Senin, 18 November 2013

Menghidupkan Jiwa dengan Ruh Da’wah



Oleh: Ibnatu Muslim El_Ula

Pendahuluan
Kerusakan yang terjadi pada masa sekarang ini disebabkan kosongnya jiwa-jiwa manusia dari ilmu dien. Sedangkan ilmu itulah yang merupakan cahaya kehidupan bagi ummat manusia untuk menggapai kehidupan yang Berjaya dan sukses baik di dunia dan akhirat. Terlebih kaum remaja kita saat ini banyak terbius gemerlapnya dunia yang memprihatinkan.  Generasi muda kita saat ini sedang kehilangan  panutan utamanya. Mereka tidak mengenal Rasulullah dan pendahulu ummat yang menorehkan sejarah emas bagi ummat ini.
Top Band, game, sudah menjadi kebiasaan yang kental dalam kehidupan sehari-harinya. Idola mereka adalah para musici band, artis serta atlet sepak bola. Mereka benar-benar terjauhkan dari cahaya keimanan. Generasi muda saat ini telah menjadi korban penyesatan dan penghancuran moral oleh kaum kuffar.
Sedangkan disisi lain, kondisi kaum muslimin banyak yang menjadi korban kezhaliman penguasanya di negri sendiri. Banyak orang harus kehilangan tempat tinggalnya karena penggusuran paksa. Kaum muslimin di Rohingya masih terus merasakan pahitnya penyiksaan dari penguasa setempat demii mempertahankan tauhid yang dibayar dengan darah dan nyawanya. Merekapun terasingkan di negri sendiri. Kaum muslimin di Suriah tengah merasakan pahitnya hidup dibawah tekanan di negri sendiri.
Ditengah berbagai problema yang dialami oleh ummat ini, serta kekhawatiran akan hilangnya ilmu seiring hilangnya para alim yang menagmalkan dan menyebarkan ilmunya maka da’wah menjadi solusi pertama untuk mengentaskan ummat ini dari keterpurukan menuju  kejayaan. Juga untuk menjaga agama Allah agar tetap tegak dimuka bumi.
Torehan sejarah bangsa Indonesia sebagai bangsa muslim terbesar, da’wah menjadi penopang utama dalam meraih kemerdekaannya. Sebagai buktinya adalah banyaknya pelopor kemerdekaan yan ditokohi oleh sebagian besar ulama’ di zamannya. Dengan kekuatan iman serta semangat yang tinggi mereka berhasil memukul mundur kaum kuffar yang menjajah bangsa ini. Dan kekuatan tersebut sangat mustahil bisa terwujud tanpa ada peran penting da’wah dalam perjalanannya. Inilah menjadi tugas utama bagi setiap muslim dimanapun ia berada.

Landasan Teori
 Ditengah berbagai macam derita yang melanda ummat ini, Satu-satunya jalan untuk mengentaskan ummat  dari keterpurukan, kezhaliman adalah dengan mengajak dan menyeru untuk kemabali ke jalan Allah. Karena fungsi dan tujuan da’wah adalah untuk mengajak manusia   serta menunjukinya ke arah cahaya Ilahi dengan cara yang baik. Sebagaimana firman Allah Subhana Wa Ta’ala:
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” [1]

 Oleh karena itu da’wah menempati tingkatan wajib bagi setiap muslim untuk menjalankannya. Allah memerintahkan kepada kita demi tegaknya kalimah Allah dan lenyapnya kekosongan jiwa-jiwa manusia dan mengisinya dengan berbagai kebaikan dan keutamaan sehingga tidak ada lagi kerusakan. Allah telah berfirman:
 وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”[2]
Selain itu da’wah adalah kebutuhan primer bagi setiap individu secara social. Karena manusia harus mengetahui pedoman hidupnya yang telah digariskan dan ditetapkan oleh Rabb yang telah menciptakan mereka, sehingga bisa tegak hujjah Allah kepada manusia. Karena tidak mungkain Allah menjatuhkan hukuman kepada manusia kecuali setelah disampaikannya hujjah kepada mereka. Sebagaimana yang tercantum dalam Kitabullah:
لِتُنذِرَ قَوْماً مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ
agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.[3]
 da’wah  merupakan salah satu bentuk kepedulian kita terhadap ummat Islam, karena dengan da’wah pesan-pesan Ilahiyah dapat tersampaikan dengan baik.  Rasulullah telah bersabda:
Barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan ummat islam maka ia bukan termasuk golongannya.
Kehancuran masyarakat adalah efek dari kema’shiatan, kekufuran dan hawa nafsu yang dijadikan tuhan dengan menuruti segala keinginannya tanpa menimbang dan mengukur dengan kebenaran yang datang dari Allah. Sehingga Allah menurunkan adzab yang dahsyat kepada ummat manusia. Disini da’wah sangat dibutuhkan demi mencegah itu semua dan menyelamatkan manusia dari adzab Allah. Rasulullah telah mengingatkan kita dengan sabdanya:
كَلاَّ وَاللهِ لَتَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ


Pembahasan
Definisi Da’wah
Da’wah berasal dari kata kerja dalam bahasa Arab دعا يدعو دعوة و دعاء, yang memiliki beberapa arti, [4]di antaranya:
a.       An-Nida’: memanggil, menyeru dan mengundang.
b.      Ad-Du’a’, Ad-Da’wah dan Ad-Da’iyah : mengajak dan menghasung orang lain kepada suatu perkara. Baik menuju yang haq mqupun yang bathil.
c.       Suatu usaha berupa perkataan maupun perbuatan untuk menarik manusia kepada aliran atau agama tertentu.
Dan sedangkan menurut istilah syara’:
a.        Menyeru  manusia  kepada Allah.  Menyeru agar manusia kembali kepada agama Allah yaitu Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.[5]
b.      Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata: “Da’wah adalah mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan apa yang dibawa oleh para Rasul-Nya dengan membenarkan apa yang mereka beritakan serta mentaati apa yang mereka perintahkan.”[6]
c.       Syaikh Jum’ah Amin Abdul Aziz berkata: “Da’wah adalah manusia melalui perkataan dan perbuatan para da’I kepada Islam, menerapkan manhajnya, memeluk aqidahnya, dan melaksanakan syari’atnya.[7]
Asas-Asas Da’wah
Dalam penerapannya, da’wah ini pasti mempunyai asas-asas[8] yang menopang berdirinya da’wah tersebut. Disini da’wah ini memeiliki empat asas[9], yaitu:
1.      Obyek da’wah (Islam)
Objek da’wah yaitu Islam, agama yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya yang tercantum dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.[10]
2.      Da’i
Da’i adalah orang yang mengemban amanah da’wah untuk menyeru manusia kepada Allah. Seorang da’I yang mengemban amanah ini membutuhkan persiapan yang dapat meringankan dan memudahkan dalam pelaksanaan da’wah tersebut.[11]
3.      Mad’u
Semua orang yang diseru dan diajak untuk masuk islam dan mejalankan syari’atnya disebut dengan mad’u. dalam hal ini tidak ada batasan, karena Islam diturunkan untuk diserukan kepada seluruh manusia.[12] Oleh karena itu Islam berhak untuk diterima dan dianut oleh siapapun tanpa memandang status, pangkat, suku, bangsa ataupun ras baik laki-laki maupun perempuan.
4.      Wasilah

Tanpa keempat hal diatas da’wah tidak akan bisa terlaksana dengan baik.
Kewajiban Da’wah
Semua orang yang telah menyatakan dirinya muslim maka ia terkena kewajiban da’wah.
Tujuan Da’wah
Tujuan satu-satunya da’wah adalah agar manusia agar beribadah hanya kepada Allah semata tanpa menyekutukannya dengan mengikuti teladan dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebagaimana dikisahkan Abu Sufyan kepada kaisar Romawi: “Muhammad menyeru kami agara menyembah kepada Allah semata tanpa menyukutukan-Nya, dan melarang kami untuk menyembah apa-apa yang disembah oleh nenek moyang kami.”[13]
Juga sebagaimana yang dikatakan oleh Rabi’ bin Amir kepada Rustum panglima Persi: “Allah mengutus kami untuk mengeluarkan hamba-hamba yang dikehendaki-Nya dari peribadatan sesame hamba menuju peribadatan kepada Allah semata. Dan megeluarkan manusia dari kesempitan dunia menuju keadilan menuju kelapangan dunia, dan mengeluarkan mereka dari kezhaliman berbagai agama menuju keadilan  islam.[14]
Dengan demikian da’wah sebagai solusi dari kesempitan dunia menuju kelapangan, mengentaskan manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid, mengisi kosongnya jiwa dengan cahaya keimanan, ilmu, keadilan dan ketaatan[15] yang akan menyelamatkan manusia dari kerusakan dan kebinasaan.
Karakter Da’wah
Ada karakter da’wah yang membedakan dari propaganda, iklan, dan berbagai aliran politik, kepercayaan, filsafat, serta agama yang lain. karakter da’wah ini haruslah sesuai dengan manhaj Rabbaniyah, yang berasal dari wahyu Allah(Al-Qur’an) dan As-Sunnah, Wasathiyah, (proposional), ijabiyah (menilai positif alam semesta), waqi’iyah(realistis), akhlaqiyah(sarat dengan nilai kebenaran), syumuliyah(menyeluruh), ‘alamiyah(mendunia), jihadiyah(memerangi yang menghalangi da’wah), salafiyah( menjaga orasinilitas aqidah), syuriyah(berprinsip musyawarah).[16]
Jika metode ini ditempuh, maka da’wah akan berjalan dengan baik dan mewujudkan rahmatan lil alamin. Semua manusia akan merasakan manisnya Islam dan tentram dibawah naungan dad’wah Islam di seantero dunia. Karena tak ada yang lebih mulia di dunia ini selain menegakkan syari’at Allah di muka bumi.

Peran Da’wah dalam Menghidupkan Jiwa
Da’wah adalah salah satu sarana untuk menghidupkan jiwa seseorang. Karena ia membawa pesan-pesan Ilaiyah yang merupakan nutrisi bagi hati. Oleh karena itu Islam yang dida’wahkan haruslah Islam yang kaffah, yaitu ajaran yang menyeluruh. Mulai dari urusan dunia hingga urusan akhirat. Islam jalan hidup yang mengatur mulai dari hal aqidah, ibadah sampai pada urusan Negara.
Islam adalah agama universal yang mengatur seluruh aspek kehidupan seluruh ummat dan bangsa sepanjang masa. Islam telah meletakkan kaidah-kaidah pokok dalam setiap permasalahan dan membimbing manusia untuk melaksanakan dan berjalan diatas petunjuknya.[17]

Penutup
Inilah jalan hidup yang sesungguhnya. Siapa yang berpegang diatasnya dia tak akan tersesat selamanya. Islam yang benar-benar dapat menghidupkan jiwa yang telah lama gersang. Islam yang sesuai dengan pemahaman salafush shalih. Semoga kita menjadi generasi penerus da’wah dan kembali menghidupkan jiwa kita dengannya. Wallahu a’lam bish-showab….

Referensi:
1.      Al-Qur’an Al-Karim
2.      Mizanul Muslim, Abu Fatia Al-Adnani dan Abu Ammar, Cordova Mediatama
3.      Ushulud Da’wah DR. Abdul Karim Zaidan Muassasah Ar-Risalah



[1] An-Nahl:125
[2] Ali Imran:104
[3] Yasin:6
[4] Mizanul Muslim Abu Fatia Al-Adnani  dan Abu Ammar Cordova Mediatama jil.2 hal. 141
[5] Ushulud Da’wah DR. Abdul Karim Zaidan Muassasah Ar-Risalah hal.5
[6] Majmu’ Fatawa jil.15 hal 157
[7] Mizanul Muslim Abu Fatia Al-Adnani  dan Abu Ammar Cordova Mediatama jil.2 hal. 142
[8] Asas: dasar atau sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir dan berpendapat.
[9] Ushulud Da’wah DR. Abdul Karim Zaidan Muassasah Ar-Risalah hal.5
[10] Ibid, hal 7
[11] Ibid hal.305
[12] Ibid, hal 373
[13] HR. Bukhari dan Muslim
[14] Mizanul Muslim Abu Fatia Al-Adnani  dan Abu Ammar Cordova Mediatama jil.2 hal. 150
[15] Ibid hal. 151
[16] Ibid hal.153
[17] Mizanul Muslim Abu Fatia Al-Adnani  dan Abu Ammar Cordova Mediatama jil.2 hal 170

Tidak ada komentar:

Posting Komentar