Minggu, 01 Desember 2013

Menyingkap Kecerdasan Aisyah



       I.            PENDAHULUAN
Sosok Ummul mu’minin yang satu ini adalah lambang kecerdasan dalam Islam hingga hari kebangkitan kelak. Karena tidak ada satupun wanita setelahnya yang menyaingi kepandaian dan kecerdasannya. Beliaulah Aisyah binti Abu Bakr Shiddiqah binti Ash-Shiddiq , wanita yang paling dicintai Rasulullah, yang gambarnya dibawa oleh malaikat yang diperlihatkan kepada Rasulullah dalam mimpinya dan diwahyukan bahwa ialah istrinya didunia dan diakhirat kelak.
Beliau adalah guru bagi laki-laki pada zamannya. Semua bidang keilmuan beliau kuasai sampai-sampai para pemuka shahabatpun merujuk pada beliau tentang masalah-masalah hukum. Beliau telah membuktikan kepada dunia bahwa wanita bisa mengungguli laki-laki dalam masalah keilmuan bahkan dalam urusan politik dan siasat perang. Sampai-sampai sebagian ulama’ mmenganggap bahwa Aisyah lebih mulia daripada ayahnya.
Beliau tumbuh dilingkungan yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Ayahnya adalah ahli sejarah dan sastra Arab yang menjadi pusat keilmuan dimasanya. Dari ayahnyalah beliau meneguk banyak pengetahuan. Setelah beerumur 6 tahun beliau dipersunting oleh Rasulullah dan pada umur 9 tahun beliau menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di rumah Nubuwah. Madrasah kedua beliau untuk menempa diri, menggembleng , serta mengembangkan wawasan keilmuan beliau dalam bimbingan manusia paling mulia sepanjang masa yang menjadi suaminya sendiri, Rasulullah Shalalllahu ‘alaihi Wasllam. Sehingga tidak mustahil jika beliau mencapai derajat keilmuan yang sangat tinggi sampai tak ada yang menandinginya. Sehingga sudah saatnya bagi kita untuk menyusuri lembaran-lembaran hidupnya serta merasakan sejuknya ilmu beliau yang langsung diambil dari mata air nubuwah sebagai pelajaran dalam kehidupan.



    II.            LANDASAN TEORI
Sejak datangnya Islam Allah ingin memberantas dan menyingkap kegelapan di bumi yang terselimuti kebodohan, kezhaliman, kesyirikan, dan kebathilan. Allah mulai menyingkap tabir-tabir kegalapan perlahan-lahan dengan peintah untuk membaca. Dari wahyu yang Allah sampaikan kepada Rasulullah melalui Jibril ketika Rasulullah bertahannuts di goa Hira’.
Allah juga menyampaikan pula kepada Ummahatul Mu’minin dan kepada kaum wanita pada umumnya untuk mengingat apa yang telah dibacakan dari wahyu Allah dirumah-rumah mereka. Allah berfirman:
وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفاً خَبِيراً
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabimu). Sungguh, Allah Maha Lembut, Maha Mengetahui.” [1]
Allah juga meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat karena Allah begitu tinggi menjunjung ilmu pengetahuan dan memeuliakan orang-orang yang berilmu. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan Memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan Mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.”[2]
Rasulullah pun mewajibkan bagi setiap muslim untuk mencari ilmu. Demi tersebarnya cahaya keilmuan yang menerangi dunia dari gelapnya kebodohan dan menyelamatkan manusia dari jurang kebinasaan menuju tingginya syurga yang bisa dicapai dengan mempelajari ilmu dan mengajarkan kepada manusia. Rasulullah bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim.[3]
Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:
أََيُّمَا رَجُلِ كَانَتْ لَهُ وَلِيْدَةٌ, فَعَلَّمَهَا فَأَحْسَنَ تَعْلِيْمَهَا, وَ أََدَّبَهَا فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَها, ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا, فَلَهُ أَجْرَانِ.
"Siapa yang memiliki budak perempuan, lalu memberi pelajaran dan mendidiknya dengan baik, kemudian memerdekakannya lalu menikahinya, maka dia mendapat dua pahala”.[4]
Semenjak mendengar hadits ini para shahabiyah terkobar semangatnya untuk memburu ilmu. Sampai –sampai mereka menuntut kepada Rasulullah untuk mengajarkan kepada mereka ilmu-ilmu dien sebagai pelipur bagi hati-hati yang haus ilmu.
Dalam hal inilah Ummul Mu’minin Aisyah yang menemoati posisi terdepan dalam barisan para pemburu ilmu. Bahkan beliau dapat langsung jernihnya ilmu dari sumbernya yaitu suaminya guru bagi manusia sepanjang zaman Raasulullah Shallalahu ‘alaihi Wasallam.

 III.            PEMBAHASAN
A.    Selayang Pandang Riwayat Hidup Aisyah
Nama beliau  ialah Aisyah binti Abu Bakr Abdullah bin Abu Quhafah Utsman bin Amir Al-Qurasyiyah At-Taimiyyah. Ibunya adalah Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir. Ayah beliau adalah orang yang pertama kali beriman dengan risalah Rasulullah dari kalangan laki-laki dewasa. Prinsip yang digenggam Abu Bakr adalah “Jika Rasulullah mengucapkan hal itu maka beliau pasti benar. Dia adalah orang yang tiada matahari terbit menyinari orang dari kalangan Nabi dan Rasul yang lebih baik daripada beliau.” [5]
Keutamaan ibunya dipaparkan dalam hadits yang disampaikan Abu Bakr bin Abu Khaitsamah, dari Ali bin Zaid, dari Qasim bin Muhammad bahwa ketika Ummu Ruman -istri Abu Bakr- diantar ke kuburannya, Rasulullah bersabda:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَإِلَى الْحُوْرِالْعِيْنِ فَالْيَنْظُرْ إِلَى أُمُّ رُمَّانَ
“Barangsiapa yang ingin melihat bidadari Jannah maka lihatlah Ummu Rumaan.”[6]
Beliau lahir sekitar tahun ke 4 atau ke 5 nubuwah. Gelar beliau adalah Ummu Abdillah yang diambil dari nama anak dari Asma’, yaitu Abdullah bin Zubair. Julukan beliau adalah Al-Mutawaffiqah, Ash-Shadiqah, Al-Mubarra’ah dan Al-‘Atiqah binti Al-Atiq. Beliau dilahirkan pada masa Islam dan kedua orangtuanya  telah memeluk Islam.[7]

B.     Pendidikan Abu Bakr Kepada Aisyah
Sejak awal mula pertumbuhannya ayahandanya menaruh perhatian besar kepadanya ketika ia menampakkan keberkahan, kepandaian, dan kecantikan parasnya. Pertumbuhannya adalah factor utama dalam membentuk kepribadiannya dimasa kanak-kanak. Aisyah lahir dalam pasangan suami istri yang saling mencintai. Mereka berdua mendidik Aisyah untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, cinta Islam dan rela berjuang demi membela dan rela beramal karena Islam. Mereka juga menanamkan kejujuran kepada Aisyah.
Abu Bakr menghibahkan seluruh hidupnya untuk Islam. Memberi makanan dan minuman serta menumbuhkembangkan mereka dengan santapan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikianlah seharusnya kita menanamkan sifat-sifat utama pada diri anak. Tentunya setelah kita sendiri memeiliki sifat trersebut dalam rangka mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah.[8]

C.    Pendidikan Rasulullah Kepada Aisyah
Diantara pendidikan Rasulullah kepada Aisyah adalah ketika Aisyah dan para istri beliau merengek-rengek meminta tambahan nafkah dan perhiasan. Rasulullah mendiamkan mereka selama 29 hari. Setelah 29 hari berlalu Rasulullah mendatangi istrinya lalu menawarkan pilihan yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah.
َيا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحاً جَمِيلاً وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْراً عَظِيماً -٢٩-
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” Dan jika kamu menginginkan Allah dan Rasul-Nya dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah Menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu.”[9]
Beliau mulai mengultimatum Aisyah dengan sabdanya,” Wahai Aisyah, aku ingin mengemukakan pilihan kepadamu, aku ingin kamu tergesa-gesa untuk menjawabnya hingga kamu berkonsultasi dengan orangtuamu.” Aisyah pun menjawab,” Apa itu ya Rasulullah?” kata Aisyah. Lalu Rasulullah membaca ayat diatas. Aisyah pun segera menjawab,”Apakah untuk memilihmu aku harus berkonsultasi kepada oranagtuaku terlebih dahulu? Jelas saya memilih Allah, Rasul-Nya dan negri akhirat. Aku mohon rahasiakan jawabanku ini terhadap teman-temanku.” Rasulullah bersabda, ”Tiada seorangpun dari mereka jika bertanya kepadaku melainkan aku akan menjawabnya. Karena sesungguhnya aku tidak diutus untuk menyusahkan dan mempersulit. Tetapi aku diutus untuk memberi pengajaran dan memudahkan.”Lalu semua istri-istri Rasul memilih Allah dan Rasul-Nya serta negri akhirat yang abadi beserta ridha Allah untuk mereka semua.
Rasulullah juga mengajarkan kepada Aisyah agar selalu bersikap santun. Karena sikap ini adalah salah satu shifat Allah dan dianjurkan untuk menanamkan pada diri seorang hamba. Rasulullah pernah menasehati Aisyah pada suatu hari. Rasulullah bersabda:
عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ فَإِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِيْ عَلَيِْهِ مَا لاَ يُعْطِيْ عَلَى الْعُنْفِ وَلاَ يُعْطِيْ عَلَى مَا سِوَاهُ
"           Kamu harus bersikap santun, karena Allah Maha Santun, dan menyukai sikap santun. Dan Allah memberi kepada orang yang santun apa yang tidak Ia berikan kepada orang yang kasar, dan apa yang tidak Dia berikan kepada selainnya.”

D.    Cerdas dan Pintar
Kecerdasan dan kepintaran bisa saja terlihat dari cerita alur kehidupan beliau. Walaupun beliau tidak pernah membanggakan diri dengan kepandaian dan kepintarannya. Kecerdasan ini Nampak ketika suatu malam tiba giliran Rasulullah menginap di rumah beliau.
Aisyah bercerita,” Ketika tiba giliran Rasulullah dirumahku, beliau mulai membuka baju luarnya, membuka sandal dan meletakkan didekat kakinya, lalu membentangkan ujung kainnya di atas kasur. Lalu beliau berbaring dengan tenang sehingga mengira aku telah tertidur pulas. Tiba-tiba beliau bangun dan mengenakan baju luarnya dengan pelan-pelan lalu keluar dari kamarku dengan pelan-pelan. Melihat kejadian itu, aku segera mengambil penutup kepala dan mengarungkan kain pada bagian atas tubuhku lalu memmbuntuti beliau dari belakang.
Ternyata Rasulullah ke perkuburan Baqi. Disana Rasulullah berdiri lama sekali lalu mengangkat tangannya 3 kali, lalu membalikkan tubuhnya. Ketika kulihat beliau mempeercepat langkahnya aku pun lebih cepat jalannya. Ketika beliau berlari akupun berlari dan aku berhasil masuk ke rumah lebih awal. Ketika beliau sampai dirumah dan masuk rumah Rasulullah bertanya,” Ada apa denganmu wahai Aisy! Mengapa nafasmu tersengal-sengal!”
Aku menjawab,” Tidak ada apa-apa. Rasulullah mendesak,” Engkau mau memberi tahuku aau biar Allah yang memberi tahu!!” Aku pun menjawab,” Wahai Rasulullah, biarlah ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu,(lalu aku menceritakan apa yang aku lakukan). Setelah selesai, Rasulullah berkata,”Berarti bayangan hitam  didepanku tadi adalah kamu!” Aku jawab,”Benar.” Rasul memukul dadaku dengan tangannya hingga aku merasa sesak, kemudian beliau berkata,” Apakah kamu mengira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan menzhalimimu!” Aku berkata dalam hati,”Sehebat apapun aku menyembunyikan maka pasti Allah akan mengetahuinya.” Maka saat itu aku jawab dengan tulus,’Benar.’
Beliau langsung menjelaskan,”Bahwa ketika kamu melihatku melakukan itu, Jibril datang menemuiku dan memanggilku dengan suara yang tidak kamu dengar. Dia tidak mungkin masuk karena kamu siap-siap tidur. Ketika aku mengira bahwa kamu telah tertidur pulas, aku segera keluar dengan pelan-pelan, karena takut membangunkanmu. Jibril berkata kepadaku,” Sesungguhnya Rabbmu menyuruh agar engkau ke perkuburan Baqi, untuk memohonkan ampun orang-orang yang telah dikubur disana.”
Mendengar penuturan itu, aku langsung bertanya,” Lantas apa yang harus kukatakan jika datang ke kuburan?” Rasulullah pun menjawab,” Katakanlah, ‘Kesejahteraan bagimu wahai para penghuni kubur yang terdiri dari orang-orang muslim dan mu’min. Semoga Allah mengasihi yang telah mendahului dan yang akan menyusul diantara kita. Dan sesungguhnya kami akan menyusul kalian insya Allah.”
Lihatlah, betapa cerdiknya Aisyah. Ketika Rasulullah marah beliau mengalihkan pembicaraan dari hal yang mengundang kemarahan beliau. Dan merubah alur pembicaraan yang mengarah ke ilmu pengtahuan tentang hukum syari’at ajaran islam.[10]
E.     Kecerdasan Aisyah dalam bidang Hadits
Dalam dunia hadits Aisyah sangat banyak memberi sumbangsih yang tak terhingga. Beliaulah penghantar sebagian besar hadits Rasulullah kepada ummat Islam disepanjang masa. Karena banyaknya waktu yang beliau habiskan bersama Rasulullah maka tak heran jika beliau salh satu periwayat yang sangat banyak riwayatnya sepadan dengan hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat-sahabat yang lain pada masanya. Beliau meriwayatkan sekitar 2210 hadits yang beliau riwayatkan.
Tiada yang menandigi Aisyah dalam meriwayatkan hadits dari kalangan shahabatpun. Kalau memang Abu Hurairah lebih banyak meriwayatkan hadits, tapi hadits dari Aisyah lebih teliti dan lebih kuat darinya. [11]

F.     Kecerdasan Aisyah dibidang Fiqh dan Ahkamusy Syari’ah
Salah satu bukti kecerdasan Aisyah dalam Fiqh dan Ahkam Syar’iyah adalah begitu banyak para pemuka-pemuka shahabat bertanya seputar hukum-hukum Islam kepada beliau. Dan beliau berhasil memberikan jawaban yang memuaskan sehingga beliau dijadikan rujukan  para pemuka-pemuka shahabat untuk meminta fatwa dari beliau. Mengenai hal ini ‘Atha’ bin Abi Rabbah berkata,” Aisyah adalah orang yang paling ahli dalam fiqh dan paling cemerlang pemikirannya.”
Kecerdasan ini mulai tampak ketika para shahabat mulai cenderung berijtihad pasca wafatnya Rasulullah. Metode ijtihad shahabat dalam menyikapi masalah-masalah yang baru muncul sangat bervariasi. Namun, secara global dapat ditarik kesimpulan bahwa ijtihad tersebut tidak keluar dari dua karakter utama. Karakter pertama, yaitu kelompok yang menggunakan aspek nalar untuk menggali  sprit hukum dari bunyi harfiyah teks untuk menemukan illatul hukmi sebagai patokan beranalogi (qiyas) yang dipelopori oleh Umar bin Khaththab dan Ibnu Mas’ud. Karakter kedua, kelompok yang memfokuskan ijtihadnya dengan mementingkan riwayat dan pendalaman makna nash syari’at yang dipelopori oleh Ibnu Umar dan Zaid bin Tsabit.
Namun, berbeda dengan Aisyah, beliau membuat terobosan baru. Beliau secara brilliant mampu menggabungkan kedua trend yang ditempuh para shahabat pada masa itu serta berani mengartikulasikan dengan pemikirannya secara mandiri. Sehingga lahirlah konsep baru dan segar dalam konsep fiqh Islami.[12]   Bahkan karena keluasan ilmu beliau, Aisyah menjadi penasehat pemerintah pada masa Abu Bakr, Umar, dan Utsman.
Beliau juga menggali banyak hukum fiqh dari Rasulullah diantaranya tentang hukum jihad bagi wanita. Karena semangatnya untuk ikut menyertai jihad mendorongnya untuk meminta izin kepada Rasulullah agar beliau agar dapat mengikuti  jihad di jalan Allah, karena beliau sering mendengar keutamaan jihad dan mujahidin.
Aisyah bercerita,” Aku pernah izin kepada Nabi agar diizinkan ikut berjihad. Beliau menjawab,” Jihad kalian(kaum wanita) adalah haji.” (HR. Bukhori)

G.    Kecerdasan Aisyah tentang Faraidh
Kaum muslimin sepeninggal Rasulullah banyak kebingungan untuk menanyakan tentang hukum faraidh. Ada diantara mereka yang menanyakan apakah Aisyah ahli dalam masalah faraidh. Mereka merasa disiplin ilmu ini tidak banyak dikuasai orang. Dan Aisyah termasuk salah satu orang yang ahli dan menguasai ilmu ini. 
Para pemuka shahabat bertanya tentang faraidh kepada Aisyah. Dari Al-A’masy dari Abu Adh-Dhuha dari Masruq, kami bertanya kepada Masruq, “Apakah Aisyah ahli dalam faro’idh. Maka beliau menjawab,”Demi Allah, sungguh aku melihat para shahabat bertanya kepada Aisyah tentang faraidh.”
Begitulah beliau menyinari kegelapan ketidak tahuan dan kebingungan yang melanda ummat. Beliau laksana lentera dikegelapan yang menyinari dan menunjukkan pemahaman yang benar atas izin Allah.

H.    Kecerdasan Aisyah dalam Balaghah dan Thalaqatul Lisan
Jika dalam masalah periwayatan hadits, keilmuan, kezuhudan dan kewara’an banyak para ulama’ yang sejajar dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Tapi jika dalam bidang sastra, kefasihan berbicara ia tidak dapat ditandingi oleh wanita manapun sepanjang masa.
Kesempurnaan sastra dan keindahan yang dikuasai Ummul Mu’minin diakui oleh Imam Adz-Dzahabiy. Ia menyatakan,”Disamping keutamaannya yang banyak itu Aisyah mmiliki thalaqatul lisan dan kemampuan sastra yang sangat baik sekali.”
Tidak diragukan lagi bahwa Aisyah sangat menguasai banyak sastra dan 1000 puisi labid. Karena sejak kecil beliau diasuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi sastra yaitu ayahnya sendiri. Yang dikenal sangat fasih dalam berbicara dan paling mengetahui seluk beluk masyarakat Arab. Lalu berpindah ke rumah tangga nubuwah yang sarat dengan nilai-nilai Al-Qur’an sehingga beliau mempelajari kehebatan gaya bahasa Al-Qur’an dengan sangat memukau. Dari kamarnya yang terletak disamping masjid Nabawi ini beliau sering mendengarkan pidato dari delegasi-delegasi berbagai kabilah Arab serta pidato sambutan Rasulullah ke bebagai delegasi tersebut.
Factor-faktor inilah yang mencetak Aisyah mampu mengeluarkan kata-kata agung bagaikan pancaran sinar kenabian. Jika direnungkan sedikit saja perkataannya akan menemukan nilai  sastra dan terpesona olenhya. Bukti yang tampak adalah cerita tentang haditul ifki yang dipaparkan sendiri olehnya.
Mengenai ini Asy-Sya’biy berkomentar,” Apa yang kalian ragukan dari hasil pendidikan Nabi!!” Karena memang tiada yang bisa menadingi dalam hal kefasihan dan kekuatan sastranya.[13]
Aisyah juga pandai berdebat dan memenangkan perdebatan. Namun tentunya masih dalam norma-norma syar’i. Suatu hari disaat Rasulullah sedang berada dirumah Aisyah, istri-istri beliau yang lain mengutus Fathimah untuk menyampaikan tuntutan mereka agar berbuat adil terhadap Aisyah.
Fathimah minta izin untuk bertemu Rasulullah, dan Rasulullah pun mengizinkan. Ketika Fathimah masuk dan berkata, “ Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri-istrimu mengutusku agar engkau berbuat adil terhadap putri Abu Quhafah. Aisyah hanya terdiam. Lalu Rasulullah menjawab, “Apakah engkau mencintai apa yang aku cintai” Fathimah menjawab, “Tentu.” Rasulullah meneruskan,” Kalau begitu, cintai apa yang aku cintai.” Mendegar penuturan Rasulullah ini Fathimah kembali menemui istri-istri beliau yang lain dan menceritakan pembicaraan kepada Rasulullah dan jawaban beliau.
Karena merasa belum memenuhi harapannya, mereka mengutus Zainab untuk meminta keadilan dari Rasulullah. Sesampainya dirumah Aisyah, Zainab meminta izin untuk masuk dan mendapat izin dari Rasulullah untuk masuk. Setelah masuk Zainab berkata,” Sesungguhnya istri-istrimu yang lain mengutusku agar engkau berbuat adil terhadap putri Abu Quhafah.”
Aisyah berkata,” Zainab terus berbicara dan menyindirku. Sedangkan aku hanya diam dan menunggu isyarat dari Rasulullah. Ketika aku menangkap isyarat Rasulullah meangizinkan aku untuk membantah dan membela diri. Maka aku langsung membantah ucapan Zainab sampai dia benar-benar terdiam. Lalu rasulullah bersabda,” Sesungguhnya dia adalah Putri Abu Bakr.”[14]
Itulah kepandaian Aisyah dalam berdebat dan membela diri. Meskipun begitu beliau tetap menunggu restu dan isyarat dari Rasulullah untuk menbela dirinya. Kita bisa meneladaninya dan menjadikan suri tauladan yang baik dalam mu’amalah keseharian kita.

I.       Kecerdasan Aisyah dibidang kesehatan dan medis
Hisyam bin Urwah menceritakan dari ayahnya yang berkata,” Sungguh aku telah bertemu Aisyah dan aku tidak lebih pintar darinya, hal-hal yang fardhu, sunnah, syair, yang paling banyak meriwayatkan, sejarah Arab, ilmu nasab, dan kedokteran. Maka aku bertanya,”Wahai bibi, kepada siapa anda belajar ilmu kedokteran.” Maka beliau menjawab,”Ketika aku sakit, aku perhatikan gejala-gejalanya, dan aku mendengar dariorang-orang sakit lalu aku menghafalnya.”

J.      Kecerdasan Aisyah sebagai Pendamping suami
Dalam kehidupan rumah tangga ini Aisyah menjadi guru bagi wanita seantero dunia sepanjang masa. Beliau mengajarkan untuk bergaul dengan suaminya dengan sebaik-baik cara. Mengajarkan bagaimana mendatangkan kebahagiaan dihati suaminya dan menyingkirkan segala sesuatu yang menyusahkan suami dari segala rintangan da’wah di jalan Allah.
Beliau juga istri yang paling baik jiwanya, pemurah, bersabar bersama Rasulullah dalam menghadapi kefakiran dan rasa lapar hingga beberapa hari lamanya tidak terlihat asap mengepul dari dapur beliau. Beliau hanya makan kurma dan air.
Ketika kemewahan dunia berpihak kepada kaum muslimin, dan beliau diberi seratus dirham, beliau langsung menshadaqahkan kepada fakir miskin. Kekayaan tidak membuatnya congkak, dan kemiskinan tidak membuat beliau berkecil hati. Beliau juga tidak suka untuk mengganggu tidur Raslullah, bahkan saat beliau ditusuk Abu Bakr dengan jarinya kepinggang beliau dan Rasulullah tidur dipangkuannya.  
K.    Kecerdasan Emotional Ketika Menghadapi Haditsul Ifki
Aisyah yang suci -putri dari sahabat Nabi yang jujur- ditimpa musibah paling besar yang mungkin menimpa perempuan bermartabat sepertinya. Ia dituduh berbuat zina. Alangkah berat ujian yang ia terima. Tuduhan itu tidak hanya beredar di kalangan terbatas keluarga dan sahabat dekat, tetapi beredar ke masyarakat dan dibumbui dengan sejumlah propaganda yang licik.
Istri seorang Rasul yang sangat disegani sekaligus dicinta oleh ummat dituduh telah melakukan zina. Zina yang dipandang sebagai aib dan dosa besar bagi setiap perempuan, terlebih jika dilakukan oleh istri Nabi, maka hal tersebut sungguh menjadi suatu masalah dan ujian yang berat bagi ‘Aisyah. Hanya orang dengan kepribadian matang, tangguh dan cerdas seperti ‘Aisyah yang dapat menanggung ujian tersebut dan mampu menemukan solusi sehingga dapat melewati cobaan dengan baik. Tentu wanita muslimah di jaman sekarang pun dapat mengambil hikmah, meneladani sikap dan tindakan ‘Aisyah ketika menghadapi masalah dan ujian yang dihadapinya.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang sikap dan cara-cara ‘Aisyah dalam menyelesaikan masalah, ada baiknya mengulas sedikit mengenai definisi masalah. Manusia hidup tentu akan bertemu dengan masalah. Hal tersebut seperti bagian dari skenario yang ditentukan Allah baik untuk pembelajaran maupun untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya.
Tanpa sadar kadang masalah yang datang dapat menyita pikiran kita. Disinilah diperlukan sikap dan pengetahuan agar dapat menghadapi masalah dan menemukan solusi yang tepat dan tentunya tidak semakin menjerumuskan kepada masalah lain. Dan yang lebih utama, bagaimana bersikap dan bertindak menghadapi masalah sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah.
Terkadang untuk menyelesaikan masalah butuh waktu, namun terkadang masalah dapat selesai dengan cepat. Bagaimanakah ibunda ‘Aisyah menghadapi persoalannya kala itu?
Persoalan yang dihadapi ‘Aisyah adalah berita bohong. Para kaum munafik menyebarluaskan isu tentang kasus perzinaan ‘Aisyah dengan Shafwan bin Mu’aththal. Ketika pulang dari sebuah peperangan, ‘Aisyah terlambat dari rombongan. Ia pulang diantar Shafwan dan menaiki untanya. Setelah itu isu tentang perzinaan ini pun menyebar luas, laksana api yang dengan cepat membakar rerumputan kering.
Persoalan ‘Aisyah kala itu ada dua hal, pertama, ‘Aisyah mendapati dirinya sendirian karena sudah ditinggal rombongan pasukan. Kedua, ketika isu ini beredar di luar, ia tidak mengetahui bahkan tidak terlintas di dalam pikirannya sama sekali. Lantas apakah yang dilakukan ‘Aisyah untuk menghadapi dua persoalan tersebut?
Harus diketahui bahwa sebuah persoalan tidak akan berarti jika orang yang tertimpa atau memiliki hubungan dengan persoalan tersebut tidak menyadarinya. Begitu pun dengan ‘Aisyah, ia sadar betul akan adanya masalah yang sedang dihadapi. Ketika kembali dari mencari kalung yang hilang dan mendapati rombongan pasukan sudah pergi meninggalkannya, ‘Aisyah sadar kalau ia sedang dalam masalah. Ini persoalan pertama.
Sedangkan terhadap persoalan kedua, dimana ia dituduh melakukan zina, ‘Aisyah segera merasa kalau sedang ada masalah ketika diberitahu Ummu Misthah tentang isu yang sedang beredar di masyarakat. Pada awalnya ‘Aisyah tidak merasakan hal itu. Maka ia heran atas celaan Ummu Misthah terhadap anaknya, dan ia pun membelanya karena Misthah termasuk salah satu sahabat yang ikut dalam perang badar.
Ibunda kita ‘Aisyah mampu menahan emosinya di saat menghadapi persoalan yang menimpanya. Padahal situasi yang ia alami kala itu sangat mencekam. Tertinggal sendirian oleh rombongan pasukan di medan perang. Dan ia pun tetap dapat mengontrol dirinya ketika mendengar isu yang sesungguhnya dapat membuatnya tertekan. Tentu saja ‘Aisyah kaget dan limbung atas isu-isu yang tersebar luas menyangkut dirinya. Namun meskipun begitu, ‘Aisyah tetap sabar karena mengingat firman Allah,
“Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (buatku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. (Yusuf [12]:18)
Ketegaran hati yang dimiliki ‘Aisyah tercermin dengan selalu memohon perlindungan Allah melalui doa, shalat, zikir, berbaik sangka kepada Allah dan umat muslim yang terkait dengan isu tentang dirinya, serta mengharap datangnya kebaikan. Sisi keimanan secara umum juga sangat berpengaruh dalam hal ini, sehingga keimanan harus tetap dijaga pada setiap fase penyelesaian masalah.Semua inilah yang dilakukan oleh ‘Aisyah. Meskipun isu-isu itu mampu membuat ‘Aisyah terpukul, tapi ia tetap tidak kehilangan akal sehat.
Terhadap persoalan pertama, ‘Aisyah menyimpulkan kalau rombongan pasukan memang sudah meninggalkannya, dan ia tertinggal sendirian. Hal ini membuat ‘Aisyah mengkhawatirkan diri sendiri kalau sampai meninggal dunia, mendapat musibah, atau mengalami tindak kekerasan. Sedangkan terhadap persoalan kedua, ‘Aisyah sudah menyimpulkan dan mengetahuinya. Isu yang beredar saat itu adalah ia dituduh berbuat zina. ‘Aisyah sudah memikirkan tuduhan tersebut dan konsekuensi yang mungkin timbul karenanya.
‘Aisyah memikirkan solusi yang mungkin berguna untuk menyelesaikan persoalannya. Yang terbersit dalam benak ‘Aisyah waktu itu adalah sejumlah hal berikut:
1.      Menyusul rombongan pasukan. Tapi ia tidak memiliki kendaraan, sedang malam sudah gelap dan ia pun rasanya tidak mungkin berjalan sendirian
2.      Tetap berada di tempat semula sambil bersembunyi
3.      Pergi ke tempat lain
4.      Menunggu di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian mereka akan kembali lagi ke tempat itu. Sebab apabila rombongan tahu kalau ia tidak ada, tentu mereka akan segera kembali ke tempat semula untuk mencari.
5.      Mencari seseorang yang mungkin tertinggal dari rombongan seperti yang ia alami, atau menunggu seseorang yang mengikuti rombongan pasukan dari jauh.
Sedangkan terhadap persoalan kedua, yang terbersit pada benak ‘Aisyah adalah;
1.      Membela diri
2.      Menyerahkan hal itu kepada Rasul, sementara ia tetap berada di rumahnya. Namun sepertinya ‘Aisyah melihat kalau Rasulullah terpengaruh dengan isu tersebut, di samping isunya sudah menyebar luas di masyarakat
3.      Pulang ke rumah bapak ibunya, bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah
4.      Menerapkan solusi paling tepat di antara solusi-solusi yang ada
‘Aisyah memilih untuk tetap berada di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian dari mereka kembali lagi untuk menjemput. Benar saja, Shafwan datang. Waktu itu, ‘Aisyah menyangka kalau Shafwan memang diutus rombongan untuk menjemputnya. Oleh karena itu, ‘Aisyah langsung menaiki unta Shafwan tanpa berbicara sedikit pun.  Dan karena anggapan seperti ini juga, ‘Aisyah tidak pernah terbetik dalam pikirannya bakal ada isu-isu miring tentang dirinya. Sebab ia menyangka bahwa Shafwan memang diutus rombongan untuk mencari dan membawanya menyusul rombongan.
Sedangkan mengenai masalah tuduhan zina, ‘Aisyah meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang ke rumah keluarganya. Sebab persoalan ini butuh kejelasan lebih lanjut selagi belum turun wahyu yang menjelaskannya. Selain itu, menghadapi persoalan semacam ini juga butuh kepala dingin agar bisa berpikir tenang. Kepulangan ‘Aisyah ke rumah orangtuanya mengandung banyak himah dan kecerdikan. Oleh karena itu, Rasul pun segera memenuhi keinginan ‘Aisyah tersebut.
Inilah cara cerdas yang dilakukan oleh ibunda kita Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu anha yang selalu mengedepankan iman dalam menghadapi masalah dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Semoga kita bisa mengambil teladan yang suci dari beliau.
L.     Waktu Wafat Ummul Mu’minin
M.   Sepeninggal beliau lahirlah banyak ulama’-ulama’ terkemuka dan semakin banyak pula generasi-generasi yang meneliti celah-celah kehidupan beliau untuk dijadikan pelajaran bagi para penerus penjaga risalah Islam yang menginginkan kemuliaan dibawah naungan ilmu dan iman hingga hari kiamat kelak. Beliau wafat pada malam Selasa tanggal 17 Ramadhan tahun 57 Hijrah disaat beliau berumur 66 tahun.[15]
N.    Diakhir episode perjalanan hidupnya yang panjang dan diisi dengan ibadah, kezuhudan, dan mengukir hidupnya sebagai ahli fiqih Rabbani, serta memberikan tauladan dan mewariskan keilmuan bagi generasi penerusnya, Ibunda kita telah pergi menuju ketinggian dan kemuliaan disisi Rabbul ‘Izzati. Beliau kembali ke Rafiqul A’la untuk beristirahat dan menghadap kepada Allah. Semoga Allah mengampuni, membalas semua jasanya, serta meridhainya.


 IV.            PENUTUP
Setelah menyelami lembaran kehidupan Ummul Mu’minin Aisyah binti Abu Bakr yang penuh dengan pengabdian, dan pengorbanan kepada Islam. Dan mengerahkan segala upaya dalam hidupnya untuk mendalami segala bidang keilmuan langsung dari sumbernya yang jernih dan memberikan tauladan yang baik bagi generasi setelahnya, kita dapat melihat betapa agungnya lembaran kehidupan beliau.
Kita bisa belajar kepada beliau bagaimana cara mengendalikan hati ketika ujian yang terberat datang mengahmpirinya. Serta ketabahan dan kesabaran yang luar biasa yang terpancar dari jiwa beliau yang mulia. Kita juga belajar dari beliau tentang metode belajar yang telah menggunakan segala waktu dan keadaan untuk dijadikan sebagai sarana belajar. Sehinnga kita bisa menyumbangkan pengetahuan dan keilmuan kepada ummat manusia dan mengembalikan kejayaan Islam yang sempat pudar beberapa puluh terakhir ini.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran serta menjadikan beliau sebagai sosok idola dalam kehidupan ini serta mampu mengobarkan semangat kita dalam mencari dan menuntut ilmu serta mengajarkannya kepada generasi sesudah kita. Sehingga kita mewariskan kepada mereka warisan yang sangat bermanfaat dalam kehidupan dan menjadi amal jariyah bagi kita semua.
Wallahu a’lam bish-shawab





[1] QS. Al-Ahzab:34
[2] Al-Mujadilah: 11
[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Adiy dan Thabraniy dalam kitab Al-Kabiir dari Anas. Juga diriwayatkan oleh Thabraniy dalam kitab Ash-Shaghir dan Al-Khatib Al-Baghdadiy dari Husain bin Ali. Thabraniy juga meriwayatkan dalam kitab Al-Ausath dari Ibnu Abbas. Tamam juga meriwayatkan dari Ibnu Umar dan Baihaqi meriwayatkan dari Abu Sa’id. Al-Albanimenyatakan hadits ini shahih dalam kitab “Shahihul Jami’ no. 3913.
[4] Diriwayatkan Al-Bukhariy no. 97, kitab Al-Ilm, dan Muslim no. 154 dalam kitab Al-Iman.
[5] Wanita-wanita Mulia disekitar Nabi, Abu Salsabil Muhammad Abdul Hadi hal. 86
[6] Diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalam Ath-Thabaqat (8 /276,277), Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Fathul Baari’ (8/207)
[7] Wanita-wanita Mulia disekitar Nabi, Abu Salsabil Muhammad Abdul Hadi hal. 90

[8] Wanita-Wanita Mulia di Sekitar Nabi, Abu Salsabil Muhammad Abdul Hadi hal. 90
[9] Al-Ahzab: 28-29
[10] 35 Sirah Shahabiyah Mahmud Al-Mishri jil. 1 hal. 125
[11] 35 Sirah Shahabiyah jil. 1 Mahmud Al-Mishri hal. 190
[12] Qowa-id Ushuliyah Al-Mustanbathah min Fiqhi Sayyidati Aisyah, Doktorah Du’a Mazin
[13] 35 Sirah Shahabiyah Mahmud Al-Mishri jil.1 hal. 194
[14] 35 Sirah Shahabiyah Mahmud Al-Mishri jil. 1 hal. 129
[15] Wanita-wanita Teladan dimasa Rasulullah, Mahmud Mahdi Al-Istambuli dan Mushthafa Abu Nashr Asy-Syalabiy hal 53.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar