showab….
Referensi:
1.
Al-Qur’an Al-Karim
2.
Mizanul Muslim, Abu Fatia Al-Adnani dan Abu Ammar, Cordova
Mediatama
3.
Ushulud Da’wah DR. Abdul Karim Zaidan Muassasah Ar-Risalah
[1] An-Nahl:125
[2] Ali Imran:104
[3] Yasin:6
[4] Mizanul Muslim Abu Fatia Al-Adnani
dan Abu Ammar Cordova Mediatama jil.2 hal. 141
[5] Ushulud Da’wah DR. Abdul Karim Zaidan Muassasah Ar-Risalah hal.5
[6] Majmu’ Fatawa jil.15 hal 157
[7] Mizanul Muslim Abu Fatia Al-Adnani
dan Abu Ammar Cordova Mediatama jil.2 hal. 142
[8] Asas: dasar atau sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir dan
berpendapat.
[9] Ushulud Da’wah DR. Abdul Karim Zaidan Muassasah Ar-Risalah hal.5
[10] Ibid, hal 7
[11] Ibid hal.305
[12] Ibid, hal 373
[13] HR. Bukhari dan Muslim
[14] Mizanul Muslim Abu Fatia Al-Adnani
dan Abu Ammar Cordova Mediatama jil.2 hal. 150
[15] Ibid hal. 151
[16] Ibid hal.153
[17] Mizanul Muslim Abu Fatia Al-Adnani
dan Abu Ammar Cordova Mediatama jil.2 hal 170
Tidak ada komentar:
Posting Komentar