I.
Asma’ binti Abu Bakr
Pemilik
Dua Selendang
Nama
beliau adalah Asma’ binti Abu Bakr bin Abu Quhafah. Beliau adalah ibu dari Abdullah bin Zubair bin
at-Taimiyah. Ibunya bernama Qutailah.
Asma’
berasal dari keluarga mulia. Lahir di kota Makkah sekitar 27 tahun sebelum
hijrah. Dibesarkan dirumah ayahnya dan
banyak belajar akhlaq mulia dari ayahnya. Karena ayahnya adalah manusia terbaik
yang lahir dimuka bumi setelah para Nabi dan Rasul. Menempati urutan pertama
dari sepuluh orang yang dijamin masuk syurga. Yaitu Abu Bakar ash-Shidiq.
Adiknya termasuk salah satu Ummul Mu’minin aisyah radhiyallahu anha. Kakek dari
jalur ayahnya adalah Abu Quhafah, memeluk Islam dan mendapat kehormatan sebagai
sahabatRasulullah. Neneknya Ummul Khair, Salma binti Shakhr juga masuk Islam.
Ketiga bibinya dari jalur ayahjuga masuk Islam. Mereka adalah Ummu Amir, Qribah
dan Ummu Farwah. Mereka semua adalah putri Abu Quhafah.
Suami
Asma’ adalah Hawariy Rasulullah sekaligus sepupu beliau, salah satu dari
sepuluh orang yang mendapat jaminan masuk syurga, serta orang pertama yang
menghunus pedang dijalan Allah, yaitu
Zubair bin Awwam.
Putranya
seorang khalifah, Abdullah bin Zubair yang dikenal sebagai ahli ibadah dan ahli
jihad paling terkemuka. Saudara laki-laki dari jalur ayah adalah Abdurrahman
bin Abu Bakar (saudara kandungnya Aisyah) adalah seorang ksatria gagah berani
dan ahli panah yang handal.
Dari
gambaran diatas, bisa kita lihat bahwa keluarga tersebut telah menghimpun empat
generasi dalam satu bingkai keimanan dan menjadi shahabat Rasulullah. Tak ada
keluarga lain dimasanya yang menyamainya apalagi menandinginya. Inilah
sebik-baik keluarga yang tumbuh didalamnya sosok Asma’ dengan penuh asupan gizi
keimanan.
Ketika
Rasulullah memulai da’wahnya dan Islam mulai menyinari jazirah Arab, ayahnyalah
yang pertama kali menyambut da’wah islam dan memeluknya dari kalngan laki-laki
dewasa. Dan Asma’ menempati urutan ke 18. Dengan demikian, Asma’ termasuk orang
yang disebut Allah dalam firman-Nya,
وَالسَّابِقُونَ
الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم
بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ
تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ -١٠٠-
Dan
orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara
orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik, Allah Rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah
Menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.
(QS.
At-Taubah:100)
Ketika
kekerasan kaum musyrikin Makkah menjadi-jadi, Rasulullah mengizinkan mereka
untuk hijrah ke Madinah. Setelah itu Allah mengizinkan Rasul-Nya untuk hijrah
ke Madinah bersama Abu Bakr Ash-Shidq.
Abdullah
bin Abu Bakr menghabiskan waktu siangnya bersama kaum Quraisy untuk menggali
informasi tentang pembicaraan mereka, dan pada saat malam tiba mengabarkannya
kepada Rasulullah.
Sedangkan
peran Asma’ dalam perkara ini cukup besar. Awalnya ketika Rasullullah memdapat
izin utnuk hijrah ke Madinah, beliau datang ke rumah Abu Bakr dan berkata,” Aku
mendapat izin untuk keluar Makkah.” Abu Bakr menjawab,” Biar ayah dan ibuku
yang menjadi tebusanku, apakah aku menemanimu?” Rasulullah menjawab,” Ya.”
Keluarga
Abu Bakr malam itu menyiapkan perbekalan untuk Rasulullah dan ayahnya. Asma’
berkata kepada ayahnya, “ Aku tidak membawa sesuatu untuk mengikat perbekalan
selain ikat pinggangku ini.” Abu Bakr berkata, “ Kalau begitu belahlah
selendangmu menjadi dua.” Asma’ pun mengikuti saran ayahnya, dari situlah ia dijuluki “Dzatun Niqathain”.
Asma’
menikah dengan Zubair bin ‘Awwam. Dari pernikahan itu lahirlah seorang putra
yang bernama Abdullah bin Zubair. Asma’ menuturkan,” Ketika aku menikah, Zubair
tidak memiliki harta benda, budak, atau barang apapun, kecuali kuda. Aku selalu
memberi makan dan merawatnya. Aku menumbuk kurma yang sudah matang, memberinya
makan dan minum. Selain itu aku juga
menjahit tempat minum sendiri dan membuat adonan roti. Sebenarnya aku tidak
pandai membuat adonan roti, namun wanita-wanita Anshor membantuku membuat roti.
Mereka benar-benar wanita yang tulus.”
Asma’
sudah biasa mengambil kurma dari kebun Zubair hasil pemberian Rasulullah.
Padahal jarak dari rumah ke kebun sekitar 2/3 farsakh. Begitulah hari-hari yang
dilaluinya hingga suatu saat Abu Bakr mengirimkan seorang pembantu untuknya.
Ketika
Asma’ hijrah ke Madinah, ia dalam kondisi mengandung putranya Abdullah. Dan
melahirkan Abdullah di Baqa’.
Suatu
hari Qutailah ibu Asma’ pernah berkunjung untuk menjenguknya, sedangkan masih
dalam keadaan musyrik. Asma’ enggan menemuinya sampai ia bertanya kepada
Rasulullah, setelah Rasulullah memerintahkan untuk menerimanya ia
mempersilahkan ibunya untuk masuk dan menerima pemberian ibunya.
Asma’
adalah sosok yang sangat dermawan, cerdas, bijak, sabar, tegar, ahli ibadah dan taat kepada Allah, serta
menjaga silaturrahim. Asma’ juga sabar menghadapi kebengisan Al-Hajjaj yang
menyalib putranya diatasa tiang gantungan.
Dan
akhirnya wafat pada tanggal 17 Jumadil Awwal, tahun 73 Hijriyah. Semoga Allah meridhainya
dan menempatkan di Firdausil A’laa sebagai peristirahatan terakhirnya.
Kesimpulan
hukum yang bisa diambil adalah
Sabar
dalam menghadapi suaminya yang keras.
II.
Asma’ binti Umais
Wanita Pelaku Dua Hijrah dan Menikah dengan 3 Syuhada’
Namanya
adalah Asma’ binti Umais bin Ma’d bin Al-Harits bin Harits bin Ka’ab bin Malik
bin Quhafah yang dijuluki dengan nama Ummu Abdillah. Asma’ binti Umais termasuk salah satu Ahwat
Mu’minat. Mereka adalah: Maimunah, Ummu
Fadhl, Salma dan Asma’. Ibunya ialah Hindun binti Auf bin Zuhair bin Al-Harits
Al-Kinaaniyah. Istri dari Ja’far bin Abu Thalib, shahabat yang medapat julukan
“ Pemilik Dua Sayap”.
Asma’
mengikuti jejak langkah Rasulullah serta beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
sebelum kaum muslimin masuk kerumah Arqom bin Abil Arqom. Asma’ binti
Umais adalah istri dari seorang pahlawan
Islam yaitu Ja’far bin abi Thalib. Quraisy
mengutus delegasinya intuk megektradisi kaum
Muslimin yang iI hijrah ke negrinya, namun Najasyi menolak untuk mengembalikan mereka ke
negrinya setelah mengetahui kebenaran dan keteguhan kaum Muslimin dalam
menjalankan agama Allah Azza wa Jalla. Dan beberapa saat kemudian Najasyi
sendiri masuk Islam. Ini sangat menggembirakan kaum muslimin. Di negri inilah
Asma’ melahirkan 3 putra, Aun, Muhammad dan Abdullah. Dan mereka hidup dengan
aman dibawah perlindungan Najasyi selama 10 tahun. Setelah itu pulang ke
Madinah dengan rasa rindu yang menggelora ingin segera bertemu dengan
Rasulullah karena sekian lama berpisah dengan Rasulullah.
Seketika
tiba di Madinah Rasulullah bergembira dengan kedatangan rombongan yang pulang
dari Habasyah. Ketika Asma’ berkunjung ke rumah Hafshah, tidak lama kemudian
Umar beerkunjung juga ke rumah Hafshah. Umar bertanya,” Siapakah ini?” Asma’
pun menjawab,” Asma’ binti Umais.” Umar bertanya lagi,” Apakah kamu wanita yang
hijrah ke Habasyah?” Asma’ menjawab,” Benar.” Umar berkata lagi,” Kami hijrah
terlebih dahulu, dan kami lebih pantas dekat dengan Rasulullah daripada
kalian.”
Mendengar
penyataan ini Asma’ marah seraya berkata,” Tidak bisa. Demi Allah, ketika kami hijrah
kalian bersama Rasulullah. Sementara kami berada dinegri asing karena dimusuhi.
Semua itu kami lakukan karena Allah dan perintah Rasulullah. Demi Allah, aku
tidak akan menyentuh makanan sampai aku member itahu hal ini kepada
Rasulullah.”
Setelah
bertemu Rasulullah dan mengabarkan kejadian tersebut. Rasulullah pun lalu
bersabda,” Dia tidak lebih berhak dekat denganku daripada kalian. Dia dan orang
yang hijrah bersamanya mendapat satu pahala hijrah, sedangkan kalian
mendapatkan dua pahala hijrah.” Maka tak
ada yang lebih menyenangkan bagi mereka selain ungkapan Rasulullah tersebut.
Pada
saat Perang Mu’tah tahun 8 H Rasulullah menyiapkan pasukan untuk menyerang
daerah Mu’tah. Panglima tertinggi dalam pasukan ini adalah Zaid bin Haritsah.
Lalu Rasulullah bersabda,” Jika Zaid gugur, maka penggantinya adalah Ja’far.
Jika Ja’far gugur maka penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah.”
Paasukan
muslimin menyerang pasukan musuh yang berjumlah 200.000 pasukan sedangkan
jumlah mereka ada 3.000 tentara. Ketika pasukan bertemu, Zaid menyerbu dan
menerobos pasukan musuh hingga gugur. Melihat panglima pertama gugur, Ja’far
mengambil alih bendera dan terus menyerang hingga gugur juga. Saat itu
Rasulullah di Madinah mengabarkan kepada keluarganya bahwa Ja’far telah gugur.
Asma’ langsung menghambur ke kamar dan menjerit histeris, sehingga bnyak wanita
yang berdatangan untuk menenangkan.
Setelah
perginya Ja’far, Asma’ dipinang oleh Abu Bakar setelah habis masa iddah
berlalu. Lalu abu Bakr menikahinya. Setelah Abu Bakr wafat, Ali menikahinya.
Asma’ wafat
setelah wafatnya Ali, tetapi tidak diketahui kapan tepatnya. Ada yang mengatakan
bahwa Asma’ meninggal sekitar tahun 40 H / 661 M. Semoga Allah meridhoinya.
III.
Habibah binti Kharijah
Istri
Abu Bakr Ash-Shidq
Beliau
adalah salah satu istri Abu Bakar Ash-Shidiq. Namanya adalah Habibah binti
Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair bin Malik bin Amru bin Al-Qais bin Malik bin
Tsa’labah bin Ka’ab bin Al-Khuruujahbin Al-Harits bin Al-Khuruj.
Suatu
ketika Rasulullah sakit, Abu Bakar izin kepada Rasulullah untuk memanggil
istrinya untuk membantu mengobati Rasulullah dan Rasulullahpun mengizinkannya.
(HR. Abu Dwud, Tirmidzi, Nasa’i)
Ketika
Abu Bakr menjelang wafat, berkata kepada Habibah,” Perasaanku mengatakan bahwa kamu nnti akan melahirkan
seorang bayi perempuan.” Dan ternyata benar apppa yang dikatakan Abu Bakar.
Setelah lahir Aisyah memberi nama Ummu Kultsum. Ketika beranjak dewasa dinikahi
oleh Thalhah bin Ubaidillah dan melahikan 2 anak yang diberi nama Zakariya dan Aisyah.
IV.
Hamnah binti Jahsyi
Namanya
adalah Hamnah binti Jahsyi Al-Asadiyah. Kunyahnya adalah Ummu Habibah. Dia
adalah sepupu Nabi Shallallah alaihi wasallam. Saudara dari Zainab binti
Jahsyi. Ibunya adalah Umaimah binti Abdul Muthalib.
Hamnah
menikah dengan Mush’ab bin ‘Umair. Suaminya gugur di perang Uhud. Setelah itu
dinikahi oleh Thalhah bin Ubaidillah. Dari pernikahan ini dia melahirkan
Muhammad, Imron, dan Muhammad.
Hamnah
pernah mengalami istihadhah lalu mendatangi Nabi dan meminta fatwa tentang
dirinya. “Ketika itu Rasulullah sedang berada di rumah saudaraku Zainab. Aku
berkata,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita istihadhah yang
sangat deras sekali. Apakah itu menghalangiku dari sholat dan puasa?”
Rasulullah pun menjawab,” Sumbatlah dengan kapas. Karena ia mengurangi darah
yang keluar. Aku berkata,” Bagaimana jika lebih banyak dari itu?” Rasulullah
menjawab,”Ambillah kain dan sumbatlah dengan kain itu.” Aku menjawab,”
Sesungguhnya ia mengalir dengan sangat deras.” Rasulullah bersabda lagi,” Aku
beri kepadamu dua solusi. Mana yang kamu sanggup, kamu yang lebih tahu.
Sesungguhnya ia adalah hentakan syaithan. Maka haidhlah kamu enam atau tujuh
hari lalu mandilah. Dan sucilah selama dua puluh tiga atau dua puluh empat
hari. Akhirkanlah shalat zhuhur dan awalkanlah shalat ashar, dengan sekali
mandi. Dan akhirkanlah sholat maghrib dan awalkanlah sholat isya’ dengan sekali
mandi. Lalu sholat shubuhlah dengan sekali mandi. Sholat dan puasalah
sebagaimana kamu orang yang suci.” Dua solusi itu sangat luar biasa bagiku.
Ibnu Hajar
berkata,” Putri Jahsyi semuanya mengalami istihadhah.”
Hamanah
juga pernah terlibat dalam peristiwa haditsul ifki. Tapi akhirnya dia
bertaubat, dan Allah mengampuni dan meneerima taubatnya.
Putra
Hamnah Muhammad bin Thalhah gugur pada
perang Jamal bersama ayahnya. Semoga Allah merahmati Hamnah binti Jahsyi.
V.
Qutailah
Qutailah
Binti Sa’ad, berasal dari Bani Amir Bin Luay. Istri sahabat Abu Bakar ra. Ibu
dari Abdullah dan Asma’. Abu Bakar pernah menikahi Qutailah binti Abd al-Uzza bin Abd
bin As’ad pada masa Jahiliyyah dan dari pernikahan tersebut lahirlah Abdullah
dan Asma’.
Ibunya
bernama Qutailah binti Abdul 'Uzza bin As'ad bin Jabir. Qutailah telah diceraikan oleh ayahnya pada masa jahiliyyah.
Qutailah binti Abdul Uzza diceraikan karena tidak mau memeluk Islam.
Ja’far
menyebutkan dalam kitabnya kumpulan “shohabiya”, Beliau mengatakan bahwa,
“Qutailah adalah wanita yang terakhir masuk Islamnya.”
Asma’
binti Abu Bakar berkata, “Ibuku menemuiku dan dia dalam keadaan musyrik pada
masa Quraisy, dan pada masa pemerintahan Nabi SAW aku meminta izin kepada
Beliau SAW, “Ibuku menemuiku karena rindu denganku, apakah aku boleh menyambutnya
dan menerima pemberiannya ? Beliau menjawab, “Tentu, dia adalah ibumu.” Abu musa
mengatakan bahwa tidak ada riwayat yang menyatakan keislamannya, banyak yang
mengatakan bahwa ia musyrik. Ini menunjukkan bahwa alasan Asma’ memintakan izin
kepada Nabi pastinya karena ia belum masuk Islam, jika ia ingin masuk Islam,
tidaklah butuh kepada perizinannya Nabi SAW.
Tafsir dari surat Al-Mumtahanah ayat 8.
“Allah
tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang
tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari
kampung halamanmu.Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
Dari Amir
bin Abdullah bin Zubair, dari ayahnya, dia berkata, “Qutailah binti ‘abdul
‘Uzza bin Sa’ad dari bani Malik bin Hisl menemui anaknya Asma’ binti Abu Bakar.”
Abdullah
bin Zubair berkata, “Qutailah binti Abdul ‘Uzza datang menemui putrinya Asma’
binti Abu Bakar dengan membawa beberapa hadiah berupa daging biawak, keju, dan
mentega dan ia seorang musyrik, maka Asma’ enggan untuk menerima hadiah
tersebut dan mempersilahkan masuk, hingga ia menemui Aisyah dan memintanya
untuk menangakan hal ini kepada Rasullah, kemudian Allah menurunkan ayat
berikut:
لا
يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ
hingga
akhir ayat, lalu beliau
memerintahkannya untuk tetap menerima hadiah tersebut dan mempersilahkannya
masuk ke rumahnya.”
Yaitu
ketika meminta perdamaian kepada Nabi untuk tidak memerangi mereka.
Kandungan hukum yang tertera dalam
sejarah kehidupan Asma’ adalah diperbolehkan menyamnbung kekerabatan dengan
seorang musyrik yang tidak memerangi Allah dan Rasul-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar