I.
PENDAHULUAN
Sosok
Ummul mu’minin yang satu ini adalah lambang kecerdasan dalam Islam hingga hari
kebangkitan kelak. Karena tidak ada satupun wanita setelahnya yang menyaingi
kepandaian dan kecerdasannya. Beliaulah Aisyah binti Abu Bakr Shiddiqah binti
Ash-Shiddiq , wanita yang paling dicintai Rasulullah, yang gambarnya dibawa
oleh malaikat yang diperlihatkan kepada Rasulullah dalam mimpinya dan
diwahyukan bahwa ialah istrinya didunia dan diakhirat kelak.
Beliau
adalah guru bagi laki-laki pada zamannya. Semua bidang keilmuan beliau kuasai
sampai-sampai para pemuka shahabatpun merujuk pada beliau tentang masalah-masalah
hukum. Beliau telah membuktikan kepada dunia bahwa wanita bisa mengungguli
laki-laki dalam masalah keilmuan bahkan dalam urusan politik dan siasat perang.
Sampai-sampai sebagian ulama’ mmenganggap bahwa Aisyah lebih mulia daripada
ayahnya.
Beliau
tumbuh dilingkungan yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Ayahnya adalah
ahli sejarah dan sastra Arab yang menjadi pusat keilmuan dimasanya. Dari ayahnyalah
beliau meneguk banyak pengetahuan. Setelah beerumur 6 tahun beliau dipersunting
oleh Rasulullah dan pada umur 9 tahun beliau menginjakkan kaki untuk pertama
kalinya di rumah Nubuwah. Madrasah kedua beliau untuk menempa diri,
menggembleng , serta mengembangkan wawasan keilmuan beliau dalam bimbingan
manusia paling mulia sepanjang masa yang menjadi suaminya sendiri, Rasulullah
Shalalllahu ‘alaihi Wasllam. Sehingga tidak mustahil jika beliau mencapai
derajat keilmuan yang sangat tinggi sampai tak ada yang menandinginya. Sehingga
sudah saatnya bagi kita untuk menyusuri lembaran-lembaran hidupnya serta
merasakan sejuknya ilmu beliau yang langsung diambil dari mata air nubuwah
sebagai pelajaran dalam kehidupan.
II.
LANDASAN TEORI
Sejak
datangnya Islam Allah ingin memberantas dan menyingkap kegelapan di bumi yang
terselimuti kebodohan, kezhaliman, kesyirikan, dan kebathilan. Allah mulai
menyingkap tabir-tabir kegalapan perlahan-lahan dengan peintah untuk membaca.
Dari wahyu yang Allah sampaikan kepada Rasulullah melalui Jibril ketika
Rasulullah bertahannuts di goa Hira’.
Allah
juga menyampaikan pula kepada Ummahatul Mu’minin dan kepada kaum wanita pada
umumnya untuk mengingat apa yang telah dibacakan dari wahyu Allah dirumah-rumah
mereka. Allah berfirman:
وَاذْكُرْنَ
مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ
كَانَ لَطِيفاً خَبِيراً
“Dan
ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah
Nabimu). Sungguh, Allah Maha Lembut, Maha Mengetahui.” [1]
Allah
juga meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat
karena Allah begitu tinggi menjunjung ilmu pengetahuan dan memeuliakan
orang-orang yang berilmu. Allah berfirman:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ
فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Wahai
orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di
dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan Memberi
kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah,
niscaya Allah akan Mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti apa
yang kamu kerjakan.”[2]
Rasulullah
pun mewajibkan bagi setiap muslim untuk mencari ilmu. Demi tersebarnya cahaya
keilmuan yang menerangi dunia dari gelapnya kebodohan dan menyelamatkan manusia
dari jurang kebinasaan menuju tingginya syurga yang bisa dicapai dengan
mempelajari ilmu dan mengajarkan kepada manusia. Rasulullah bersabda:
طَلَبُ
الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Mencari
ilmu adalah kewajiban setiap muslim.”[3]
Dalam
hadits lain Rasulullah bersabda:
أََيُّمَا
رَجُلِ كَانَتْ لَهُ وَلِيْدَةٌ, فَعَلَّمَهَا فَأَحْسَنَ تَعْلِيْمَهَا, وَ
أََدَّبَهَا فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَها, ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا, فَلَهُ
أَجْرَانِ.
"Siapa yang memiliki budak perempuan, lalu memberi pelajaran dan
mendidiknya dengan baik, kemudian memerdekakannya lalu menikahinya, maka dia
mendapat dua pahala”.[4]
Semenjak
mendengar hadits ini para shahabiyah terkobar semangatnya untuk memburu ilmu. Sampai
–sampai mereka menuntut kepada Rasulullah untuk mengajarkan kepada mereka
ilmu-ilmu dien sebagai pelipur bagi hati-hati yang haus ilmu.
Dalam
hal inilah Ummul Mu’minin Aisyah yang menemoati posisi terdepan dalam barisan
para pemburu ilmu. Bahkan beliau dapat langsung jernihnya ilmu dari sumbernya
yaitu suaminya guru bagi manusia sepanjang zaman Raasulullah Shallalahu ‘alaihi
Wasallam.
III.
PEMBAHASAN
A.
Selayang Pandang Riwayat Hidup Aisyah
Nama
beliau ialah Aisyah binti Abu Bakr
Abdullah bin Abu Quhafah Utsman bin Amir Al-Qurasyiyah At-Taimiyyah. Ibunya
adalah Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir. Ayah beliau adalah orang yang pertama
kali beriman dengan risalah Rasulullah dari kalangan laki-laki dewasa. Prinsip
yang digenggam Abu Bakr adalah “Jika Rasulullah mengucapkan hal itu maka beliau
pasti benar. Dia adalah orang yang tiada matahari terbit menyinari orang dari
kalangan Nabi dan Rasul yang lebih baik daripada beliau.” [5]
Keutamaan
ibunya dipaparkan dalam hadits yang disampaikan Abu Bakr bin Abu Khaitsamah,
dari Ali bin Zaid, dari Qasim bin Muhammad bahwa ketika Ummu Ruman -istri Abu
Bakr- diantar ke kuburannya, Rasulullah bersabda:
مَنْ
سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَإِلَى الْحُوْرِالْعِيْنِ فَالْيَنْظُرْ إِلَى أُمُّ
رُمَّانَ
“Barangsiapa yang ingin melihat bidadari Jannah
maka lihatlah Ummu Rumaan.”[6]
Beliau
lahir sekitar tahun ke 4 atau ke 5 nubuwah. Gelar beliau adalah Ummu Abdillah
yang diambil dari nama anak dari Asma’, yaitu Abdullah bin Zubair. Julukan
beliau adalah Al-Mutawaffiqah, Ash-Shadiqah, Al-Mubarra’ah dan Al-‘Atiqah binti
Al-Atiq. Beliau dilahirkan pada masa Islam dan kedua orangtuanya telah memeluk Islam.[7]
B.
Pendidikan Abu Bakr Kepada Aisyah
Sejak
awal mula pertumbuhannya ayahandanya menaruh perhatian besar kepadanya ketika
ia menampakkan keberkahan, kepandaian, dan kecantikan parasnya. Pertumbuhannya
adalah factor utama dalam membentuk kepribadiannya dimasa kanak-kanak. Aisyah
lahir dalam pasangan suami istri yang saling mencintai. Mereka berdua mendidik
Aisyah untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, cinta Islam dan rela berjuang demi
membela dan rela beramal karena Islam. Mereka juga menanamkan kejujuran kepada
Aisyah.
Abu
Bakr menghibahkan seluruh hidupnya untuk Islam. Memberi makanan dan minuman
serta menumbuhkembangkan mereka dengan santapan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Demikianlah seharusnya kita menanamkan sifat-sifat utama pada diri anak.
Tentunya setelah kita sendiri memeiliki sifat trersebut dalam rangka mengikuti
sunnah-sunnah Rasulullah.[8]
C.
Pendidikan Rasulullah Kepada Aisyah
Diantara
pendidikan Rasulullah kepada Aisyah adalah ketika Aisyah dan para istri beliau
merengek-rengek meminta tambahan nafkah dan perhiasan. Rasulullah mendiamkan
mereka selama 29 hari. Setelah 29 hari berlalu Rasulullah mendatangi istrinya
lalu menawarkan pilihan yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah.
َيا
أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ
الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحاً
جَمِيلاً وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ
فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْراً عَظِيماً -٢٩-
“Wahai
Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan
kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” Dan jika kamu
menginginkan Allah dan Rasul-Nya dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah
Menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu.”[9]
Beliau
mulai mengultimatum Aisyah dengan sabdanya,” Wahai Aisyah, aku ingin mengemukakan
pilihan kepadamu, aku ingin kamu tergesa-gesa untuk menjawabnya hingga kamu
berkonsultasi dengan orangtuamu.” Aisyah pun menjawab,” Apa itu ya Rasulullah?”
kata Aisyah. Lalu Rasulullah membaca ayat diatas. Aisyah pun segera
menjawab,”Apakah untuk memilihmu aku harus berkonsultasi kepada oranagtuaku
terlebih dahulu? Jelas saya memilih Allah, Rasul-Nya dan negri akhirat. Aku
mohon rahasiakan jawabanku ini terhadap teman-temanku.” Rasulullah bersabda,
”Tiada seorangpun dari mereka jika bertanya kepadaku melainkan aku akan
menjawabnya. Karena sesungguhnya aku tidak diutus untuk menyusahkan dan
mempersulit. Tetapi aku diutus untuk memberi pengajaran dan memudahkan.”Lalu
semua istri-istri Rasul memilih Allah dan Rasul-Nya serta negri akhirat yang
abadi beserta ridha Allah untuk mereka semua.
Rasulullah
juga mengajarkan kepada Aisyah agar selalu bersikap santun. Karena sikap ini
adalah salah satu shifat Allah dan dianjurkan untuk menanamkan pada diri
seorang hamba. Rasulullah pernah menasehati Aisyah pada suatu hari. Rasulullah bersabda:
عَلَيْكِ
بِالرِّفْقِ فَإِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِيْ عَلَيِْهِ مَا
لاَ يُعْطِيْ عَلَى الْعُنْفِ وَلاَ يُعْطِيْ عَلَى مَا سِوَاهُ
" Kamu harus
bersikap santun, karena Allah Maha Santun, dan menyukai sikap santun. Dan Allah
memberi kepada orang yang santun apa yang tidak Ia berikan kepada orang yang
kasar, dan apa yang tidak Dia berikan kepada selainnya.”
D.
Cerdas dan Pintar
Kecerdasan
dan kepintaran bisa saja terlihat dari cerita alur kehidupan beliau. Walaupun
beliau tidak pernah membanggakan diri dengan kepandaian dan kepintarannya.
Kecerdasan ini Nampak ketika suatu malam tiba giliran Rasulullah menginap di
rumah beliau.
Aisyah
bercerita,” Ketika tiba giliran Rasulullah dirumahku, beliau mulai membuka baju
luarnya, membuka sandal dan meletakkan didekat kakinya, lalu membentangkan
ujung kainnya di atas kasur. Lalu beliau berbaring dengan tenang sehingga
mengira aku telah tertidur pulas. Tiba-tiba beliau bangun dan mengenakan baju
luarnya dengan pelan-pelan lalu keluar dari kamarku dengan pelan-pelan. Melihat
kejadian itu, aku segera mengambil penutup kepala dan mengarungkan kain pada
bagian atas tubuhku lalu memmbuntuti beliau dari belakang.
Ternyata
Rasulullah ke perkuburan Baqi. Disana Rasulullah berdiri lama sekali lalu
mengangkat tangannya 3 kali, lalu membalikkan tubuhnya. Ketika kulihat beliau
mempeercepat langkahnya aku pun lebih cepat jalannya. Ketika beliau berlari
akupun berlari dan aku berhasil masuk ke rumah lebih awal. Ketika beliau sampai
dirumah dan masuk rumah Rasulullah bertanya,” Ada apa denganmu wahai Aisy!
Mengapa nafasmu tersengal-sengal!”
Aku
menjawab,” Tidak ada apa-apa. Rasulullah mendesak,” Engkau mau memberi tahuku aau
biar Allah yang memberi tahu!!” Aku pun menjawab,” Wahai Rasulullah, biarlah
ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu,(lalu aku menceritakan apa yang aku
lakukan). Setelah selesai, Rasulullah berkata,”Berarti bayangan hitam didepanku tadi adalah kamu!” Aku
jawab,”Benar.” Rasul memukul dadaku dengan tangannya hingga aku merasa sesak,
kemudian beliau berkata,” Apakah kamu mengira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan
menzhalimimu!” Aku berkata dalam hati,”Sehebat apapun aku menyembunyikan maka
pasti Allah akan mengetahuinya.” Maka saat itu aku jawab dengan tulus,’Benar.’
Beliau
langsung menjelaskan,”Bahwa ketika kamu melihatku melakukan itu, Jibril datang
menemuiku dan memanggilku dengan suara yang tidak kamu dengar. Dia tidak
mungkin masuk karena kamu siap-siap tidur. Ketika aku mengira bahwa kamu telah
tertidur pulas, aku segera keluar dengan pelan-pelan, karena takut
membangunkanmu. Jibril berkata kepadaku,” Sesungguhnya Rabbmu menyuruh agar
engkau ke perkuburan Baqi, untuk memohonkan ampun orang-orang yang telah dikubur
disana.”
Mendengar
penuturan itu, aku langsung bertanya,” Lantas apa yang harus kukatakan jika
datang ke kuburan?” Rasulullah pun menjawab,” Katakanlah, ‘Kesejahteraan bagimu
wahai para penghuni kubur yang terdiri dari orang-orang muslim dan mu’min.
Semoga Allah mengasihi yang telah mendahului dan yang akan menyusul diantara
kita. Dan sesungguhnya kami akan menyusul kalian insya Allah.”
Lihatlah,
betapa cerdiknya Aisyah. Ketika Rasulullah marah beliau mengalihkan pembicaraan
dari hal yang mengundang kemarahan beliau. Dan merubah alur pembicaraan yang
mengarah ke ilmu pengtahuan tentang hukum syari’at ajaran islam.[10]
E.
Kecerdasan Aisyah dalam bidang Hadits
Dalam
dunia hadits Aisyah sangat banyak memberi sumbangsih yang tak terhingga.
Beliaulah penghantar sebagian besar hadits Rasulullah kepada ummat Islam
disepanjang masa. Karena banyaknya waktu yang beliau habiskan bersama
Rasulullah maka tak heran jika beliau salh satu periwayat yang sangat banyak
riwayatnya sepadan dengan hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat-sahabat
yang lain pada masanya. Beliau meriwayatkan sekitar 2210 hadits yang beliau
riwayatkan.
Tiada
yang menandigi Aisyah dalam meriwayatkan hadits dari kalangan shahabatpun.
Kalau memang Abu Hurairah lebih banyak meriwayatkan hadits, tapi hadits dari
Aisyah lebih teliti dan lebih kuat darinya. [11]
F.
Kecerdasan Aisyah dibidang Fiqh dan Ahkamusy Syari’ah
Salah
satu bukti kecerdasan Aisyah dalam Fiqh dan Ahkam Syar’iyah adalah begitu
banyak para pemuka-pemuka shahabat bertanya seputar hukum-hukum Islam kepada
beliau. Dan beliau berhasil memberikan jawaban yang memuaskan sehingga beliau
dijadikan rujukan para pemuka-pemuka
shahabat untuk meminta fatwa dari beliau. Mengenai hal ini ‘Atha’ bin Abi
Rabbah berkata,” Aisyah adalah orang yang paling ahli dalam fiqh dan paling cemerlang
pemikirannya.”
Kecerdasan
ini mulai tampak ketika para shahabat mulai cenderung berijtihad pasca wafatnya
Rasulullah. Metode ijtihad shahabat dalam menyikapi masalah-masalah yang baru
muncul sangat bervariasi. Namun, secara global dapat ditarik kesimpulan bahwa
ijtihad tersebut tidak keluar dari dua karakter utama. Karakter pertama, yaitu
kelompok yang menggunakan aspek nalar untuk menggali sprit hukum dari bunyi harfiyah teks untuk
menemukan illatul hukmi sebagai patokan beranalogi (qiyas) yang dipelopori oleh
Umar bin Khaththab dan Ibnu Mas’ud. Karakter kedua, kelompok yang memfokuskan
ijtihadnya dengan mementingkan riwayat dan pendalaman makna nash syari’at yang
dipelopori oleh Ibnu Umar dan Zaid bin Tsabit.
Namun,
berbeda dengan Aisyah, beliau membuat terobosan baru. Beliau secara brilliant
mampu menggabungkan kedua trend yang ditempuh para shahabat pada masa itu serta
berani mengartikulasikan dengan pemikirannya secara mandiri. Sehingga lahirlah
konsep baru dan segar dalam konsep fiqh Islami.[12] Bahkan karena keluasan ilmu beliau, Aisyah
menjadi penasehat pemerintah pada masa Abu Bakr, Umar, dan Utsman.
Beliau
juga menggali banyak hukum fiqh dari Rasulullah diantaranya tentang hukum jihad
bagi wanita. Karena semangatnya untuk ikut menyertai jihad mendorongnya untuk
meminta izin kepada Rasulullah agar beliau agar dapat mengikuti jihad di jalan Allah, karena beliau sering
mendengar keutamaan jihad dan mujahidin.
Aisyah
bercerita,” Aku pernah izin kepada Nabi agar diizinkan ikut berjihad. Beliau
menjawab,” Jihad kalian(kaum wanita) adalah haji.” (HR. Bukhori)
G.
Kecerdasan Aisyah tentang Faraidh
Kaum
muslimin sepeninggal Rasulullah banyak kebingungan untuk menanyakan tentang
hukum faraidh. Ada diantara mereka yang menanyakan apakah Aisyah ahli dalam
masalah faraidh. Mereka merasa disiplin ilmu ini tidak banyak dikuasai orang.
Dan Aisyah termasuk salah satu orang yang ahli dan menguasai ilmu ini.
Para
pemuka shahabat bertanya tentang faraidh kepada Aisyah. Dari Al-A’masy dari Abu
Adh-Dhuha dari Masruq, kami bertanya kepada Masruq, “Apakah Aisyah ahli dalam
faro’idh. Maka beliau menjawab,”Demi Allah, sungguh aku melihat para shahabat
bertanya kepada Aisyah tentang faraidh.”
Begitulah
beliau menyinari kegelapan ketidak tahuan dan kebingungan yang melanda ummat.
Beliau laksana lentera dikegelapan yang menyinari dan menunjukkan pemahaman
yang benar atas izin Allah.
H.
Kecerdasan Aisyah dalam Balaghah dan Thalaqatul Lisan
Jika dalam masalah periwayatan
hadits, keilmuan, kezuhudan dan kewara’an banyak para ulama’ yang sejajar
dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Tapi jika dalam bidang sastra, kefasihan
berbicara ia tidak dapat ditandingi oleh wanita manapun sepanjang masa.
Kesempurnaan sastra dan keindahan
yang dikuasai Ummul Mu’minin diakui oleh Imam Adz-Dzahabiy. Ia
menyatakan,”Disamping keutamaannya yang banyak itu Aisyah mmiliki thalaqatul
lisan dan kemampuan sastra yang sangat baik sekali.”
Tidak diragukan
lagi bahwa Aisyah sangat menguasai banyak sastra dan 1000 puisi labid. Karena
sejak kecil beliau diasuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi sastra yaitu
ayahnya sendiri. Yang dikenal sangat fasih dalam berbicara dan paling
mengetahui seluk beluk masyarakat Arab. Lalu berpindah ke rumah tangga nubuwah
yang sarat dengan nilai-nilai Al-Qur’an sehingga beliau mempelajari kehebatan
gaya bahasa Al-Qur’an dengan sangat memukau. Dari kamarnya yang terletak
disamping masjid Nabawi ini beliau sering mendengarkan pidato dari
delegasi-delegasi berbagai kabilah Arab serta pidato sambutan Rasulullah ke
bebagai delegasi tersebut.
Factor-faktor inilah yang mencetak
Aisyah mampu mengeluarkan kata-kata agung bagaikan pancaran sinar kenabian.
Jika direnungkan sedikit saja perkataannya akan menemukan nilai sastra dan terpesona olenhya. Bukti yang
tampak adalah cerita tentang haditul ifki yang dipaparkan sendiri olehnya.
Mengenai ini Asy-Sya’biy
berkomentar,” Apa yang kalian ragukan dari hasil pendidikan Nabi!!” Karena
memang tiada yang bisa menadingi dalam hal kefasihan dan kekuatan sastranya.[13]
Aisyah juga pandai berdebat dan
memenangkan perdebatan. Namun tentunya masih dalam norma-norma syar’i. Suatu
hari disaat Rasulullah sedang berada dirumah Aisyah, istri-istri beliau yang
lain mengutus Fathimah untuk menyampaikan tuntutan mereka agar berbuat adil
terhadap Aisyah.
Fathimah minta izin untuk bertemu
Rasulullah, dan Rasulullah pun mengizinkan. Ketika Fathimah masuk dan berkata,
“ Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri-istrimu mengutusku agar engkau berbuat
adil terhadap putri Abu Quhafah. Aisyah hanya terdiam. Lalu Rasulullah
menjawab, “Apakah engkau mencintai apa yang aku cintai” Fathimah menjawab,
“Tentu.” Rasulullah meneruskan,” Kalau begitu, cintai apa yang aku cintai.”
Mendegar penuturan Rasulullah ini Fathimah kembali menemui istri-istri beliau
yang lain dan menceritakan pembicaraan kepada Rasulullah dan jawaban beliau.
Karena merasa belum memenuhi
harapannya, mereka mengutus Zainab untuk meminta keadilan dari Rasulullah.
Sesampainya dirumah Aisyah, Zainab meminta izin untuk masuk dan mendapat izin
dari Rasulullah untuk masuk. Setelah masuk Zainab berkata,” Sesungguhnya
istri-istrimu yang lain mengutusku agar engkau berbuat adil terhadap putri Abu
Quhafah.”
Aisyah berkata,” Zainab terus
berbicara dan menyindirku. Sedangkan aku hanya diam dan menunggu isyarat dari
Rasulullah. Ketika aku menangkap isyarat Rasulullah meangizinkan aku untuk
membantah dan membela diri. Maka aku langsung membantah ucapan Zainab sampai
dia benar-benar terdiam. Lalu rasulullah bersabda,” Sesungguhnya dia adalah
Putri Abu Bakr.”[14]
Itulah kepandaian Aisyah dalam
berdebat dan membela diri. Meskipun begitu beliau tetap menunggu restu dan
isyarat dari Rasulullah untuk menbela dirinya. Kita bisa meneladaninya dan
menjadikan suri tauladan yang baik dalam mu’amalah keseharian kita.
I.
Kecerdasan Aisyah dibidang kesehatan dan medis
Hisyam
bin Urwah menceritakan dari ayahnya yang berkata,” Sungguh aku telah bertemu
Aisyah dan aku tidak lebih pintar darinya, hal-hal yang fardhu, sunnah, syair,
yang paling banyak meriwayatkan, sejarah Arab, ilmu nasab, dan kedokteran. Maka
aku bertanya,”Wahai bibi, kepada siapa anda belajar ilmu kedokteran.” Maka
beliau menjawab,”Ketika aku sakit, aku perhatikan gejala-gejalanya, dan aku
mendengar dariorang-orang sakit lalu aku menghafalnya.”
J.
Kecerdasan Aisyah sebagai Pendamping suami
Dalam
kehidupan rumah tangga ini Aisyah menjadi guru bagi wanita seantero dunia
sepanjang masa. Beliau mengajarkan untuk bergaul dengan suaminya dengan
sebaik-baik cara. Mengajarkan bagaimana mendatangkan kebahagiaan dihati
suaminya dan menyingkirkan segala sesuatu yang menyusahkan suami dari segala
rintangan da’wah di jalan Allah.
Beliau
juga istri yang paling baik jiwanya, pemurah, bersabar bersama Rasulullah dalam
menghadapi kefakiran dan rasa lapar hingga beberapa hari lamanya tidak terlihat
asap mengepul dari dapur beliau. Beliau hanya makan kurma dan air.
Ketika
kemewahan dunia berpihak kepada kaum muslimin, dan beliau diberi seratus
dirham, beliau langsung menshadaqahkan kepada fakir miskin. Kekayaan tidak
membuatnya congkak, dan kemiskinan tidak membuat beliau berkecil hati. Beliau
juga tidak suka untuk mengganggu tidur Raslullah, bahkan saat beliau ditusuk
Abu Bakr dengan jarinya kepinggang beliau dan Rasulullah tidur dipangkuannya.
K.
Kecerdasan Emotional Ketika Menghadapi Haditsul Ifki
Aisyah
yang suci -putri dari sahabat Nabi yang jujur- ditimpa musibah paling besar
yang mungkin menimpa perempuan bermartabat sepertinya. Ia dituduh berbuat zina.
Alangkah berat ujian yang ia terima. Tuduhan itu tidak hanya beredar di
kalangan terbatas keluarga dan sahabat dekat, tetapi beredar ke masyarakat dan
dibumbui dengan sejumlah propaganda yang licik.
Istri seorang Rasul yang sangat
disegani sekaligus dicinta oleh ummat dituduh telah melakukan zina. Zina yang
dipandang sebagai aib dan dosa besar bagi setiap perempuan, terlebih jika dilakukan
oleh istri Nabi, maka hal tersebut sungguh menjadi suatu masalah dan ujian yang
berat bagi ‘Aisyah. Hanya orang dengan kepribadian matang, tangguh dan cerdas
seperti ‘Aisyah yang dapat menanggung ujian tersebut dan mampu menemukan solusi
sehingga dapat melewati cobaan dengan baik. Tentu wanita muslimah di jaman
sekarang pun dapat mengambil hikmah, meneladani sikap dan tindakan ‘Aisyah
ketika menghadapi masalah dan ujian yang dihadapinya.
Sebelum membahas lebih lanjut
tentang sikap dan cara-cara ‘Aisyah dalam menyelesaikan masalah, ada baiknya
mengulas sedikit mengenai definisi masalah. Manusia hidup tentu akan bertemu
dengan masalah. Hal tersebut seperti bagian dari skenario yang ditentukan Allah
baik untuk pembelajaran maupun untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan
kekuasaan-Nya.
Tanpa sadar kadang masalah yang
datang dapat menyita pikiran kita. Disinilah diperlukan sikap dan pengetahuan
agar dapat menghadapi masalah dan menemukan solusi yang tepat dan tentunya
tidak semakin menjerumuskan kepada masalah lain. Dan yang lebih utama,
bagaimana bersikap dan bertindak menghadapi masalah sesuai dengan petunjuk yang
diberikan Allah.
Terkadang untuk menyelesaikan
masalah butuh waktu, namun terkadang masalah dapat selesai dengan cepat.
Bagaimanakah ibunda ‘Aisyah menghadapi persoalannya kala itu?
Persoalan yang dihadapi ‘Aisyah
adalah berita bohong. Para kaum munafik menyebarluaskan isu tentang kasus
perzinaan ‘Aisyah dengan Shafwan bin Mu’aththal. Ketika pulang dari sebuah
peperangan, ‘Aisyah terlambat dari rombongan. Ia pulang diantar Shafwan dan
menaiki untanya. Setelah itu isu tentang perzinaan ini pun menyebar luas,
laksana api yang dengan cepat membakar rerumputan kering.
Persoalan ‘Aisyah kala itu ada dua
hal, pertama, ‘Aisyah mendapati dirinya sendirian karena sudah ditinggal
rombongan pasukan. Kedua, ketika isu ini beredar di luar, ia tidak mengetahui
bahkan tidak terlintas di dalam pikirannya sama sekali. Lantas apakah yang
dilakukan ‘Aisyah untuk menghadapi dua persoalan tersebut?
Harus diketahui bahwa sebuah
persoalan tidak akan berarti jika orang yang tertimpa atau memiliki hubungan
dengan persoalan tersebut tidak menyadarinya. Begitu pun dengan ‘Aisyah, ia
sadar betul akan adanya masalah yang sedang dihadapi. Ketika kembali dari
mencari kalung yang hilang dan mendapati rombongan pasukan sudah pergi
meninggalkannya, ‘Aisyah sadar kalau ia sedang dalam masalah. Ini persoalan
pertama.
Sedangkan terhadap persoalan kedua,
dimana ia dituduh melakukan zina, ‘Aisyah segera merasa kalau sedang ada
masalah ketika diberitahu Ummu Misthah tentang isu yang sedang beredar di
masyarakat. Pada awalnya ‘Aisyah tidak merasakan hal itu. Maka ia heran atas
celaan Ummu Misthah terhadap anaknya, dan ia pun membelanya karena Misthah
termasuk salah satu sahabat yang ikut dalam perang badar.
Ibunda kita ‘Aisyah mampu menahan
emosinya di saat menghadapi persoalan yang menimpanya. Padahal situasi yang ia
alami kala itu sangat mencekam. Tertinggal sendirian oleh rombongan pasukan di
medan perang. Dan ia pun tetap dapat mengontrol dirinya ketika mendengar isu
yang sesungguhnya dapat membuatnya tertekan. Tentu saja ‘Aisyah kaget dan
limbung atas isu-isu yang tersebar luas menyangkut dirinya. Namun meskipun
begitu, ‘Aisyah tetap sabar karena mengingat firman Allah,
“Maka hanya bersabar itulah yang
terbaik (buatku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa
yang kamu ceritakan. (Yusuf
[12]:18)
Ketegaran hati yang dimiliki ‘Aisyah
tercermin dengan selalu memohon perlindungan Allah melalui doa, shalat, zikir,
berbaik sangka kepada Allah dan umat muslim yang terkait dengan isu tentang
dirinya, serta mengharap datangnya kebaikan. Sisi keimanan secara umum juga
sangat berpengaruh dalam hal ini, sehingga keimanan harus tetap dijaga pada
setiap fase penyelesaian masalah.Semua inilah yang dilakukan oleh ‘Aisyah.
Meskipun isu-isu itu mampu membuat ‘Aisyah terpukul, tapi ia tetap tidak
kehilangan akal sehat.
Terhadap persoalan pertama, ‘Aisyah
menyimpulkan kalau rombongan pasukan memang sudah meninggalkannya, dan ia
tertinggal sendirian. Hal ini membuat ‘Aisyah mengkhawatirkan diri sendiri
kalau sampai meninggal dunia, mendapat musibah, atau mengalami tindak
kekerasan. Sedangkan terhadap persoalan kedua, ‘Aisyah sudah menyimpulkan dan
mengetahuinya. Isu yang beredar saat itu adalah ia dituduh berbuat zina.
‘Aisyah sudah memikirkan tuduhan tersebut dan konsekuensi yang mungkin timbul
karenanya.
‘Aisyah memikirkan solusi yang
mungkin berguna untuk menyelesaikan persoalannya. Yang terbersit dalam benak
‘Aisyah waktu itu adalah sejumlah hal berikut:
1.
Menyusul rombongan pasukan. Tapi ia tidak memiliki kendaraan,
sedang malam sudah gelap dan ia pun rasanya tidak mungkin berjalan sendirian
2.
Tetap berada di tempat semula sambil bersembunyi
3.
Pergi ke tempat lain
4.
Menunggu di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau
sebagian mereka akan kembali lagi ke tempat itu. Sebab apabila rombongan tahu
kalau ia tidak ada, tentu mereka akan segera kembali ke tempat semula untuk
mencari.
5.
Mencari seseorang yang mungkin tertinggal dari rombongan seperti
yang ia alami, atau menunggu seseorang yang mengikuti rombongan pasukan dari
jauh.
Sedangkan terhadap persoalan kedua, yang terbersit pada benak
‘Aisyah adalah;
1.
Membela diri
2.
Menyerahkan hal itu kepada Rasul, sementara ia tetap berada di
rumahnya. Namun sepertinya ‘Aisyah melihat kalau Rasulullah terpengaruh dengan
isu tersebut, di samping isunya sudah menyebar luas di masyarakat
3.
Pulang ke rumah bapak ibunya, bersabar dan menyerahkan semuanya
kepada Allah
4.
Menerapkan solusi paling tepat di antara solusi-solusi yang ada
‘Aisyah memilih untuk tetap berada
di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian dari mereka kembali
lagi untuk menjemput. Benar saja, Shafwan datang. Waktu itu, ‘Aisyah menyangka
kalau Shafwan memang diutus rombongan untuk menjemputnya. Oleh karena itu,
‘Aisyah langsung menaiki unta Shafwan tanpa berbicara sedikit pun. Dan
karena anggapan seperti ini juga, ‘Aisyah tidak pernah terbetik dalam
pikirannya bakal ada isu-isu miring tentang dirinya. Sebab ia menyangka bahwa
Shafwan memang diutus rombongan untuk mencari dan membawanya menyusul
rombongan.
Sedangkan mengenai masalah tuduhan
zina, ‘Aisyah meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang ke rumah keluarganya.
Sebab persoalan ini butuh kejelasan lebih lanjut selagi belum turun wahyu yang
menjelaskannya. Selain itu, menghadapi persoalan semacam ini juga butuh kepala
dingin agar bisa berpikir tenang. Kepulangan ‘Aisyah ke rumah orangtuanya
mengandung banyak himah dan kecerdikan. Oleh karena itu, Rasul pun segera
memenuhi keinginan ‘Aisyah tersebut.
Inilah
cara cerdas yang dilakukan oleh ibunda kita Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu
anha yang selalu mengedepankan iman dalam menghadapi masalah dan menyerahkan
semuanya kepada Allah. Semoga kita bisa mengambil teladan yang suci dari
beliau.
L.
Waktu Wafat Ummul Mu’minin
M.
Sepeninggal beliau lahirlah banyak ulama’-ulama’ terkemuka dan
semakin banyak pula generasi-generasi yang meneliti celah-celah kehidupan
beliau untuk dijadikan pelajaran bagi para penerus penjaga risalah Islam yang
menginginkan kemuliaan dibawah naungan ilmu dan iman hingga hari kiamat kelak.
Beliau wafat pada malam Selasa tanggal 17 Ramadhan tahun 57 Hijrah disaat
beliau berumur 66 tahun.[15]
N.
Diakhir episode perjalanan hidupnya yang panjang dan diisi dengan
ibadah, kezuhudan, dan mengukir hidupnya sebagai ahli fiqih Rabbani, serta
memberikan tauladan dan mewariskan keilmuan bagi generasi penerusnya, Ibunda
kita telah pergi menuju ketinggian dan kemuliaan disisi Rabbul ‘Izzati. Beliau
kembali ke Rafiqul A’la untuk beristirahat dan menghadap kepada Allah. Semoga
Allah mengampuni, membalas semua jasanya, serta meridhainya.
IV.
PENUTUP
Setelah
menyelami lembaran kehidupan Ummul Mu’minin Aisyah binti Abu Bakr yang penuh
dengan pengabdian, dan pengorbanan kepada Islam. Dan mengerahkan segala upaya
dalam hidupnya untuk mendalami segala bidang keilmuan langsung dari sumbernya
yang jernih dan memberikan tauladan yang baik bagi generasi setelahnya, kita
dapat melihat betapa agungnya lembaran kehidupan beliau.
Kita
bisa belajar kepada beliau bagaimana cara mengendalikan hati ketika ujian yang
terberat datang mengahmpirinya. Serta ketabahan dan kesabaran yang luar biasa
yang terpancar dari jiwa beliau yang mulia. Kita juga belajar dari beliau tentang
metode belajar yang telah menggunakan segala waktu dan keadaan untuk dijadikan
sebagai sarana belajar. Sehinnga kita bisa menyumbangkan pengetahuan dan
keilmuan kepada ummat manusia dan mengembalikan kejayaan Islam yang sempat
pudar beberapa puluh terakhir ini.
Semoga
kita bisa mengambil pelajaran serta menjadikan beliau sebagai sosok idola dalam
kehidupan ini serta mampu mengobarkan semangat kita dalam mencari dan menuntut
ilmu serta mengajarkannya kepada generasi sesudah kita. Sehingga kita mewariskan
kepada mereka warisan yang sangat bermanfaat dalam kehidupan dan menjadi amal
jariyah bagi kita semua.
Wallahu
a’lam bish-shawab
[2] Al-Mujadilah: 11
[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Adiy dan Thabraniy dalam kitab Al-Kabiir
dari Anas. Juga diriwayatkan oleh Thabraniy dalam kitab Ash-Shaghir dan
Al-Khatib Al-Baghdadiy dari Husain bin Ali. Thabraniy juga meriwayatkan dalam
kitab Al-Ausath dari Ibnu Abbas. Tamam juga meriwayatkan dari Ibnu Umar dan
Baihaqi meriwayatkan dari Abu Sa’id. Al-Albanimenyatakan hadits ini shahih
dalam kitab “Shahihul Jami’ no. 3913.
[4] Diriwayatkan Al-Bukhariy no. 97, kitab Al-Ilm, dan Muslim no. 154
dalam kitab Al-Iman.
[5] Wanita-wanita Mulia disekitar Nabi, Abu Salsabil Muhammad Abdul
Hadi hal. 86
[6] Diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalam Ath-Thabaqat (8 /276,277),
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Fathul Baari’ (8/207)
[7] Wanita-wanita Mulia disekitar Nabi, Abu Salsabil Muhammad Abdul
Hadi hal. 90
[8] Wanita-Wanita Mulia di Sekitar Nabi, Abu Salsabil Muhammad Abdul
Hadi hal. 90
[9] Al-Ahzab: 28-29
[10] 35 Sirah Shahabiyah Mahmud Al-Mishri jil. 1 hal. 125
[11] 35 Sirah Shahabiyah jil. 1 Mahmud Al-Mishri hal. 190
[12] Qowa-id Ushuliyah Al-Mustanbathah min Fiqhi Sayyidati Aisyah,
Doktorah Du’a Mazin
[13] 35 Sirah Shahabiyah Mahmud Al-Mishri jil.1 hal. 194
[14] 35 Sirah Shahabiyah Mahmud Al-Mishri jil. 1 hal. 129
[15] Wanita-wanita Teladan dimasa Rasulullah, Mahmud Mahdi Al-Istambuli
dan Mushthafa Abu Nashr Asy-Syalabiy hal 53.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar