Minggu, 01 Desember 2013

Wanita Mulia Sepanjang Zaman




                               I.            Asma’ binti Abu Bakr
Pemilik Dua Selendang
Nama beliau adalah Asma’ binti Abu Bakr bin Abu Quhafah. Beliau  adalah ibu dari Abdullah bin Zubair bin at-Taimiyah. Ibunya bernama Qutailah.
Asma’ berasal dari keluarga mulia. Lahir di kota Makkah sekitar 27 tahun sebelum hijrah.  Dibesarkan dirumah ayahnya dan banyak belajar akhlaq mulia dari ayahnya. Karena ayahnya adalah manusia terbaik yang lahir dimuka bumi setelah para Nabi dan Rasul. Menempati urutan pertama dari sepuluh orang yang dijamin masuk syurga. Yaitu Abu Bakar ash-Shidiq. Adiknya termasuk salah satu Ummul Mu’minin aisyah radhiyallahu anha. Kakek dari jalur ayahnya adalah Abu Quhafah, memeluk Islam dan mendapat kehormatan sebagai sahabatRasulullah. Neneknya Ummul Khair, Salma binti Shakhr juga masuk Islam. Ketiga bibinya dari jalur ayahjuga masuk Islam. Mereka adalah Ummu Amir, Qribah dan Ummu Farwah. Mereka semua adalah putri Abu Quhafah.
Suami Asma’ adalah Hawariy Rasulullah sekaligus sepupu beliau, salah satu dari sepuluh orang yang mendapat jaminan masuk syurga, serta orang pertama yang menghunus pedang dijalan Allah, yaitu  Zubair bin Awwam.
Putranya seorang khalifah, Abdullah bin Zubair yang dikenal sebagai ahli ibadah dan ahli jihad paling terkemuka. Saudara laki-laki dari jalur ayah adalah Abdurrahman bin Abu Bakar (saudara kandungnya Aisyah) adalah seorang ksatria gagah berani dan ahli panah yang handal.
Dari gambaran diatas, bisa kita lihat bahwa keluarga tersebut telah menghimpun empat generasi dalam satu bingkai keimanan dan menjadi shahabat Rasulullah. Tak ada keluarga lain dimasanya yang menyamainya apalagi menandinginya. Inilah sebik-baik keluarga yang tumbuh didalamnya sosok Asma’ dengan penuh asupan gizi keimanan.         
Ketika Rasulullah memulai da’wahnya dan Islam mulai menyinari jazirah Arab, ayahnyalah yang pertama kali menyambut da’wah islam dan memeluknya dari kalngan laki-laki dewasa. Dan Asma’ menempati urutan ke 18. Dengan demikian, Asma’ termasuk orang yang disebut Allah dalam firman-Nya,
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ -١٠٠-
Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah Rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah Menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.
(QS. At-Taubah:100)
Ketika kekerasan kaum musyrikin Makkah menjadi-jadi, Rasulullah mengizinkan mereka untuk hijrah ke Madinah. Setelah itu Allah mengizinkan Rasul-Nya untuk hijrah ke Madinah bersama Abu Bakr Ash-Shidq.
Abdullah bin Abu Bakr menghabiskan waktu siangnya bersama kaum Quraisy untuk menggali informasi tentang pembicaraan mereka, dan pada saat malam tiba mengabarkannya kepada Rasulullah.
Sedangkan peran Asma’ dalam perkara ini cukup besar. Awalnya ketika Rasullullah memdapat izin utnuk hijrah ke Madinah, beliau datang ke rumah Abu Bakr dan berkata,” Aku mendapat izin untuk keluar Makkah.” Abu Bakr menjawab,” Biar ayah dan ibuku yang menjadi tebusanku, apakah aku menemanimu?” Rasulullah menjawab,” Ya.”
Keluarga Abu Bakr malam itu menyiapkan perbekalan untuk Rasulullah dan ayahnya. Asma’ berkata kepada ayahnya, “ Aku tidak membawa sesuatu untuk mengikat perbekalan selain ikat pinggangku ini.” Abu Bakr berkata, “ Kalau begitu belahlah selendangmu menjadi dua.” Asma’ pun mengikuti saran ayahnya,  dari situlah ia  dijuluki “Dzatun Niqathain”.

Asma’ menikah dengan Zubair bin ‘Awwam. Dari pernikahan itu lahirlah seorang putra yang bernama Abdullah bin Zubair. Asma’ menuturkan,” Ketika aku menikah, Zubair tidak memiliki harta benda, budak, atau barang apapun, kecuali kuda. Aku selalu memberi makan dan merawatnya. Aku menumbuk kurma yang sudah matang, memberinya makan dan minum. Selain  itu aku juga menjahit tempat minum sendiri dan membuat adonan roti. Sebenarnya aku tidak pandai membuat adonan roti, namun wanita-wanita Anshor membantuku membuat roti. Mereka benar-benar wanita yang tulus.”
Asma’ sudah biasa mengambil kurma dari kebun Zubair hasil pemberian Rasulullah. Padahal jarak dari rumah ke kebun sekitar 2/3 farsakh. Begitulah hari-hari yang dilaluinya hingga suatu saat Abu Bakr mengirimkan seorang pembantu untuknya. 
Ketika Asma’ hijrah ke Madinah, ia dalam kondisi mengandung putranya Abdullah. Dan melahirkan Abdullah di Baqa’.
Suatu hari Qutailah ibu Asma’ pernah berkunjung untuk menjenguknya, sedangkan masih dalam keadaan musyrik. Asma’ enggan menemuinya sampai ia bertanya kepada Rasulullah, setelah Rasulullah memerintahkan untuk menerimanya ia mempersilahkan ibunya untuk masuk dan menerima pemberian ibunya.
Asma’ adalah sosok yang sangat dermawan, cerdas, bijak, sabar, tegar,  ahli ibadah dan taat kepada Allah, serta menjaga silaturrahim. Asma’ juga sabar menghadapi kebengisan Al-Hajjaj yang menyalib putranya diatasa tiang gantungan.
Dan akhirnya wafat pada tanggal 17 Jumadil Awwal, tahun 73 Hijriyah. Semoga Allah meridhainya dan menempatkan di Firdausil A’laa sebagai peristirahatan terakhirnya.
Kesimpulan hukum yang bisa diambil adalah
Sabar dalam menghadapi suaminya yang keras.
                            II.            Asma’ binti Umais
Wanita Pelaku Dua Hijrah dan Menikah dengan 3 Syuhada’
Namanya adalah Asma’ binti Umais bin Ma’d bin Al-Harits bin Harits bin Ka’ab bin Malik bin Quhafah yang dijuluki dengan nama Ummu Abdillah.  Asma’ binti Umais termasuk salah satu Ahwat Mu’minat. Mereka  adalah: Maimunah, Ummu Fadhl, Salma dan Asma’. Ibunya ialah Hindun binti Auf bin Zuhair bin Al-Harits Al-Kinaaniyah. Istri dari Ja’far bin Abu Thalib, shahabat yang medapat julukan “ Pemilik Dua Sayap”.
Asma’ mengikuti jejak langkah Rasulullah serta beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sebelum kaum muslimin masuk kerumah Arqom bin Abil Arqom. Asma’ binti Umais  adalah istri dari seorang pahlawan Islam yaitu Ja’far bin abi Thalib.  Quraisy mengutus delegasinya intuk megektradisi kaum  Muslimin yang iI hijrah ke negrinya, namun  Najasyi menolak untuk mengembalikan mereka ke negrinya setelah mengetahui kebenaran dan keteguhan kaum Muslimin dalam menjalankan agama Allah Azza wa Jalla. Dan beberapa saat kemudian Najasyi sendiri masuk Islam. Ini sangat menggembirakan kaum muslimin. Di negri inilah Asma’ melahirkan 3 putra, Aun, Muhammad dan Abdullah. Dan mereka hidup dengan aman dibawah perlindungan Najasyi selama 10 tahun. Setelah itu pulang ke Madinah dengan rasa rindu yang menggelora ingin segera bertemu dengan Rasulullah karena sekian lama berpisah dengan Rasulullah.
Seketika tiba di Madinah Rasulullah bergembira dengan kedatangan rombongan yang pulang dari Habasyah. Ketika Asma’ berkunjung ke rumah Hafshah, tidak lama kemudian Umar beerkunjung juga ke rumah Hafshah. Umar bertanya,” Siapakah ini?” Asma’ pun menjawab,” Asma’ binti Umais.” Umar bertanya lagi,” Apakah kamu wanita yang hijrah ke Habasyah?” Asma’ menjawab,” Benar.” Umar berkata lagi,” Kami hijrah terlebih dahulu, dan kami lebih pantas dekat dengan Rasulullah daripada kalian.”
Mendengar penyataan ini Asma’ marah seraya berkata,” Tidak bisa. Demi Allah, ketika kami hijrah kalian bersama Rasulullah. Sementara kami berada dinegri asing karena dimusuhi. Semua itu kami lakukan karena Allah dan perintah Rasulullah. Demi Allah, aku tidak akan menyentuh makanan sampai aku member itahu hal ini kepada Rasulullah.”
Setelah bertemu Rasulullah dan mengabarkan kejadian tersebut. Rasulullah pun lalu bersabda,” Dia tidak lebih berhak dekat denganku daripada kalian. Dia dan orang yang hijrah bersamanya mendapat satu pahala hijrah, sedangkan kalian mendapatkan dua  pahala hijrah.” Maka tak ada yang lebih menyenangkan bagi mereka selain ungkapan Rasulullah tersebut.
Pada saat Perang Mu’tah tahun 8 H Rasulullah menyiapkan pasukan untuk menyerang daerah Mu’tah. Panglima tertinggi dalam pasukan ini adalah Zaid bin Haritsah. Lalu Rasulullah bersabda,” Jika Zaid gugur, maka penggantinya adalah Ja’far. Jika Ja’far gugur maka penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah.”
Paasukan muslimin menyerang pasukan musuh yang berjumlah 200.000 pasukan sedangkan jumlah mereka ada 3.000 tentara. Ketika pasukan bertemu, Zaid menyerbu dan menerobos pasukan musuh hingga gugur. Melihat panglima pertama gugur, Ja’far mengambil alih bendera dan terus menyerang hingga gugur juga. Saat itu Rasulullah di Madinah mengabarkan kepada keluarganya bahwa Ja’far telah gugur. Asma’ langsung menghambur ke kamar dan menjerit histeris, sehingga bnyak wanita yang berdatangan untuk menenangkan.
Setelah perginya Ja’far, Asma’ dipinang oleh Abu Bakar setelah habis masa iddah berlalu. Lalu abu Bakr menikahinya. Setelah Abu Bakr wafat, Ali menikahinya.
Asma’ wafat setelah wafatnya Ali, tetapi tidak diketahui kapan tepatnya. Ada yang mengatakan bahwa Asma’ meninggal sekitar tahun 40 H / 661 M.  Semoga Allah meridhoinya.
                         III.            Habibah binti Kharijah
Istri Abu Bakr Ash-Shidq
Beliau adalah salah satu istri Abu Bakar Ash-Shidiq. Namanya adalah Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair bin Malik bin Amru bin Al-Qais bin Malik bin Tsa’labah bin Ka’ab bin Al-Khuruujahbin Al-Harits bin Al-Khuruj.
Suatu ketika Rasulullah sakit, Abu Bakar izin kepada Rasulullah untuk memanggil istrinya untuk membantu mengobati Rasulullah dan Rasulullahpun mengizinkannya. (HR. Abu Dwud, Tirmidzi, Nasa’i)
Ketika Abu Bakr menjelang wafat, berkata kepada Habibah,” Perasaanku  mengatakan bahwa kamu nnti akan melahirkan seorang bayi perempuan.” Dan ternyata benar apppa yang dikatakan Abu Bakar. Setelah lahir Aisyah memberi nama Ummu Kultsum. Ketika beranjak dewasa dinikahi oleh Thalhah bin Ubaidillah dan melahikan 2 anak yang diberi nama Zakariya dan Aisyah.
                         IV.            Hamnah binti Jahsyi
Namanya adalah Hamnah binti Jahsyi Al-Asadiyah. Kunyahnya adalah Ummu Habibah. Dia adalah sepupu Nabi Shallallah alaihi wasallam. Saudara dari Zainab binti Jahsyi. Ibunya adalah Umaimah binti Abdul Muthalib.
Hamnah menikah dengan Mush’ab bin ‘Umair. Suaminya gugur di perang Uhud. Setelah itu dinikahi oleh Thalhah bin Ubaidillah. Dari pernikahan ini dia melahirkan Muhammad, Imron, dan Muhammad.
Hamnah pernah mengalami istihadhah lalu mendatangi Nabi dan meminta fatwa tentang dirinya. “Ketika itu Rasulullah sedang berada di rumah saudaraku Zainab. Aku berkata,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita istihadhah yang sangat deras sekali. Apakah itu menghalangiku dari sholat dan puasa?” Rasulullah pun menjawab,” Sumbatlah dengan kapas. Karena ia mengurangi darah yang keluar. Aku berkata,” Bagaimana jika lebih banyak dari itu?” Rasulullah menjawab,”Ambillah kain dan sumbatlah dengan kain itu.” Aku menjawab,” Sesungguhnya ia mengalir dengan sangat deras.” Rasulullah bersabda lagi,” Aku beri kepadamu dua solusi. Mana yang kamu sanggup, kamu yang lebih tahu. Sesungguhnya ia adalah hentakan syaithan. Maka haidhlah kamu enam atau tujuh hari lalu mandilah. Dan sucilah selama dua puluh tiga atau dua puluh empat hari. Akhirkanlah shalat zhuhur dan awalkanlah shalat ashar, dengan sekali mandi. Dan akhirkanlah sholat maghrib dan awalkanlah sholat isya’ dengan sekali mandi. Lalu sholat shubuhlah dengan sekali mandi. Sholat dan puasalah sebagaimana kamu orang yang suci.” Dua solusi itu sangat luar biasa bagiku.
Ibnu Hajar berkata,” Putri Jahsyi semuanya mengalami istihadhah.”
Hamanah juga pernah terlibat dalam peristiwa haditsul ifki. Tapi akhirnya dia bertaubat, dan Allah mengampuni dan meneerima taubatnya.
Putra Hamnah  Muhammad bin Thalhah gugur pada perang Jamal bersama ayahnya. Semoga Allah merahmati Hamnah binti Jahsyi.
                            V.            Qutailah
Qutailah Binti Sa’ad, berasal dari Bani Amir Bin Luay. Istri sahabat Abu Bakar ra. Ibu dari Abdullah dan Asma’. Abu Bakar pernah menikahi Qutailah binti Abd al-Uzza bin Abd bin As’ad pada masa Jahiliyyah dan dari pernikahan tersebut lahirlah Abdullah dan Asma’.
Ibunya bernama Qutailah binti Abdul 'Uzza bin As'ad bin Jabir.  Qutailah telah diceraikan oleh ayahnya  pada masa jahiliyyah. Qutailah binti Abdul Uzza diceraikan karena tidak mau memeluk Islam.
Ja’far menyebutkan dalam kitabnya kumpulan “shohabiya”, Beliau mengatakan bahwa, “Qutailah adalah wanita yang terakhir masuk Islamnya.”
Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Ibuku menemuiku dan dia dalam keadaan musyrik pada masa Quraisy, dan pada masa pemerintahan Nabi SAW aku meminta izin kepada Beliau SAW, “Ibuku menemuiku karena rindu denganku, apakah aku boleh menyambutnya dan menerima pemberiannya ? Beliau menjawab, “Tentu, dia adalah ibumu.” Abu musa mengatakan bahwa tidak ada riwayat yang menyatakan keislamannya, banyak yang mengatakan bahwa ia musyrik. Ini menunjukkan bahwa alasan Asma’ memintakan izin kepada Nabi pastinya karena ia belum masuk Islam, jika ia  ingin masuk Islam, tidaklah butuh kepada perizinannya Nabi SAW.
Tafsir dari surat Al-Mumtahanah ayat 8.
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu.Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
Dari Amir bin Abdullah bin Zubair, dari ayahnya, dia berkata, “Qutailah binti ‘abdul ‘Uzza bin Sa’ad dari bani Malik bin Hisl menemui anaknya Asma’ binti Abu Bakar.”
Abdullah bin Zubair berkata, “Qutailah binti Abdul ‘Uzza datang menemui putrinya Asma’ binti Abu Bakar dengan membawa beberapa hadiah berupa daging biawak, keju, dan mentega dan ia seorang musyrik, maka Asma’ enggan untuk menerima hadiah tersebut dan mempersilahkan masuk, hingga ia menemui Aisyah dan memintanya untuk menangakan hal ini kepada Rasullah, kemudian Allah menurunkan ayat berikut:
لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ
 hingga akhir ayat, lalu beliau memerintahkannya untuk tetap menerima hadiah tersebut dan mempersilahkannya masuk ke rumahnya.”
Yaitu ketika meminta perdamaian kepada Nabi untuk tidak memerangi mereka.
Kandungan hukum yang tertera dalam sejarah kehidupan Asma’ adalah diperbolehkan menyamnbung kekerabatan dengan seorang musyrik yang tidak memerangi Allah dan Rasul-Nya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar