Kamis, 25 Desember 2014

Tugas Mulia seorang Istri
Akhwatiy....
Setelah menunaikan amanah sebagai hamba Allah secara umum, ternyata tak cukup sampai disitu saja. Masih banyak amanah lain menunggu untuk diselesaikan lagi. Betapa besar jasa dan peran seorang wanita sebagai seorang istri. Inilah dambaan seluruh wanita didunia ini tanpa terkecuali. tanpa pandang bulu. Baik yang yang merasakan hidup sederhana maupun bergelimang kemewahan. Karena memang itulah fithrah yang Allah ciptakan dalam diri manusia.
Akhwat mu’minat...
Sudah menjadi sunnatullah, bahwa Allah menciptakan wanita sebagai pendamping bagi lelaki untuk menyempurnakan hidupnya. Untuk menyejukkan hatinya, untuk menguatkan langkahnya dalam menapaki beratnya dalam menempuh jalan yang dilaluinya. Bukan untuk mematikan semangat juangnya dalam menegakkan bangunan Islam yang besar ini. Memberikan dukungan dengan motivasi-motivasi yang mengokohkan kaki untuk melangkah di jalan Allah, bukan menjadi penghambat dan penghalang yang mengikatnya dengan rantai kelemahan. Karena dibelakang seorang lelaki hebat, pasti ada peran besar wanita disana.
Akhwatiy fiel Islam....
 Maka sudah selayaknya, bagi setiap istri untuk memuliakan suaminya, memperlakukan dengan sebaik-baiknya, menyejukkan matanya, menjadi penawar dan penenang hati setelah merasakan penat dan beratnya gangguan dan goncangan yang dahsyat selama diluar. Karena hal tersebut mampu menajamkan hati dan pikirannya, mengembalikan semangat yang sudah sempat luntur sebagian.  Maka tak salah, jika ia ibarat charger yang mengisi kembali kekuatan di hati suaminya dengan asupan gizi berupa energi-energi positive.
Akhwatiy fie ri’ayatillah...
Marilah kita berlindung kepada Allah, agar tidak menjadi istri yang menuntut suaminya untuk mengejar gemerlapnya dunia beserta isinya. Yang menjadikan dunia sebagai barometer kesuksesan dalam hidup dan tujuan utamanya. Memaksa suami menjadi mesin uang yang harus memenuhi segala keinginannya diluar batas kesanggupannya, hingga menjauhkan suaminya dari ketaatan kepada Allah. Bila perlu, kita sisihkan sebagian kecil rizki kita untuk memenuhi kebutuhan rumah dan anak-anak kita. Sehingga kaum lelaki sanggup menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan sempurna. Dengan demikian, secara tak langsung kita telah memberikan kontribusi yang besar dalam menopang tegaknya bangunan Islam yang besar ini. Namun jangan lupa kita ingatkan bahwa tanggung jawab keluarga tetaplah didalam genggaman suami.
Akhwatiy fiel aqidah...
Marilah kita berlomba-lomba untuk menjadi perhiasan terindah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah dalam haditsnya yang mulia. Dengan meneladani para ummahatul mu’minin serta para wanita-wanita mulia yang hidup didalam madrasah nubuwah, serta tokoh-tokoh wanita dunia yang Allah jamin kesucian diri, hati, dan akhlaqnya. Semoga Allah menuntun kita dalam menggapai ridha-Nya. In uriidu illal ishlah, wa maa tufiqiy illa billah....   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar